Guru: Bukan Calon TBC Tapi Profesi yang Not Only Story, But Also History

Dunia Pendidikan


Senin, 11 Agustus 2014 - 15:47:32 WIB | dibaca: 1019 pembaca



Oleh: Novianti Islahiah

.., saat masih di bangku SD setiap orang yang bertanya apa cita-citaku? Kujawab selalu dengan tegas, GURU! Itulah efek positif dari televisi yang saat itu dirasakan langsung oleh seorang bocah berusia 10 tahun. Akibat melihat salah satu tayangan iklan seorang guru yang mengajar di dalam hutan, yang kemudian kukenal sebagai Mbak Butet Manurung. Gurunya anak Suku Rimba di Jambi sana.

Siapa sangka dari jalan yang terlihat seperti hutan, di dalamnya ada kehidupan. Memang jauh berbeda dengan yang selama ini kurasakan di Jawa barat. Di mana-mana terlihat sawit, karet, jalanan yang rusak, jembatan yang tidak bisa dibilang sebagai jembatan, sampai monyet-monyet yang bergelantungan di pohon.

Pertanyaanku pun terjawab. Terpencil dan tertinggal bukan hanya kategori untuk tempat yang sangat jauh, berada di hutan, dan sekolah yang hampir rubuh. Namun bagaimana pola pikir siswa dan guru yang selama ini ada. Ternyata siswa di sekolah memiliki motivasi yang sangat rendah untuk belajar. Mereka selalu merasa tidak mampu, lebih senang mencari uang dengan bekerja di ladang atau pajak, dan banyak meremehkan para gurunya. Sedangkan gurunya kebanyakan langsung menghakimi bahwa siswa tidak bisa, bodoh, dan kadang main cubit atau pukul. Sehingga terlihat iklim yang tidak terlalu baik. Dari sanalah muncul pikiranku, mungkin dengan dikirimkannya para guru SM-3T ke daerah ini bisa sedikitnya mengubah iklim itu..

Dengan landasan kurangnya motivasi membaca siswa terhadap pelajaran dan buku-buku yang berkualitas, kuajukan sebuah proposal dengan judul “Gerakan Cinta Anak Negeri” dengan harapan sekolah dapat mendapat bantuan buku berkualitas baik dalam buku pelajaran maupun buku fiksinya.. Beberapa postingan terus kukerjakan. Tiap minggu masih belum ada tanggapan. Sampai akhirnya, salah seorang alumni IKIP yang juga merupakan salah seorang dosen kimia di Unnes Pak Cepi Kurniawan menanggapi postingan-ku. Kebetulan beliau sedang berada di Jepang, sehingga proposalku beliau presentasikan di sana. Akhirnya donator pertama yang kuperoleh yaitu dari PPI Ibaraki Jepang. Tepat tanggal 14 Januari 2013, akhirnya mentari ini lambat laun bersinar setelah sebelumnya menghadapi malam yang kelam.  Seperti kemala yang mengalahkan balam dan kabut di pagi hari. Pada hari yang sama pula, sahbatku di MA negeri Cibadak tanpa diduga mentransfer uang juga untuk bantuan buku tersebut. Kemudian teman-teman kuliah teteh di STIS, angkatan 49 mentransfer juga sejumlah uang yang merupakan sisa uang kas mereka.  Luar biasa saat itu, harapan dalam dada ini terus bergejolak. Meskipun baru bisa satu kardus buku dibeli, aku yakin suatu hari perpustakaan di SMAN 1 Indra Makmu ini akan semakin penuh dengan koleksi buku bermanfaat. Sehingga berlian-berlian di SMA ini dapat lebih termotivasi lagi untuk bisa lebih baik. Mudah-mudahan program lainnya bisa berjalan dengan lancar juga.

Tidak terasa setahun aku berada di Aceh. Semakin berada di daerah terpencil ini semakin mengerti dan mencari tahu apa yang direncanakan Allah padaku. Seakan Allah menegurku untuk mengingat kembali mengapa aku ingin jadi guru? Bukan karena materi yang dikejar, bukan karena penghargaan dari masyarakat yang nanti diterima, namun mengajar adalah panggilan hatiku sejak kecil dulu. Panggilan hati untuk mengabdi, memberi pendidikan berkualitas secara merata dan menemukan berlian-berlian terpendam di daerah terpencil. Ini merupakan tugas berat yang harus kujawab. Meskipun untuk berangkat ke sekolah, kami harus melewati jembatan yang dapat dikatakan dikatakan tidak layak, dan jalanan yang cukup licin jika hujan. Bahkan tidak jarang saat hujan lebat, jalanan menjadi banjir dan tidak dapat lewat. Ternyata Allah Maha baik. Mengingatkanku melalui caranya tersendiri. Mengajar bukan berarti mengejar materi. Namun bagaimana kepuasaan batin saat melihat para anak-anakku paham apa yang kita ajarkan, termotivasi untuk melakukan, dan dapat bermimpi setinggi-tingginya untuk cita-citanya. Saya teringat pesan ibu dan Winda, hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.  Setidaknya ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kuambil. Jika banyak dari para fresh graduate yang mengambil S2 itu biasa. Namun yang berani untuk terjun ke daerah terpencil, dengan mengikuti program SM-3T ini masih jarang. Setidaknya yang langsung S2, mereka pasti bisa membuat sebuah cerita (story), namun belum tentu membuat sebuah sejarah (history). Meskipun saya masih sadar, malu jika kita merasa sudah memberikan pengabdian kepada mereka di bagian terpelosok Indonesia. Padahal apa yang kita lakukan masih sangat kecil.

Karena pada dasarnya, profesi di dunia ini ada dua. Profesi guru, dan bukan guru. Mengapa guru seolah mendapatkan tempat yang sangat spesial? Karena profesi guru sangat berbeda. Selain mendapatkan gajidari profesi yang diembannya, in sya Allah di akhirat pun akan ada pahala yang disiapkan Allah, karena doa-doa yang sering dilantunkan oleh para muridnya. Jika dulu guru dianggap sebagai profesi yang masa depannya akan menjadi calon TBC karena anggapan gajinya yang begitu kecil, sudah seharusnya persepsi itu dihilangkan. Karena profesi guru adalah profesi mulia yang tidak hanya membuat sebuah cerita pengabdian tapi bagaimanan mengukir sejarah mencetak generasi emas bangsa, Indonesia khususnya untuk ke depannya.

Kisah Selengkapnya kunjungi Blog Novianti Islahiah di http://avenasativa2927.wordpress.com

[Novianti Islahiah, Juara 2 Kompetition Blog Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Liputan6.com 2014 adalah Alumni SM-3T Angkatan II yang ditugaskan di SMAN 1 Indra Makmu-Aceh, Sedang Menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Kimia di Universitas Pendidikan Indonesia(UPI)]


Berita Terkait Dunia Pendidikan / SM3T

Kurikulum 2013 Gunakan Konsep Piramida Pembelajaran Aktif

Pengumuman Bagi Peserta Prakondisi SM-3T Angkatan IV Tahun 2014 LPTK Universitas Tanjungpura

Penerimaan Peserta Program SM-3T Angkatan IV Tahun 2014

Pencapaian Hasil Belajar

Sosok Utuh Guru Professional