FKIP Untan Mencari Model Pembelajaran di abad ke-21

Kabar Kampus


Selasa, 10 November 2015 - 09:57:02 WIB | dibaca: 1284 pembaca



(Bahan diskusi para dosen pembelajaran  FKIP Untan,  Oktober 2015)
Oleh: Leo Sutrisno

Pendahuluan
Suatu perjalanan reflektif tentang kualitas pendidikan di Indonesia mengawali sajian ini. Dilanjutkan dengan pencarian berbagai konteks keberadaan pendidikan di tengah-tengah  perubahan di era abad ke-21. Dan, diakhiri dengan pilihan-pilihan yang mungkin dapat dilakukan FKIP-Untan sebagai salah satu institusi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan agar ‘outcome’-nya tetap selamat melayarai samudra kehidupan hidup di abad ke-21 yang penuh dengan gelombang-gelobang besar perubahan.

Berbagai lembaga survai internasional melaporkan bahwa pencapaian pendidikan di Indonesia sangat tidak menggembirakan. Dibandingkan dengan 82 negara yang lain, indeks kreatifitas orang Indonesia sebesar 0.04. Nilai ini berada pada Nomor 2 terendah, satu tingkat di atas Kambodia. Harga ini tentu jauh lebih rendah daripada Indeks Kreativitas Malaysia  (0.43).  dan tentu saja sangat jauh dari Swedia yang mempunyai Indeks kreativitas tertinggi (0.92)[1]. Data 2015, indeks kreativitas Indonesia adalah 0.20 yang berada pada urutan ke-115 dari 139 negara yang di survai[34] dan menempatkan pada kedudukan paling rendah di Asia Tenggara[35].

Global Innovation Index tahun 2013 menempatkan Indonesia pada ranking ke-85 dari 143 negara yang berpartisipasi. Sekali lagi Malaysia menempati posisi yang jauh lebih tinggi, yaitu pada urutan ke-32. Jauh di atas lagi ditempati oleh Singapura (ke-80) dan Swis (ke-1). Vietnam berada pada posisi ke-76 dan Thailand pada posisi ke-57[2]. Data terbaru ranking ke-87/143 (2014)[3] dan pada ranking ke-97/141 (2015)[4]

The Learning Curve, sebuah lembaga survai yang bermarkas di London, 2012, melaporkan ‘Global index of cognitive skills and educational attainment’ orang Indonesia pada posisi z = -3.03 dan pada berada pada ranking terendah dari 40 negara yang berpartisipasi. Posisi ini berada pada kelompok 10 terendah bersama-sama dengan: Turki (z = -1.24), Colombia (z = -1.46), Thailand (z = -1.46), Mexiko (z = -1.60), dan Brazil (z = -.1.65).  Sedangkan posisi paling atas berturut-turut ditempati: Finlandia, Korea Selatan, Hongkong, Jepang dan Singapura [5].

The Program International Students Assessment-PISA, (2012) menempatkan rerata hasil belajar 5000 siswa Indonesia antara usia 15 tahun 3 bulan dan 16 tahun 2 bulan pada urutan ke-64 di bidang matematika dan IPA, serta pada urutan ke-61 di bidang membaca di antara 65 negara anggota OECD serta mitra-nya[6].

Banyak penjelasan yang muncul akan pencapaian pendidikan Indonesia menurut hasil-hasil penelitian ini. Sebagian di antaranya mempertanyakan tentang kriteria yang digunakan serta validitas dan reliabilitas data yang tersedia. Namun, temuan PISA[6] mungkin cukup baik jika direfelksikan, yaitu hampir 96 siswa indonesia mangaku “Being happy at school” dan mereka ini juga “Lack of hard work and in control for success”. Prof. M. Nuh mantan Mendikbud menyatakan “Hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman maka perlu penyesuaian kurikulum”[7] . Selanjutnya, Menteri menyatakan “Perlu dirumuskan kurikulum berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal .... untuk meningkatkan kreativitas peserta didik”[8].

Kurikulum sudah dirumuskan, yaitu Kurikulum 2013. FKIP-Untan, sebagai salah satu lembaga kependidikan yang menghasilkan para guru masa depan sudah semestinya juga melengkapi para mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan pembelajaran yang diinginkan Menteri tersebut. FKIP perlu menghasilkan para guru yang mampu meningkatkan kreativitas para siswanya. Apa yang dapat kita lakukan?

Masyarakat Indonesia dalam berbagai konteks
Sebagai bangsa, masyarakat Indonesia tidak berada di sebuah pulau yang terpisah dari sekitarnya. Indonesia berada di Bumi ini dengan gelombang perubahan dalam berbagai konteks.

Konteks 1: Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika
Dunia dewasa ini mengalami gelombang perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika yang sangat luar biasa. Dalam sekejab data dan informasi dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sebaliknya, setiap orang kebanjiran data dan informasi yang tanpa batas. Friedman menyebutnya sebagai ‘the world is flat’ [9]. Masyarakat dewasa ini memasuki gelombang kerja kolaboratif global. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Bagaimana kita dapat masuk ke sana?[10]. 
Apa yang terjadi di sekitar kita? Yang terjadi adalah sebuah proses internalisasi , vandalisme, seksualisme, verbalisme/banalisme, baik fisik maupun fisik, virtual dan imajinatif ke dalam sebagian besar orang Indonesia.  Negara yang ‘diwakili’ oleh sekolah formal, agama yang diwakili oleh para pemuka agama dan lembaga-lembaganya, serta adat yang diwakili oleh orang tua dan keluarga seolah tidak mampu ‘melawan’ proses ini. Sebaliknya, justru kekuatan tradisional ini  menjadi pecundang. Sebaliknya, media sosial sungguh sangat lentur, dan dirasa sangat demokratis dan terbuka bagi siapa saja dan apa saja. Karena itu, keberadaannya jauh lebih menarik.  Media sosial telah menjadi ‘pendidik’ baru yang sangat disenangi secara luas. Kini muncul pendidik baru, media sosial. Dunia maya menjadi lingkungan ‘sekolah’ baru [11].

Konteks 2: masa transisi
Masyarakat Indonesia di awal abad ke-21 mengalami berbagai transisi[12] yaitu transisi sosio-agama, sosio-budaya, sosio-ekonomi, transisi politik ketatanegaraan, dan transisi alih teknologi. Akibatnya banyak orang Indonesia yang mengalami krisis identitas serta kevakuman moral. Moral tradisional telah ditinggalkan sedangkan moral modern belum terbentuk.
Menurut Haryatmoko (2010) masrakat Indonesia juga mengalami era dominasi penuh muslihat [13]. Dominasi-dominasi semacam ini menjadi akar kekerasan dan diskriminasi. Pertanyaan yang muncul adalah: Bagaimana kita dapat melawan dominasi-dominsi seperti ini?. Jawabnya, kita mesti mengembangkan pendidikan yang mampu menumbuhkan kepribadian moral yang kuat di kalangan siswa. Yaitu dengan menumbuhkan tiga prinsip dasar moral: baik terhadap semua orang, adil, dan hormat pada diri sendiri. Di samping itu; kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, keberanian serta kemandirian moral mesti ditempatkan sebagai nilai-nilai keutamaan[14].

Konteks 3: pergeseran pola hidup
Khusus sebagian masyarakat kalimantan Barat, dalam tiga dasa warsa terkhir ini juga mengalami pergeseran pola hidup, dari kehidupan  di pinggir sungai ke jalan raya. Pergeseran pola hidup ini tentu diiringi dengan pegeseran tata nilai dan tentu saja perilaku [15],. Masyarakat mesti memperoleh bimbingan yang memadai[16].

Konteks 4: pendidikan di abad ke-21
Secara internasional, pendidikan di era abad ke-21 menuntut sejumlah karater yang perlu dimiliki baik sebagai guru maupun sebagai siswa. Andrew Churches (2012) menyebutkan sejumlah karakter yang harus dimiliki guru. Di antaranya adalah: sebagai seorang yang visioner, berani mengambil resiko, dan tentu saja juga seorang ‘leader’ dan panutan[17]. Sementara itu, para siswa di abad ke-21 dituntut untuk mampu mejadi seorang ‘creator’, ‘communicator’ dan ‘collaborator’ [18]. Mereka mesti kreatif, komunikatif dan kolaboratif.

Konteks 5: Masa depan Indonesia yang menjanjikan 2030
McKinsey Global Institute, Sept 2012, meluncurkan sebuah laporan dengan judul Archipelago Economy:  Unleashing Indonesia’s Potential. Dalam   laporan itu disebutkan bahwa pada tahun 2012 Indonesia sudah menjadi negara terbesar ke-16 dalam peta perokomian dunia. Diperkirakan pada tahun 2030 akan berada pada urutan ke-7. Pada tahun itu, 2030, dipelukan sekitar 113 juta tenaga trampil. Mereka ini akan menjadi bagian dari sekitar 71% penduduk produktif[19]. Pertanyaan yang mesti dijawab adalah ketrampilan dalam hal apa yang perlu dipersiapkan.

Konteks 6: Tradisi pembelajaran absolutisme
Hingga dewasa ini, sistem pembelajaran di Indonesia lebih didominasi oleh tradisi pembelajaran behaviorisme. Dalam tradisi ini, belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkahlaku dari keadaan belum tahu ke tingkahlaku setelah tahu. Tingkahlaku setelah tahu itu disebut tingkahlaku yang benar. Karena, tingkahlaku ini dirumuskan dan ditetapkan oleh kelompok dominan, para ahli dalam bidangnya masing-masing. Agar tingkahlaku yang ditetapkan oleh kelompok dominan ini ‘sampai’ pada siswa maka sistem pembelajarannya bersifat instruksional, satu arah, dari guru ke siswa.Selain itu, sistem evaluasi hasil belajar lebih cenderung mendorong siswa agar mengungkapkan kembali apa yang sudah diterima dari para gurunya.

Dalam tradisi ini, berlaku anggapan bahwa hanya ada satu yang benar, yaitu sesuatu yang datang dari ‘atas’, dari para guru, dari para ahli, dari kelompok dominan. Hampir tidak ada ruang bagi sesuatu yang tidak berasal dari ‘atas’. Dengan perkataan lain, ada sebuah dominasi kebenaran pengetahuan[20]. Pertanyaan reflektifnya adalah sampai kapan dominasi kebenaran semacam ini akan dipertahankan?

Konteks 7: kebijakan KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA
Pasal 9 Ayat 1 dari Permendikbud No.49 tahun 2014 menyebutkan bahwa tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran untuk setiap program pendidikan di perguruan tinggi dirumuskan dengan mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran lulusan dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia –KKNI. KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor[21].

Kompetensi seseorang berada di tingkat lebih lajut dari pengethuan, ketrampilan serta afeksi yang dimilikinya. Kompetensi sarjana Strata-1 diharapkan mampu menggunakan keahliannya dalam cakupan tim monodisiplin  untuk mengerjakan sesuatu secara rutin. Komptensi sarajana Strata-2 diharapkan mampu menggunakan keahliannya dalam cakupan tim multidisiplin untuk berinovasi dalam bidangnya masing-masing. Kompetensi tertinggi (level 9) dimiliki oleh sarjana Strata-3. Diharapkan mereka mampu menggunakan keahliannya dalam cakupan tim transdisiplin untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang yang lebih luas. Sebagai tambahan para lulusan PPG diharapkan mampu menggunakan keahliannya dalam cakupan  tim monodisiplin untuk menyelesaikan suatu masalah rutin. Rumusan kompetensi seperti ini masih sangat umum. Karena itu, rumusan tersebut perlu dioprasionalkan oleh tingat unit-unit program yang ada di FKIP ini.

Usaha yang mungkin dilakukan

Pada bagian pertama disajikan posisi hasil pendidikan Indonesia di panggung dunia. Posisinya berada pada lapis terbawah. Pada bagian kedua disajikan situasi yang dijalani oleh masyarakat dunia. Ada yang menjadi tantangan tetapi ada juga yang menjadi halangan. Pada bagian ketiga ini disajikan usaha-usaha yang mungkin dapat dilakukan untuk membekali para lulusan tetap ‘hidup selamat’ di kemudian hari.

Usaha 1: mengembangkan kearifan lokal yang unggul
Ada enam teori yang telah dikembangkan untuk menyandingkan lokalitas dan globalitas. Pertama adalah  Theory of Amoeba. penerapan teori ini dalam pembelajaran akan menghasilkan ‘A flexible and open person without any local identity’. Kedua adalah Theory of Fungus yang menghasilkan  ‘A person equipped of certain types of global knowledge’. Ketiga adalah  Theory of DNA yang dapat menghasilkan lulusan sebagai ‘A person with locally and globally mixed elements’. Keempat adalah Theory of Crystal yang menjadikan lulusan sebagai ‘A local person remains a local person with some global knowledge’. Kelima adalah Theory of Birdcage. Teori ini jika diterapkan dalam pembelajaran akan menghasilkan lulusan ‘Local person with bounded global  outlook’. Dan, yang terakhir adalah Theory of Tree. Penerapan teori ini akan menghasilkan ‘A local person with international outlook’[22].. Bagi Indonesia, kiranya teori yang keenam layak untuk diadosi[23].

Usaha 2: Menumbuhkan Five Discovery Skills
Dalam Kurikulum 2013 dikembangkan pembelajaran yang membekali para siswa dengan lima pengalaman pokok[24], yaitu: a. mengamati; b. menanya; c. mengumpulkan informasi; d. mengasosiasi; dan e. Mengkomunikasikan. Kebijakan ini didasarkan oleh pandangan Menteri Depdikbud, Prof. M Nuh di kala itu yang mengadaptasi temuan Jeff Deyer, Hal Gregensen, dan Clayton M. Christensen (2011) dalam bukunya The Innovator’s DNA.
Mereka menemukan lima ketrampilan inkuari yang membuat para innovator kelas dunia kesohor. Kelima ketrampilan itu adalah ‘quetioning, observing, experimenting, networking, dan associating’[25]. Sebaiknya kelima ketrampilan inkuiri yang ditemukan Deyer dkk ini yang ditumbuhkan di kalangan para mahasiswa (bukan lima pengalaman poko menurut Kurikulum 2013).

Usaha 3: mengintesifkan penerapan Tradisi pembelajaran konstruktivisme
Dalam tradisi pembelajaran konstruktivisme, belajar dipahami sebagai proses aktif peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui interaksinya dengan yang lain. Dalam tradisi konstruktivisme terjadi proses demokratisasi kebenaran (pengetahuan)[26].

Usaha 4: Perubahan paradigma berpikir
Usaha lain yang mungkin dapat dilakukan adalah mempelori perubahan paradigma berpikir yang sedang terjadi secara internasional[27]. Ada delapan paradigma berpikir yang mulai berubah sejak dasa warsa terakhir abad ke-20[29]. Beberapa di antaranya adalah perubahan dari paradigma determinsitik ke paradigma  indeterministik, dari paradigma atomis ke paradigma medan, dan dari  paradigma kompetitif ke paradigma kolaboratif.

Usaha 6: Perubahan sikap
Di awal dasa warsa ini, 2011, Steven R. Covey[30] mengembangkan model bersikap yang diberi nama ‘The 3rd alternative’ yang mengdepankan sinergi ketimbang kompetisi (the 2nd alternative). Pada diri kita semua mesti dibudidayakan untuk bersikap ‘I know who I am’, tetapi juga ‘I know who you are’ dan ‘You are my desire’. Kita semua mesti melakukan perubahan sikap dalam menghadapi orang lain dari ‘aku yang mesti melakukan’ ke ‘ayo kita lakukan secara bersinergi’. Hasilnya, sungguh luar biasa, berlipat ganda.

Usaha 7: mengikuti temuan John Hattie
Pada tahun 2007, John Hattie[31], profesor pendidikan dari Universitas Auckland, Selandia baru (kini menjadi profesor di Universitas Melbourne) selama 15 tahun  mengumpulkan lebih dari 750 meta analisis tentang faktor yang mempangaruhi hasil pendidikan di seluruh dunia. Karya ini mencakup lebih dari 50.000 penelitian yang melibatkan lebih dari 200 juta siswa. Ditemukan 100 faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Karya ini diperbaharui di tahun 2009 yang menghasilkan 30 tambahan faktor[32].

Salah satu temuannya adalah menjawab pertanyaan, mana yang lebih tinggi effect size-nya antara pembaharuan pengajaran dan pembaharuan kondisi kerja. Ia menemukan bahwa effect size perbaikan pembelajaran sebesar 0.68. Nilai ini jauh lebih besar dari pada perbaikan kondisi kerja (0.08). Ada delapan model pembelajaran  yang disarankan. Di antaranya adalah: quality of teaching (0.77), reciprocal teaching (0.74), teacher-student relationships (0.72), providing feedback (0.72), teaching students self-verbalization (0.67), meta-cognition strategies (0.67), direct instruction (0.59) dan  mastery learning (0.57).

Temuan penting lain yang ada baiknya ditelaah lebih jauh adalah fungsi guru, apakah sebagai aktivator atau sebagai fasilitator. Ditemukan bahwa effect size guru sebagai aktivator sebesar 0.60, sekali lagi jauh lebih besar dari pada guru sebagai fasilitator (0.17). yang dapat dilakukan oleh guru yang berfungsi sebagai aktivator adalah reciprocal teaching (0.74), providing feedback (0.72), teaching students self-verbalization (0.67), meta-cognition strategies (0.67), direct instruction (0.59),  mastery learning (0.57), goal-chellening (0.56), frequen of testing (0.56) dan behavioral organiszer (0.41).

Selain itu, siswa juga perlu ditingkatkan kemampuan belajarnya. Ada sejumlah strategi belajara yang mempunyai effect size besar. Di antaranya adalah: Creativity Programs    (0.70), Teaching student self-verbalization    (0.67), Meta-cognition strategies    (0.67), Problem solving teaching    (0.61), Study skills    (0.59), Concept mapping (0.52), dan Motivation on learning    (0.48).

Assessment juga perlu memperoleh perhatian karena mempunyai effect size yang cukup besar. Berikut beberapa di antaranya: Self-report grades (1.44),  Feedback (0.72), Providing formative evaluation to teachers (0.70),  dan Frequent/ Effects of testing (0.46) .

Yang perlu dipertanyakan sehingga perlu klarifakasi lagi atau reduplikasi adalah Teacher training (0.11) dan Teacher subject knowledge (0.12).

Penutup
Jalan panjang untuk membuat kebijakan tidak selalu berarti pembuangan waktu belaka. Namun, prinsip kehati-hatian dan saintifik perlu dilakukan. Kalau, tidak ingin dihasilkan orang-orang buta yang harus mendeskripsikan seekor gajah hanya didasarkan oleh bagian yang dalan jangkauan rabaan mereka[33].  Terima kasih.
“All the darkness in the world cannot extinguish the light of a single candle.” (Francis of Assisi)

Referensi

  1. Martin Prosperity Institute. 2011. Creativity and Prosperity: The Global Creativity Index. http://martinprosperity.org
  2. The Global Innovation Index 2013: The Local Dynamic Innovation. http://www.globalinnovationindex.org
  3. The Global Innovation Index 2014 - WIPO www.wipo.int/edocs/pubdocs/en/economics/gii/gii_2014.pdf
  4. Global Innovation Index 2015 - WIPO www.wipo.int/econ_stat/en/economics/gii/
  5. The Learning Curve 2012 Report  www.thelearningcurve.pearson.com
  6. PISA 2012 Results http://www.oecd.org/pisa
  7. Paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Pengembangan Kurikulum 2013.  Semarang, 4 Mei 2013
  8. Arahan Mendikbud: Pengembangan Kurikulum 2013 Penyegaran Nara Sumber Pelatihan Guru untuk Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta, 26-28 Juni 2013
  9. Thomas L. Friedman, 2005 The world is flat: a brief history of the twenty first century
  10. Leo Sutrisno, 2014a, Teknologi Informasi dan Komunikasi. Terpanggil untuk mengkomunikasikan kasih? Bahan diskusi bagi Pertemuan Pemuka Agama Kristen se-Kalimantan Barat, 28-29Juni.
  11. Leo Sutrisno 2015a. Pendidik baru dan orang tua yang ingkar. Pontianak Post, September
  12. Leo Sutrisno, 2006a. Masyarat Indonesia mengalami sejumlah transisi. Bahan untuk diskusi pada pertemuan SKPD Provnsi Kalimantan Barat di Pontianak, November.
  13. Haryatmoko, 2010. Dominasi penuh muslihat: akar kekerasan dan diskriminasi. Jakarta: Obor
  14. Leo Sutrisno, 2011. Pendidikan yang mampu melawan dominasi.  Bahan diskusi untuk BINTEK guru agama Katolik SMA se-Kalimantan Barat. Agustus.
  15. Leo Sutrisno, 1995-6, Mereka-reka Visi Untan. Bahan diskusi untuk Team Penyusun Visi Untan. Okt 1995-Mei 1996.
  16. Leo Sutrisno, 2013. Pendidikan Indonesia akan dibawa kemana? Bahan untuk diskusi Uji Publik Kurikulum 2013 Provinsi Kalimantan Barat, Desember.
  17. Adnrew Churches, 2013, The characteristics of the 21st Educator. allthingslearning.wordpress.com
  18. Quataracameia. The 21st learner. 21c.qataracademy.wikispaces.net
  19. McKinsey Global Institute, Sept 2012, Archipelago Economy:  Unleashing Indonesia’s Potential
  20. Leo Sutrisno. 2006b. Strategi pembelajaran pendidikan agama Katolik. Bahan untuk Bitek guru agama Katolik SD se-Kalbar, Pontianak. Juli.
  21. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2014
  22. Yin Cheong CHENG 2002 Fostering Local Knowledge and Wisdom in Globalized Education: Multiple Theories
  23. Leo Sutrisno, 2014b Peran layanan perpustakaan dalam pengembangan budaya lokal menghadapi MEA 2015. Konggres nasional pustakawan Indonesia, Nov 2014
  24. Leo Sutrisno 2014c Review Kurikulum 2013 Bahan Penyegaran bagi Para Instruktur PLPG Rayon 120, Agustus.
  25. Arahan Mendikbud: Pengembangan Kurikulum 2013 Penyegaran Nara Sumber Pelatihan Guru untuk Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta, 26-28 Juni 2013
  26. Jeff Deyer, Hal Gregensen, dan Clayton M. Christensen (2011) dalam bukunya The Innovator’s DNA. Harvard Business Review Press
  27. Leo Sutrisno, 2014d. Kurikulum 2013: Tradisi behaviorisme vs tradisi konstruktivisme. Arue Monitor Tahun 2: Juni
  28. Leo Sutrisno, 2014e. Dasar-dasar sains jalan menuju ke filsafat ilmu. Bahan ajar Filsafat ilmu prodi pendidikan Biologi, fisika, geografi dan prodi pendidikan kimia FKIP Untan.
  29. Grethe Hooper Hansen. 2001. The Quantum Revolution in Education:Organic Learning presented at the SEAL Conference Canterbury – March/April
  30. Stephen R Covey, 2011. The 3rd Alternative, NY: Free Press
  31. John Hattie, 2007. Developing Potentials for Learning: Evidence, assessment, and progress.niversitas Auckland:   EARLI
  32. John Hattie, 2009. Tomorrow’s Schools, The Mindsets that make the difference in Education.  Universitas Auckland Visible Learning Laboratories
  33. Stephen Few, 2007.  Three Blind Men and an Elephant: The Power of Faceted Analytical Displays. Perceptual Edge
  34. Martin Prosperity Institute. 2015. Creativity and Prosperity: The Global Creativity Index. http://martinprosperity.org
  35. Richard Florida 2015. Creativity in Southeast Asia. Competitiveness and Prosperity July 9,


Berita Terkait Kabar Kampus /

IPK; Mitos atau Realitas

Syukuran Wisuda FKIP Untan Periode 1 Tahun 2015/2016

Kerjasama FKIP UNTAN dan Yayasan Kejayaan Islam Khatulistiwa (YKIK)

Menambah Jam Belajar

Pendidikan Bela Negara