Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

Opini Ilmiah


Senin, 02 Juni 2014 - 11:24:18 WIB | dibaca: 1596 pembaca



Oleh: Aswandi

EFISIEN berkaitan dengan pengelolaan berbagai sumber daya, antara lain; manusia (man), uang (money), sarana prasarana (material) dan waktu (time) adalah prinsip penting dalam setiap penyelenggaraan pendidikan.  

Pentingnya efisien tersebut hingga ada sebuah ungkapan “Efisien atau Mati”. Senada ungkapan di atas, orang bijak mengatakan, “Cara terbaik menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan cara habiskan uang untuk membayar sesuatu yang kurang bermanfaat, seperti membayar mahal mereka yang kurang profesional”. Boleh jadi ada diantara kita pernah memfasilitasi kegiatan yang kurang efisien selama ini. Hal ini tanpa disadari, berarti kita telah menjadi bagian yang disebut “Perusak Bangsa”.

Dalam setiap kegiatan, banyak uang telah dihabiskan, namun tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkan. Hal ini membuktikan bahwa uang bukan segalanya untuk menyelesaikan persoalan. Amerika Serikat mengalokasikan anggaran belanja negara untuk pendidikan sebesar 33,9% , Kanada sebesar 36,3%, dan Norwegia adalah tiga negara tertinggi mengalokasi biaya pendidikannya,namun prestasi akademik atau kinerja siswa tiga negara tersebut rendah, Sementara Finlandia mengalokasi anggaran pendidikan dalam belanja negara hanya sebesar 17,4%, namun prestasi akademik siswanya terbaik di dunia.

Sebagaimana diketahui bahwa, sebuah solusi bagi permasalahan pendidikan di negeri ini adalah negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidiksn nasional. Besaran dana 20% tersebut adalah selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan. Faktanya dilaporkan oleh Bappenas bahwa pemerintah telah memenuhi kewajiban mengalokasikan biaya pendidikan, bahkan lebih dari 20%, tetapi kurang berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Semua ini membuktikan bahwa uang jarang menjadi satu-satunya solusi bagi masalah yang terjadi di sistem pendidikan di semua belahan dunia. Yang jauh lebih penting bagi kinerja pendidikan adalah efisiensi penyelenggaraan pendidikan, antara lain tepat tidaknya pada sasaran atau tujuan. Dalam banyak kesempatan, penulis menegaskan bahwa prinsip efisiensi berteman akrap dengan prinsip efektivitas, artinya jangan sampai efisiensi penyelenggaraan pendidikan meninggalkan prinsip efektivitas yang terkait erat dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri

Dalam kenyataannya, dana pendidikan kurang efisien dan disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa kasus, penulis sampaikan berikut ini; (1) pola pikir atau mindset mereka yang mengurus kebutuhan pendidikan masih bermental proyek atau aku dapat apa?, Selain mental proyek, penyelenggara pendidikan sering kali masih bermental ego sektoral yang seakan-akan semua sarana prasarana yang diberikan pemerintah untuk dikelola secara efektif dan efisien adalah miliknya, padahal tidak demikian. UU No, 12/2912 tentang pendidikan tinggi misalnya, menegaskan bahwa sarana dan prasarana adalah milik bersama yang dapat digunakan secara bersama-sama. Menghadapi fenomena tersebut, penulis menyarankan agar persoalan sarana dan prasarana sebaiknya dikelola secara sentralistik sebagaimana penulis lihat sendiri mekanisme pengelolaan sarana secara sentralistik tersebut telah dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); (2) Kegiatan atau proyek fisik, seperti membangun gedung dan ruang kelas baru lebih diminati atau menarik meskipun akhirnya kegiatan atau proyek tersebut tidak atau kurang dimanfaatkan secara baik dibanding melaksanakan kegiatan atau proyek non fisik, seperti kegiatan pendidikan dan pelatihan guru; (3) cost pembiayaan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah jauh lebih besar atau lebih tinggi dibanding cost pembiayaan  pendidikan yang dikelola oleh masyarakat atau yayasan, Namun prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat/yayasan jauh lebih baik, dalam kasus tertentu prestasi akademik siswa sekolah swasta lebih prestisius. Kenapa sekolah negeri yang didanai melalui APBD/APBN, bersumber dari pajak yang dibayar rakyat ini tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari pada sekolah swasta yang didanai dari jerih payah orang tua murid. Hal ini sudah berjalan bertahun-tahun yang semestnya menjadi pembelajaran bermakna bagi semua pihak, terutama pihak pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan; (4) setiap akhir tahun anggaran inefisiensi pembiayaan pendidikan terjadi dimana-mana; tiada hari tanpa rapat, tempat rapat dipilih bukan di kantor melainkan lebih jauh karena lebih jauh lebih baik demi menghalalkan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD, dan seterusnya.

Dalam usaha efisiensi penyelenggaraan pendidikan, ada baiknya bangsa ini belajar kepada negara Finlandia yakni sebuah negara dimana mutu pendidikannya terbaik di dunia ini dan sebuah negara yang mengalokasikan anggaran pendidikan dalam keseluruhan belanja negara hanya sebesar 17,4% saja namun telah mampu mengratiskan seluruh biaya pendidikan bagi peserta didiknya dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi sebagaimana penulis baca dari sebuah buku karya Pasi Sahlberg (2014) berjudul “Finnish Lessons”, Buku tersebut antara lain memuat; (1) sedikit mengajar, banyak belajar, dan pembelajaran berbasis riset.

Hal ini mengingatkan penulis pada sebuah nasehat, “Setiap kali kau ingin mengajar, sesungguhnya banyak siswa yang tidak ingin diajar”. Oleh karena itu berhati-hatilah untuk tidak menggurui; (2) sedikit ujian banyak belajar, bahkan tidak ada Ujian Nasional; (3) guru mengajar 4 jam sehari, di luar jam mengajar semua tetap berada di sekolah, tidak diwarung kopi, membicarakan banyak hal terutama politik atau pemilihan presiden (Jokowi atau Probowo), melainkan mengembangkan diri, membicarakan masalah yang terkait profesinya terutama masalah belajar siswanya; (4) menghindari siswa tinggal kelas karena berdampak kurang baik, bukan hanya tidak efisien, melainkan menjadi stigma atau citra diri negatif siswa yang sangat berdampak pada kegagalan hidupnya; (5) waktu yang disediakan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) sangat sedikit, bahkan pemberian PR tersebut tidak dianjurkan dan tidak ditradisikan karena mengganggu siswa menggunakan waktu luang di rumah yang sangat berguna bagi tumbuh kembang anak; (6) sejak kecil siswa dianjurkan dan dibiasakan mengikuti organisasi ekstra kurikuler; (7)  guru adalah profesi yang sangat prestisius, sangat dihormati dan dimuliakan, semua guru bergelar magister (S2) kependidikan. Pemerintah atau pihak sekolah mengizinkan guru melanjutkan studi bidang kependidikan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran siswanya, bukan studi lanjut untuk mendapat posisi di luar mengajar atau jabatan lain sebagaimana marak terjadi di negeri ini, kecuali untuk menjadi pemimpin pendidikan di dinas kota (setingkat kabupaten) tanpa kecuali dipercayakan kepada pendidik (guru) professional yang memiliki pengalaman bekerja di bidang pendidikan. Hal yang sama terjadi di Australia, pemimpin dinas pendidikan diserahkan kepada ahlinya yakni guru berpengalaman dan berprestasi; (8) lingkungan belajar kondusif agar siswa belajar menyenangkan atau tidak stress; dan (9) Finlandian adalah negara industri telekomunikasi, seperti Nokia menguasai 40% pasar dunia, tetapi rakyatnya tidak suka omong. Banyak omong, omong kosong, besar omong atau omong besar sangat tercela di negara tersebut. Boleh omong atau berbicara untuk hal yang benar, seperlunya, dan hanya unutuk kebaikan adalah karakter bangsa dan masyarakatnya.   

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dibawah komando M.Nuh, telah mencoba menyelenggarakan pendidikan yang efektif dan efisien. Guna memastikan semua unit organisasi di lingkungan Kemendikbud telah menerapkan prinsip efisiensi, maka tolok ukur yang digunakan adalah; (1) berbagi sumber daya; (2) integrasi proses. dan (3) pemanfaatan Technology Information Comunication (Penulis, Dosen FKIP Untandan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Penerimaan Mahasiswa PRODI BARU: Program MAGISTER PENDIDIKAN SOSIOLOGI FKIP Untan

Membangun Budaya Gemar Membaca

Orang Asing di Rumah Kita

Dimensi Pembelajaran Bermakna

Seleksi Calon Mahasiswa Baru Universitas Tanjungpura 2014