Dimensi Pembelajaran Bermakna

Opini Ilmiah


Kamis, 22 Mei 2014 - 11:28:59 WIB | dibaca: 1559 pembaca



Oleh: Aswandi

DALAM kehidupan ini, kadang kita menang. Namun, tidak jarang kita kalah dan tersesat. Para pemenang menjalani proses pembelajaran bermakna, sementara yang gagal dan tersesat menjalani proses pembelajaran yang salah. Orang bijak lebih dulu mengingatkan, “Lebih baik tersesat di jalan yang benar dari pada merasa benar, padahal berada di jalan yang sesat”.

John C. Maxwell (2013) dalam buku terbarunya berjudul “Sometimes You Win, Sametimes You Lose” menjelaskan sebelas dimensi pembelajaran bermakna, yakni; The Spirit of Learning ia Humility, The Foundation of Learning is Reality, The First Step of Learning is Responsibility, The Focus of Learning is Improvement, The Motivation of Learning is Hope, The Pathway of Learning is Teachability, The Catalyst for Learning is Adversity, Opportunities for Learning is Problem, The Prespective for Learning ia Bad Experiences, The Price of Learning is Change; and The Value of Learning is Maturaty.

Karena keterbatasan ruang opini ini, maka tidak semua dimensi pembelajaran bermakna penulis jelaskan di sini, insyaallah dilanjutkan pada opini berikutnya.  
The Spirit of Learning ia Humility, maknanya adalah pembelajaran dengan rendah hati, bukan kesombongan. Pembelajaran dalam sprit kesombongan hanya berbuah atau melahirkan generasi lemah. Hugh Prather mengatakan, “Ketika saya mau mendengarkan kesalahan saya, berarti saya telah tumbuh, Ongkos termurah dari pembelajaran bermakna itu adalah mau belajar dari kesalahan diri sendiri.

The Foundation of Learning is Reality, maknanya adalah pondasi pembelajaran bermakna terkait pemahaman sibelajar tentang realitas, Harun Yahya (2002) dalam bukunya “Ever Thought about The Truth”, memberi penjelasan panjang lebar tentang realitas yang akhir pada kesimpulan bahwa dunia atau realitas yang kita ketahui dan pahami sebenarnya adalah dunia di dalam pikiran kita dimana ia didesain, diberi suara dan warna atau dengan kata lain diciptakan.

Stephen Hawking (2010) dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan bahwa ”Tiada konsep realitas (kenyataan/wujud) yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”.

John Kehoe (2012) dalam bukunya ”Mind Power: menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas. Segala peristiwa dipengaruhi dari apa yang kita bayangkan, kita visualisasikan, kita hasratkan, kita inginkan atau kita takutkan, serta mengapa dan bagaimana gambar yang ditetapkan dalam pikiran bisa dibuat menjadi kenyataan. Kemanapun kita pergi, apapun yang kita lakukan, pikiran-pikiran kita menciptakan realitas kita;

Dimensi pembelajaran bermakna berikutnya adalah The First Step of Learning is Responsibility. Thomas Lickona (2012) dalam bukunya “Educating for Character” mengemukan 2 (dua) nilai utama sebagai dasar nilai universal yang harus diajarkan dari sejak dini, yakni: sikap hormat dan bertanggung jawab (responsibility).
Tanggung jawab adalah kemampuan untuk merespons atau menjawab, artinya tanggung jawab itu berorientasi pada orang lain, pemberian bentuk perhatian, saling membutuhkan, dan secara aktif memberi respons terhadap apa yang diinginkan, tidak mengabaikan orang lain di saat keadaan sulit, dan menekankan pada kewajiban positif untuk saling melindungi satu sama lain.

Setiap kali membicarakan tentang tanggung jawab, penulis selalu memberi contoh keluarga seorang pendeta miskin bernama Robert yang telah sukses melahirkan, 9(Sembilan) orang anak menjadi orang sukses dalam studi dan profesinya, dan kesuksesan pendeta tersebut belum pernah terjadi di negerinya Amerika Serikat. Pendeta Robert mengajar satu nilai utama yakni tanggung jawab dari sejak dini. Misalnya, semua anaknya memiliki tanggung jawab di rumahnya, anak bungsunya bernama Owen yang baru saja belajar berjalan sudah diberi tanggung jawab untuk mematikan dan menghidupkan lampu yang saklarnya ditempatkan dalam posisi yang mudah digapainya.

Dimensi lain adalah The Catalyst for Learning is Adversity, maknanya adalah katalisator pembelajaran adalah rasa sulit yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan untuk mencapainya. Aristoteles mengatakan, “The roots of education is bitter”, artinya akar pendidikan terbangun dari rasa pedih, sementara pendidikan yang berangkat dari pemanjaan (spoil) anak didik hanya akan menimbulkan kesengsaran, kehilangan rasa hormat dan tanggung jawab.

John Gray; “Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh”. Paul J. Meyer, berpesan; “90% dari mereka yang gagal sebenarnya belum kalah. Mereka hanya menyerah saja”. Yang penting bukanlah apakah anda terjatuh, melainkan apakah anda bangun kembali setelah terjatuh. Oleh karena itu orang bijak berkata, “keberhasilan terbesar dalam hidup adalah dapat bangkit kembali dari sebuah kegagalan”.

Paul G. Stoltz (2003) dalam bukunya “Adversity Quotient menjelaskan dimensi kecerdasan menghadapi masalah adalah; (a) Control, Kendali Diri, atau Sabar; (b) Origin and Ownership atau Asal Usul dan Pengakuan, jika ada masalah tidak menyalahkan pihak atau orang lain; (c) Reach atau Jangkauan. Kesulitan di suatu tempat tidak dibawa-bawa ke tempat lain; dan (d) Endurance atau Daya Tahan. Kesulitan bukanlah taqdir, selalu ada jalan keluarnya.

Memperbaiki Adversity Quotient (AQ); (a) Listen atau mendengarkan respons terhadap kesulitan; (b) Explore atau jelajahi asal usul dan pengakuan atas akibatnya; (c) Analyze atau analisislah bukti-buktinya; dan (d) Do atau lakukan sesuatu yang sudah direncanakan.

Scott Peck (1997) dalam bukunya ”The Roadless Traveled” mengatakan; ”Kehidupan itu sulit adalah sebuah kebenaran yang paling hebat. Bila kita memahaminya, kita makin mengenalnya, dan setelah itu kita menerimanya, maka kehidupan kita tidak sulit lagi atau ketika kesulitan telah diterima, maka kehidupan yang sulit tersebut tidak menjadi masalah lagi.

Dimensi terakhir pembelajaran bermakna adalah The Price of Learning is Change maknanya adalah harga dari pembelajaran adalah perubahan, tentu tidak ada makna sebuah pembelajaran tanpa membawa kemajuan. Michael V. Pantalon (2013) dalam bukunya “Instant Influence” menjelaskan bahwa sebuah perubahan sangat ditentukan dari jawaban atas pertanyaan “Mengapa (Why)”. Viktor Frankl menyatakan hal yang sama, yakni, “Apabila Anda meminta orang lain tersenyum, maka mereka harus memahami alasan mengapa harus tersenyum”. Seorang pakar perubahan lainnya, Michael Fullan, menambahkan selain jawaban terhadap pertanyaan “Why“, keberhasilan perubahan ditentukan oleh jawaban kata “How” atau bagaimana yang berarti proses perubahan dan kata “What” yang berkenaan dengan faktor perubahan. Dari pendapat pakar perubahan tersebut, semakin jelas bahwa keberhasilan melakukan perubahan sangat ditentukan dari jawaban atas 3 (tiga) pertanyaan, yakni: mengapa (why), bagaimana (how) dan faktor apa (what) (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Seleksi Calon Mahasiswa Baru Universitas Tanjungpura 2014

Bangkit Itu Mudah

Kepemimpinan Berbasis Kekuatan

Penerimaan Peserta Program SM-3T Angkatan IV Tahun 2014

Merubah Pola Pikir