Dialog Sains (nalar-Barat) dan Mistik (religius-Timur)

Dunia Pendidikan


Rabu, 23 Maret 2016 - 13:02:58 WIB | dibaca: 1445 pembaca



Prolog
Dewasa ini masih saja orang dibuat gelisah dan bingung dengan pertanyaan: iman dan ilmu itu merupakan dua bidang yang saling berkompetisi atau justru menjadi dua dunia yang mempunyai peran komplementer? (Greg Soetomo, 1998)
 
Pendahuluan

Can science explain mysticism?[1] sebuah pertanyaan yang sungguh menantang bagi kita, para ahli dalam bidang IPA, yang hidup di masyarakat ‘tradisional’ seperti di Indonesia ini. Berbagai hal yang ‘berwarna’ mistis-religius- sering muncul dalam perjalanan hidup sehari-hari. Kiranya, kita semua, tidak perlu lagi mengulang ‘pertempuran-pertempuran’ antara komunitas ilmiah yang mempertentangkan dan komunitas yang hendak memadukan antara ilmu dan iman, antara sains dan religiositas[2]. 

Pengalaman pribadi, sekitar lima tahun yang lalu merperkuat keberadaan peristiwa mistis ini. Pukul 03.00, tanggal 10-10-2010, tiba-tiba perut terasa dipilin sangat kuat membuat harus segera masuk ke ICU selama satu hari dua malam. Observasi medis yang dilakukan oleh delapan orang dokter ahli dalam berbagai spesialis selama sembilan hari tidak dapat menegakkan diagnosis medis. Disarankan agar mencari ‘second opinion’. Jalan yang dipilih adalah pengobatan alternatif  ‘orang pintar’-yang menyatakan dirinya sebagai perantara untuk memohon kesembuhan dari Allah. Rasa sakit pun berangsur surut, selama lima tahun kemudian, setelah ditangani ‘orang-orang pintar’. Lebih dari 25 berbagai macam benda kasat mata berhasil dikeluarkan dari tubuh. 
 
Sebagai seorang yang lama mengembara dalam alam rasional barat, ada sejumlah pertanyaan saintifik yang muncul dalam pengalaman personal ini. Beberapa di antaranya adalah: bagaimana cara benda-benda itu dimasukkan ke dalam tubuh?; mengapa alat-alat medis tidak dapat mendikteksi benda-benda itu?; mengapa ‘orang pintar’ dapat menditeksinya?; bagaimana cara mengeluarkan benda-benda itu dari tubuh?; dsb.

Selain itu, sebagai seorang yang juga mengelana dalam mencari makna hidup dalam sebuah tradisi kristiani yang ‘kental’ maka muncul juga pertanyaan-pertanyaan yang lain. Salah satu di antaranya adalah mungkinkah iman kepercayaan itu dilandasi oleh sains?

Tulisan ini tidak ‘to examine these .... intriguing questions not yet resolved by modern scientists’[3]. Juga tidak dalam posisi seperti Stephen Hawking dan beberapa fisikawan lain yang mengatakan, ‘the scientist has no need for the supernatural’[4]. Tetapi, akan melihat dialog-dialog antara Sains (nalar-Barat) di satu pihak dan Mistik (iman-Timur) di pihak lain.
 
Dialog-dialog ini akan sejalan dengan paradigma baru dari ‘human cortical information processing’ - The “biocultural paradigm”[5]. Paradigma ini menunjukkan bahwa biologi (baca: sains) dan kebudayaan sebagai suatu parameter bersyarat satu dengan yang lain pada informasi neurocultural. Dalam diri manusia, sains menjadi suatu bagian dari kebudayaan, dan sebaliknya  kebudayaan membuka dan mestimulasi pesan-pesan neural otak sehingga dihasilkan keragaman pikiran dan produk kebudayaan. Kebudayaan menjadi prasyarat yang menstimulasi sains, sedangkan sains merupakan prasyarat yang membuat kebudayaan menjadi mungkin. Paradigma biokultural menyatakan ada interaksi mutual antara sains dan budaya.
 
Penjelasan tentang arti mistik sangat beragam. Namun secara umum, dalam cakupan epistemologi, pengetahuan mistik (Timur) ditempatkan berseberangan dengan pengetahuan rasional (Barat)[6]. Pengalaman mistis merujuk pada suatu pengalaman yang melibatkan kesadaran dan perasaan seseorang dalam memahami dan memaknai sesuatu di alam semesta. Dengan batasan ini, pengalaman mistis sangat terikat dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. 

Dalam kasanah literatur, istilah ‘pengalaman mistis’ bersinonim dengan ‘pengalaman religius’, ‘pengalaman spiritual’, atau ‘sacred experience’[7]. Muncul  pertanyaan: apakah pengalaman mistis bersifat universal atau, sebaliknya, bersifat personal? Pertanyaan ini merupakan esensi perdebatan antara perenialisme-esensialisme dengan konstruktivisme-kontekstualisme. 
 
Telaah yang disajikan dalam makalah ini dalam wawasan konstruktivisme. Dengan demikian, pengalaman mistis lebih bersifat personal daripada universal karena terikat pada budaya masyarakat sekitar yang bersangkutan[8]. Secara khusus, telaah diarahkan untuk mencari hal-hal yang paralel antara rasional Barat dan mistis Timur. Dengan harapan, pertanyaan yang diajukan dalam prolog akan terjawab. Mistik Timur dipilih dalam sajian ini, bukan karena sebagian besar kita berada di belahan Timur tetapi karena ajaran-ajaran mistis Timur menyusun bangunan pemikiran religius sehingga tidak memarjinalkan manusia[9].

Dialog 1: mencari pengetahuan[10]

1a Sains Barat

Dalam mencari pengetahuan, para ilmuwan Barat menggunakan dua istilah ‘subjek’ yang merujuk kepada dirinya (yang aktif mencari pengetahuan) dan ‘objek’ yang merujuk kepada sesuatu (yang fasif tempat pengetahuan yang harus duangkap). Karen itu, mereka selalu mengambil jarak  terhadap objek yang sedang dipelajari. Posisi seperti ini diambil dengan maksud menjunjung tinggi objektivitas pengetahuan yang ditekukannya. Sebuah kebenaran objektif hanya dapat dicapai jika si pencari kebenaran berada di luar dari fenomena yang sedang berlangsung. Dalam posisi seperti itu, si pencari kebenaran dapat menggunakan kehendak bebasnya – free will untuk membuat suatu keputusan[11]. Dengan kehendak bebasnya itu, ilmuwan mengarahkan perhatian dengan tepat ke sasaran tertentu sebagai objek jelajah pencarian kebenaran. Dengan prosedur yang benar, ilmuwan mengumpulkan data dan informasi tentang objek sasaran itu.  Dengan  penalarannya yang sahih, ilmuwan menganalisis data dan informasi itu dengan harapan bahwa kesimpulannya tentang objek sasaran itu benar.  Kadang-kadang, ilmuwan tidak hanya menggunakan representasi verbal tetapi juga representasi matematis sebagai abstraksi dari objek sasaran jelajahnya. 

Karena, didasarkan pada  pengalaman ketika mengamati suatu objek sasaran maka kesimpulan  ini merupakan pengetahuan rasional[11]. Selain sebagai pengetahuan rasional, kesimpulan yang dibuat ilmuwan ini juga bersifat relatif[12]. Paling tidak ada tiga hal yang membuat  kebenaran suatu kesimpulan ini relatif yaitu: sifat pengamatan (tepat pada sasaran atau tidak), sifat prosedur pengumpulan data (benar atau tidak) dan sifat penalaran yang digunakan (sahih atau tidak). Tepat pada sasaran atau meleset dari sasaran, prosedur salah benar arau salah, penalaran sahih atau tidak sahih bukan bersifat diskrit – hitam putih, tetapi lebih bersifat kontinum, bergradasi. Karena, ditentukan berdasarkan suatu kriteria tertentu yang dipilih. Pemilihan kriteria sesungguhnya sangat situasional bahkan kadang-kadang juga sangat personal. 

Agar apa yang disimpulkan itu  dapat ditetapkan reliabilitasnya, seorang ilmuwan rasional barat mesti menyampaikan selengkap mungkin, rinci,  sistematis metode apa yang digunakan. Sajian yang rinci dan sistematis tentang apa yang telah dilakukan memungkinkan eksaminasi dan audit teman sejawat dapat diberlakukan[13]. Konsekuensi dari sifat relatif dari pengetahuan rasional adalah lebih mudah dimengerti daripada realita yang sebenarnya.

1b Mistik Timur

Istilah yang lebih populer dari ‘Mistik Timur’ adalah ‘Far Eastern Thought’-FET[14]. Sebagian orang Barat merasa sangat sukar untuk memahami  FET karena berbeda cara pandang. Kalau Barat memandang realitas itu bersifat personal, FET memandang realitas itu impersonal. Semua realitas terdiri atas substansi tunggal. 

Ketika berhadapan dengan suatu relalitas, para mistikus Timur menyatukan diri dengan realitas tersebut. Mereka mengalami sendiri. Dengan penyatuan diri dengan realitas yang dihadapi, kerja pikiran berhenti total dan digantikan dengan suasana relaksasi total. Pada titik ini mereka mencapai keadaan meditatif. Diperolehlah pengetahuan-pengetahuan intuitif.
 
Persatuannya dengan realita, menyebabkan pengetahuan intuisi yang diperoleh bersifat absolut, mutlak, bagi dirinya. Pengetahuan absolut seperti ini bersifat individual. Dengan demikian, tidak ada sistematika yang berlaku umum. Sebagian orang mengatakan pengetahuan mistik Timur jauh lebih sukar dipelajarai ketimbang pengetahuan rasional Barat.

Para pencari pengetahuan mistik Timur mesti menjalani – mengalami sendiri. Cara ini berbeda dari pengetahuan rasional barat yang dapat dipelajari dari temuan orang lain. 
Perbedaan yang lain adalah pengetahuan yang ditemukan. Rasional barat menghasilkan pengetahuan relatif sedangkan mistik timur menghasilkan pengetahuan absolut. Sebagai pengetahuan relatif mengisyaratkan bahwa kebenarannya yang ditemukan dalam disiplin rasional barat siap direvisi kapan pun dan oleh siapa pun, termasuk penemunya sendiri. Revisi dapat dilakukan untuk membuat pengamatannya semakin tepat pada sasaran, memilih prosedur yang sungguh dianggap benar, atau menggunakan hukum-hukum logika yang membuat penalarannya lebih sahih.
Sedangkan pengetahuan yang ditemukan dalam tradisi mistik timur karena bersifat absolut tidak ada celah untuk revisi. Kualitas kebenarannya, jika meminjam istilah rasional barat ditetapkan berdasarkan model penelitian ‘single subject design’ - n = 1[15]- diulangi sendiri sebagai pelakunya.

Dialog 2: memahami ruang dan waktu

2a. Sains Barat

Dalam perjalanan sejarah, sains dapat dibagi menjadi dua periode yaitu: kisah lama dan kisah baru[2, 16]. Kisah lama didasari oleh  oleh pemikiran Issac Newton dan kisah baru didasari  oleh pemikiran Albert Einstein.

2a.1 Sains dalam Kisah Lama

Dalam pandangan Newton, semesta ini terdiri atas: materi, ruang dan waktu. Materi yang tersusun oleh atom-atom yang terikat selamanya. Ruang dan waktu bersifat mutlak – sama untuk semua. Perubahan-perubahan yang terjadi hanyalah manifestasi dari pemisahan, penggabungan dan/atau pergerakan materi.  

Dalam proposisi ini, para ilmuwan berposisi sebagai ‘penonton’ yang berada di luar suatu sistem. Karena itu, sistem itu tidak mengandung unsur pikiran, kehendak dan tentu juga emosi. Pandangan ini mendorong sains ber-’wajah’ materialisme. Semua fenomena di alam semesta ini dipahami sebagai interaksi antar-pertikel yang menyusunnya. Pikiran manusia, misalnya, merupakan perwujudan dari perubahan-perubahan partikel[17]. Akibatnya, pikiran tidak dapat membuat pilihan bebas. Semua tingkah laku manusia  dipahami dari perwujudan insting, fisiologi, kimia dan fisika.  
Alam semesta ini melengkapi dirinya dengan mekanisme internal. Karena itu, alam semesta bergerak dengan sendirinya seperti sebuah mesin raksasa. Alam semesta mekanistis.

2a.2 Sains dalam kisah baru

Pandangan materalistis alam semesta ini membuat para ilmuwan terbelah. Di awal abad ke-20, Albert Einstein menyajikan  teori relativitas khusus[18]. Ruang dan waktu bukan sesuatu yang absolut. Einstein menyatakan bahwa gerak mempengaruhi ruang dan waktu. Suatu benda yang bergerak, ternyata tampak mengkerut (length construction). Sedangkan waktu akan terasa melambat (time dilation).  Temuan ini, oleh Brian Greene disebut sebagai ‘Hurricane of intellectual purpose’. Mulailah sains dalam kisah baru.

Para ilmuwan selanjutnya disuguhi oleh Einstein suatu perluasan teori relativitas khusus yaitu teori relativitas umum. Teori relivitas umum bekerja pada benda yang bergerak dengan kecepatan berubah baik dipercepat maupun diperlambat. Teori relativitas umum memberikan konsep baru tentang ruang dan waktu (space and time). Ruang dan waktu bukan dua hal terisah, tetapi justru satu kesatuan yang disebut ruang-waktu (space-time) dalam empat dimensi. Dengan proposisi ruang-waktu, maka masa lalu, kini, dan akan datang menjadi satu[19]. 

Kalau dalam kisah lama  ruang dapat diibaratkan sebuah panggung pertujukkan yang pasif dan waktu merupakan periode adegan demi adegan yang dipisahkan oleh buka-tutup layar, dalam kisah baru ruang-waktu menyatu dengan para pemain pertujukan itu. Dalam kisah baru, ruang-waktu dan pemain saling berinteraksi aktif satu dengan yang lain[20]. 

Selain ruang dan waktu, materi juga berubah. Penangkapan gelombang gravitasi, 11 Februari 2016[21], menunjukkan fenomena materi berubah yang menjadi gelombang. Dua buah lubang hitam, masing-masing massanya 29 kali dan 36 kali massa Matahari bergabung menjadi sebuah lubang hitam baru dengan massa 62 kali massa Matahari. Massa sebesar 3 kali massa matahari berubah menjadi gelombang gravitasi yang dapat ditangkap oleh Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory  (LIGO) – Observatorium Interferometer Sinar Laser untuk Gelombang Gravitasi-, yang dioperasikan oleh  kerjasama antara Institut Teknologi California (Caltech) dan Institut Teknologi Massachusetts (MIT),- Amerika Serikat. Gelombang gravitasi ini ditangkap LIGO selama 20.000-an detik. Di awal penggabungannya, kedua lubang hitam ini saling melingkari satu dengan yang lain dengan frekuensi 20. Sekitar 20 milisekon terakhir sebelum bergabung, frekuensi itu meningkat menjadi 250.

2b Mistik Timur

Dalam tradisi mistik timur, ruang dipandang sebagai unsur pokok dari kosmos[22]. Tidak ada sesuatu tanpa ruang. Dalam tradisi India, dua sifat alam semesta  adalah gerak. Medium untuk gerak itu disebut ruang (Akasa). Dengam perkataan lain, ruang merupakan medium dari semua gerak. Sebagai medium gerak maka ruang dan waktu bukan dua hal yang terpisah. Sebaliknya ruang dan gerak membentuk suatu kesatuan.

Hinduisme memandang bahwa alam semesta itu dinamis. Perbuatan yang penuh daya kekuatan serta mantra-mantra merupakan pusat kepercayaan. Kata ‘brahma’ misalnya yang pada awalnya berarti ‘doa’ atau ‘rumus sakti’ lambat laun menjadi berarti ‘daya ilahi’. ‘Brahma’ menjadi daya yang meresapi segala-galanya. Brahma menjadi yang menopang dan melestarikan dunia. Brahma yang ‘menggerakkan’ dunia[23].

Dalam pandangan mistik timur, waktu bersifat ‘experiential’. Dalam pandangan Budhisme, keberadaan sesuatu itu ‘just experience that arise and pass away’. Mistik timur  memandang bahwa ruang dan waktu melebur menjadi ‘ketiadaan’[24]. 

Dalam cara pandang seperti ini, tampak bahwa sains barat dan mistik timur ada kemiripan dalam memahami ruang dan waktu. Ruang dan waktu bukan  seperti sebuah panggung pertunjukkan dengan periode adegannya. Ruang-waktu dan para pemain yang dipahami dalam dua dimensi seperti hamparan lembaran karet elastis beserta banyak bola berbagai ukuran di atasnya. Setiap posisi dan gerakan bola-bola itu akan saling mempengaruhi dan juga mempengaruhi permukaan lembaran karet elastis. Dengan cara pandang seperti ini, masa lampau, kini, dan yang akan datang menyatu. Perbedaan yang terjadi hanyalah masalah sudut   pandang[25].

Dialog 3: mencari keberadaan Allah 

Dialog antara sains Barat dan Mistik Timur juga masuk pada wilayah ketuhanan. Keberadaan Allah menjadi topik yang tiada henti dibicaarakan. Para imuwan juga saling ‘timbul-tenggelam’ dalam pembicaraan wilayah ini. Tidak jarang sebagian mereka, kemudian, membuat tabir pemisah antara pengetahuan rasional untuk sains di satu pihak dan kepercayaan  untuk agama di pihak lain.
 
3a.1 Sains Kisah lama

Sains dalam Kisah Lama tampak ‘mencampakkan’ keberadaan Allah[26]. Sains kisah lama bersifat materialistis. Ada usaha mereduksi penjelasan semua fenomena alam semesta dalam bentuk perubahan struktur dan interaksi materi. Alam semesta memiliki mekanisme internal. Keberadaan ‘penyebab’ dari luar sistem tidak perlu ada. Dengan demikian, keberadaan Allah tidak diperlukan. 
Kenyataan ini, mungkin dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa ada ilmuwan yang ateis (tercatat ada 229 ilmuwan yang kesohor secara internasional)[27]. Lawrence M. Krauss, fisikawan AS, menulis: “In my more than thirty years as a practicing physicist, I have never heard the word “God” mentioned in a scientific meeting. Belief or nonbelief in God is irrelevant to our understanding of the workings of nature—just as it’s irrelevant to the question of whether or not citizens are obligated to follow the law”[28].

Tentu tidak semua ilmuwan ateis[29]. Survai internasional yang dilakukan sosiolog Universitas Rice, Texas, 2010, dengan mengajukan 36 pertanyaan kepada 1600 dosen Fakultas MIPA dan fakultas Sosial dari 21 universitas elit (Research University) di AS menemukan  38% ilmuwan MIPA dan 31% ilmuwan sosial ateis.

Temuannya ini kemudian di-reduplikasi, 2011, bersama koleganya Jerry Park dari Universitas Baylor, University and dan seorang mahasiswa kandidat doktor Universitas Notre Dame, Katherine Sorrell [30], mewacarai 275 orang dosen yang mewakili 2 198 dosen tetap dari 21 universitas elit di AS. Ia menemukan hanya sekitar 15% yang berpendapat bahwa ada konflik antara ilmu dan religius dan 70% yang lain menyebutnya kadang-kadang terjadi konflik. 

Reduplikasi 2015[31] bersama dua orang koleganya, Kirstin Matthews dan Steven Lewis, mengumpulkan informasi dengan memberikan kuestioner kepada  9 422 dosen serta mewancarai 609 di antaranya dari Perancis, Hong Kong, India, Italia, Taiwan, Turki, Inggris Raya, dan A.S. Mereka menemukan, ‘not all scientists are atheists’ dan Ecklund menyatakan, "Science is a global endeavor ....  as long as science is global, then we need to recognize that the borders between science and religion are more permeable than most people think." Mengapa? Jawaban  diberikan dalam Sains Kisah Baru.

3a.2  Sains Kisah Baru

Dennis William Siahou Sciama[32], 18 November 1926 – 18 Desember 1999, fisikawan Inggris setelah Perang Dunia II yang dikenal sebagai bapak kosmologi modern, pada tahun 1959 menulis buku dengan judul “The Unity of the Universe”. Kemunculan buku ini memperkuat pendapat bahwa ada ‘titik awal’ dari alam semesta. Temuan massa unsur hidrogen-1 (705,700 ppm) dan helium-4 (275,200 ppm) di alam semesta yang melimpah[33] memperkuat keberadaan Teori Dentuman Besar yang merupakan penjelasan keadaan awal dari alam semesta.
 
Demikian juga keberadaan teori alam semesta yang mengembang (The Expansion of the Universe)[34] menyokong Teori Dentuman Besar[35].

Penerimaan Teori Dentuman Besar sebagai model untuk menjelaskan titik awal alam semesta seperti yang ada saat ini mengarahkan berbagai ‘bilangan sangat kecil’ dan ‘bilangan sangat besar’[36]. Waktu Plank sebesar 5.4 x 10-44 detik. Sampai saat ini apa yang terjadi di alam semesta pada satu waktu Plank pertama belum dapat diungkap. Massa Jenis Plank sebesar 5.1 x 1096  kg/meter3, yaitu massa jenis alam semesta pada saat berumur 1 waktu Plank atau 5.4 x 10-44 detik setelah peristiwa dentuman besar. Keberadaan bilangan yang sangat besar dan yang sangat kecil yang melimpah di alam semesta ini memperkuat pandangan tentang kemungkinan keberadaan Sang Matematikawan, Yang Mengatur Kosmos.

Keberadaan bilangan-bilangan ini juga mendorong para ilmuwan bertanya-tanya apakah fenomena ini bersifat kebetulan. Muncullah pemikiran-pemikiran yang diberi label ‘the anthropic coincidences’- hubungan antar-konstanta fisika merupakan syarat cukup bagi keberadaan kehidupan di alam semesta. Sehingga, pada akhirnya munculah lebih dari 30 rumusan yang di bawah label  ‘the anthropic principle’[37]. 

Keberadaan the anthropic Principles ini mempunyai berbagai implikasi pemikiran baru tentang alam semesta. Tidak hanya bidang fisika dan kimia tetapi juga  bidang biologi.  Paham  biologi modern[38] yang menerapkan model mesin dalam memahami makhluk hidup mulai ‘digeser’ ke arah paradigma baru[39]. Biologi dengan paradigma baru menyatakan bahwa kehidupan itu jauh lebih rumit dari sekedar mesin. 

Sebagai ilustrasi berkaitan dengan bentuk materi. Pertanyaan muncul pada bentuk-bentuk makhluk hidup. Apakah karena peristiwa fisika dan atau kimia? Atau, apakah ada campur tangan dari luar sistem? Salah satu ciri mahluk hidup yang khas adalah kandungannya unsur-unsur organik. Apakah proses kimiawi unsur-unsur organik ini mempengaruhi bentuk tubuh dan organ-organ makhluk hidup? Kiranya tidak! Karena, dalam satu jenis spesies bentuk tubuh tiap individu berbeda antara yang satu dengan yang lain[40]. 

Pertanyaan lebih lanjut dari fenomena ini adalah mengapa terjadi perbedaan yang sangat individual dalam setiap makhluk hidup sehingga masing-masing menjadi unik terhadap yang lain? Pertanyaan ini mengarahkan kepada pertanyaan yang lain yang lebih terfokus, yaitu: apakah setiap individu makhluk hidup memiliki tujuan?[41].  Kemana? Satu tujuan yang sama atau masing-masing punya tujuan? Muncullah pemikiran bahwa Ada Sang Tujuan.

Inilah perjalanan Sains dalam mencari keberadaan Allah. Perubahan dari sains kisah lama ke sains kisah baru  deskripsi keberadaan Allah semakin jelas.

3b. Mistik Timur

Sampai di sini, sudah berulang kali kata Allah disinggung. Tetapi, belum ada satu dua kalimat memberi petunjuk tetang arti kata ‘Allah’. Ada satu alasan yang mendasarinya, yaitu sebagai orang yang mengaku religius dan hidup di lingkungan masyarakat agamais diandaikan pengertian Allah dengan sendirinya telah terinternalisasi. Dalam tulisan ini ‘istilah’ Allah dipahami sebagai Tuhan Yang Mahaesa (the God)[42]. 

Manusia dianugerahi keinginan untuk mengerti dan mengenal. Segala  hal dihadapi dengan pertanyaan, termasuk pertanyaan tentang keberadaan Allah. Apakah Allah ada atau tidak ada? Dalam tradisi Sains Barat,  jawabannya merupakan hasil refleksi dari pengamatannya. Sedangkan dalam tradisi misktik timur, jawabannya merupakan pengalaman hidup langsung,  pengalaman konkret[43]. Dalam tradisi mistik timur, keberadaan Allah dapat dirasakan lewat pengalaman batin secara individual. Dalam kebatinan Jawa dikenal dengan fenomena ‘manunggaling kawula Gusti.

Dengan ini, sains barat dan mistik timur menggunakan sarana yang berbeda dalam ‘menditeksi’ keberadaan Allah. Sains barat menggunakan fakta-fakta yang terukur, sedangkan mistik timur menggunakan pngalaman batin. Walaupun demikan, keduanya merasakan bahwa Allah itu ada.

Penutup 

Kesimpulan dari ketiga dialog ini adalah ada paralelisasi antara sains kisah baru dan mistik timur. Ada paralelisasi antara nalar yang rasional dan iman yang mistis-religius. Namun, proses panjang masih perlu dilalui karena perdebatan antara nalar dan iman masih berlangsung[44].

Dalam perdebatan itu, Josefh Ratzinger – seorang filsuf dan Paus Katolik Roma (Benediktus XVI)-menyatakan ilmu pengetahuan mempunyai tanggung jawab di hadapan manusia sebagai manusia dan tanggung jawab filsafat untuk menyertai secara kritis perkembangan masing-masing ilmu dan menguji secara kritis kesimpulan-kesimpulan yang dibuatnya.ada patologi hybris  dalam nalar yang mengancam manusia. Karena itu, nalar harus mengakui batas-batasnya dan perlu belajar menghargai tradisi-tradisi religius umat manusia. Sebaliknnya, karena agama juga mempunyai patologi-patologi yang cukup berbahaya mutlak perlulah memandang cahaya ilahi nalar sebagai organ pengontrolnya. Agama, secara konstan, mendiamkan diri untuk diterangi dan diatur oleh nalar. 

Dalam debat itu, Juergens Habermas, seorang filsuf-nonreligius juga dari Jerman mengatakan bahwa nalar dan agama harus saling belajar satu sama lain dan tidak melihat sekularisasi sebagai bentuk imperalisme yang satu terhadap yang lain. Sekularisasi mesti dilihat sebagai ‘pembelajaran komplementer’. Dalam pembelajaran ini, nalar dan agama mediskusikan tema-tema kontroversial secara publik. 

Epilog

Manusia modern ingin menggali kembali jiwa yang tidak hanya rasional melainkan mencakup kemauan, perasaan, dan intuisi. Kecenderungan masa postmodernisme akan hal-hal gaib, esoteris, dunia bawah sadar, merupakan reaksi atas kesadaran rasional yang terlampau dominan. Apalagi kesatuan dengan alam, seperti dirasakan dalam kesadaran magis dan mistis, dirindykan kembali. Dalam tingkat kesadaran intergral, menyeluruh, kesadaran magis –mastis tidak dilenyepkan. (tetapi) dijernihkan dan dilengkapi oleh kesadaran rasional dan mencapai tingkatan kesadaran baru{45] (kesadaran holografik){46].  


Referensi 
  1. Evan fales, 1999 .  Can science explain mysticism? Religious Studies 35(02): 213-227 
  2. Greg Soetomo, 1998.  Sains dan problem ketuhanan. Yogyakarta: Kanisius.
  3. Tony Rothman, George Sudarshan, E. C. G. Sudarshan, 1998.  Doubt and Certainty: The Celebrated Academy Debates on Science, Mysticism, Reality, Dalam Tony Rothman, George Sudarshan 1998. General on the Knowable and Unknowable With Particular Forays into Such Esoteric. Universitas Michigan: Persues Books.  
  4. Malcolm W. Browne, 1988.  Mystics and Science: Hawking's Views, The New York Times, 19 April.
  5. Antonio T de Nicolas, 1998.  The Biocultural Paradigm: The Neural Connection Between Science and Mysticism. Experimental Gerontology, 33(1-2):169–182
  6. Evgeny Torchinov, 2003.  Mysticism and Its Cultural Expression: An Inquiry into the Description of Mystical Experience and Its Ontological and Epistemological Nature. The International Journal of Transpersonal Studies, 22:40-46
  7. Wikipedia, the free encyclopedia, Mystical experience.
  8. Robert K. C. Forman, 1989.  Paramaartha and modern constructivists on mysticism: Epistemological monomorphism versus duomorphism. Philosophy East & West. 39(4): 393-418
  9. Fritjof Capra, 1996. Modern physics and easterm mysticism. Journal of TranspersonalPsychology, 1976, Vol. 8, No.1: 20-40
  10. Leo Sutrisno, 2014.  Rasional Barat  vs  Mistik Timur mengkonstruksi pengetahuan. Bahan diskusi mahasiswa Program Magister Ilmu Humaniora, FH. Universitas Tanjungpura.
  11. Kem Stone, 2007.  Knowledge Is Both Rational and Empirical Classic Philosophical Questions Part 5 – Knowledge. Immanuel Kant, from the A Critique of Pure Reason.  27 October 2007 http://www.kemstone.com/Nonfiction/Philosoph
  12. Nathaniel Golberg, 2009.  Universal and relative reality, Principia 13(1): 67–84 
  13. Sharan B. Meriam, 1995.  What can you tell from a N of 1?: Issues of validity and reliability in quatitative research, PAACE Journal of Lifelong Learning, 4: 51-60
  14. Freddy Davis, 2007.  A Basic  understanding of Eastern Mysticism 
  15. Breanne J. Byiers,  Joe Reichle,  dan Frank J. Symons, 2012.   Single-Subject Experimental Design for Evidence-Based Practice. American Journal of Speech Language Pathology. 21(4): 397–414. Published online 2012 Oct 15. doi:  10.1044/1058-0360(2012/11-0036)
  16. The Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2014.   Newton's Views on Space, Time, and Motion. The Metaphysics Research Lab, Center for the Study of Language and Information (CSLI), Stanford University
  17. Wikipedia, Thomas Henry Huxley, 
  18. Brian Greene, What is the essential breakthrough of special relativity? A Moment of Science with Brian Greene, https://www.youtube.com
  19. Brian Greene, Space and time into single continum. A Moment of Science with Brian Greene, https://www.youtube.com
  20. Grethe Hooper Hansen , 2002-2003.  Organic Learning: Crossing the Threshold from Conscious and Unconscious.  The Journal of the Imgnation in language learning and teaching 7
  21. Brian Greene explains the discovery of gravitational waves. https://www.youtube.com
  22. Ancient Eastern Philosophy - On the Ancient Wisdom of Buddhism, Hinduism, Taoism & Confucianism; http://www.spaceandmotion.com
  23. P.J. Zoetmulder, 1990.  Manunggaling kawul Gusti. (Penterjemah: Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  24. Joel B. Bennett - 2000 .  Time and Intimacy: A New Science of Personal Relationships https://books.google.co.id/books?isbn... 
  25. Brian Greene, 2015.  Space time, full documentary. https://www.youtube.com
  26. Leo Sutrisno, 2013.  Kisah alam semesta. Bahan kuliah Filsafat Ilmu Magister Ilmu Humaniora, FH-Untan.
  27. Wikipedia, the free encyclopedia.  List of atheists in science and technology. 
  28. Lawrence M. Krauss,   2015.  All Scientists Should Be Militant Atheists. The New Yorker,   September 8, http://www.newyorker.com
  29. Elaine Ecklund, 2010.  Science vs. Religion: What Scientists Really Think. Oxford University Press.
  30. Ruth David dan Amy Hodges, 2011.  Science and religion do mix, Rice University http://phys.org/.  21 September,
  31. First worldwide survey of religion and science: No, not all scientists are atheists . Rice University http://phys.org/, 3 Desember 2015.
  32. Wikipedia, the free encyclopedia.  Dennis W. Sciama, 
  33. Wikipedia, the free encyclopedia. Abundance of the chemical elements
  34. The Expanding Universe, the Sloan Digital Sky Survey, http://skyserver.sdss.org
  35. Wikipedia, the free encyclopedia.  Big Bang. 
  36. The universe by number. http://www.physicsoftheuniverse.com/numbers.html
  37. Victor J. Stenger The Anthropic Principle, For The Encyclopedia of Nonbelief to be published by Prometheus Books, www.colorado.edu/philosophy/.../ant_encyc.pdf 
  38. Erich Wasmann,S.J.,  2010.  Modern biology and the theori of evolution. Edisi ke-3 Jerman (A.M. Buchanan, M.A.: penterjemah). London: Kegan Paul, Ternch, Truber & Co. http://rcin.org.pl
  39. Michael R Rose dan   Todd H Oakley, 2007. The new biology: beyond the Modern Synthesis. Biology Direct. 2:30. DOI: 10.1186/1745-6150-2-30
  40. Wikipedia, the free encyclopedia . Human variability. 
  41. The Happy iconoclash . Meaning if life.. http://www.rationality.net/meaning.htm
  42. Nurcholish Madjid, 1998. Dialog agama-agama dalam perspetif Universalisme al-Islam. Dalam Komarudin Hidayat dan Achmad Gaus AF (Edt), 1998.  Passing over, melintasi batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 5-23
  43. Tom Jacob, SJ., 2006.  Paham Allah dalam agama, filsafat, dan teologi. Cet ke-6. Yogyakarta: Kanisius.
  44. Giancarlo Bosetti (Ed.), 2013.  Iman melawan nalar, perdebatan Joseph Ratzinger melawan Juergen Habermas. (Harry Susanto, SJ, penyadur). Yogyakarta: Kanisius.
  45. Franz Dahler, 2011.  Teori evolusi: asal dan tujuan manusia. Yogyakarta: Kanisius.
  46. Jacob D. Bekenstein, 2003. Information in the holographyc universe. Scientific American.

Oleh: Leo Sutrisno


Berita Terkait Dunia Pendidikan /

Kerjasama FKIP UNTAN dan Yayasan Kejayaan Islam Khatulistiwa (YKIK)

Seleksi Calon Mahasiswa Baru: Seleksi Mandiri 2015

SBMPTN 2015 : 693 Ribu Calon Mahasiswa Siap Perebutkan Kursi di 74 PTN

Tanjungpura Nama Kampusku

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri: SBMPTN 2015