Creativity teaching

Opini Ilmiah


Kamis, 09 April 2015 - 08:07:51 WIB | dibaca: 893 pembaca


Oleh: Leo Sutrisno
Dalam kasanah penelitian pendidikan di abad ke-21, kreativitas menjadi salah satu topik yang cukup hangat. Misalnya, Para menejer anggota Asosiasi Menejemen Amerika Serikat (2008) menyatakan bahwa: komunikasi (79.2%), berpikir kritis (73.3%), kolaborasi (72.3%) dan kreativitas/inovasi (66.6%) merupakan ketrampilan utama di abad ke-21 yang harus dimiliki oleh para karyawan.

Karena itu, ketrampilan-ketrampilan ini selayaknya menjadi salah satu mata kajian yang utama dalam bidang pendidikan. Salah seorang akademikus di bidang psikologi kesohor dari Amerika Serikat yang mendedikasikan hidupnya di bidang kreativitas adalah Ellis Paul Torrance (8 Oktober, 1915 – 12 Juli, 2003). Dari tangannya terbit 1 871 tulisan, baik dalam bentuk buku (88), bagian dari buku tulisan bersama (256), artikel di jurnal laqporan penelitian, manual, dan tes (538), tulisan populer 162, makalah yang disajikan dalam seminar/konferensi (408), serta  tulisan pengantar buku (64). Karya-karyanya saat ini menjadi rujukan di seantero dunia.

Ia menentang paham yang mengatakan bahwa kreativitas itu merupakan bagian alamiah dari kodrat manusia. Kreativitas bersifat bewaan. Baginya, kreativitas merupakan suatu ketrampilan khusus didapat dikembang lewat latihan, dan karena itu, kreativitas harus menjadi bagian dari kegiatan pembejaran. Bahkan, ia menghimbau agar kreativitas secara eksplisit diajarkan di sekolah. Ia juga telah menyusun sejumlah tes kreativitas yang berstandar internasional.

Trisha Riche, salah seorang guru ‘top-10 di AS’ yang bekerja di TK inklusif di SD Brown,  Jacksonville, Florida, (2011) menyajikan 22 contoh kegiatan yang dapat digunakan untuk menumbuh-kembangkan kreativitas para siswa sekolah dasar. Berikut beberapa contohnya.

Aktivitas: “The game of Learning”
Siswa diajak duduk melingkar. Tujunkkan dua buah bola atau benda-benda yang lain yang dapat dengan mudah diteruskan antar siswa secara bergiliran.

1.    Saya tahu kata itu.
Guru mengucapkan sebuah kata. Misalnya, “ayam”. Kemudian dilajutkan, “Siapa yang tahu kata dengan hurup awal ‘a’?”. Kepada salah seorang siswa yang mengangkat tangannya guru memberi salah satu bola yang dari awal dipegangnya. Begitu dapat mengatakan kata yang betul, misalnya, ‘apam’ , guru mengajak ‘toss’ bola. Sekaligus memberikan bolanya kepada siswa itu. Selanjutnya, siswa ini diminta mengucapkan sembarang kata yang lain dan siswa yang lain mencari kata dengan hurup yang sama dengan kata yang baru saja diucapkan. Permainan selesai setelah semua kebagian mengucapkan kata baru yang harus diteruskan oleh yang lain. Permainan ini bisa diubah bukan hurup awal sebuah kata tetapi hurup-hurup lain yang membentuk kata itu.

2.    Saya punya pilihan kata yang lain
Aturan dan langkah saa dengan contoh no. 1. Tetapi, tugasnya mencari kata lain yang cocok/berhubungan dengan kata yang diucapkan pertama. Misalnya, guru mengucapkan dua kata  “mata kaki”. Siswa diminta mencari kata lain (selain ‘kaki’) yang cocok jika disambungkan dengan kata ‘mata’. Misalnya, ‘mata kucing’. Selanjutnya, siswa yang mengucapkan ‘mata kucing’ diminta melanjutkan mengucapkan dua kata lain yang terkkait dengan ‘kucing’ atau dua suku kata lain yang berbeda.

3.    Saya tahu bilangan berikutnya
Langkah yang sama dapat diterapkan pada matematika. Misalnya, menemukan bilangan yang berada pada urutan berikutnya. Sebagai ilustrasi, guru berkata “Kita akan mermain kelipatan suatu bilangan. Saya punya bilangan  3 (tiga). Berapa kelipatannya?”. Salah seorang siswa yang angkat tangan berkata ‘6’. Guru melanjutkan, “Berapa kelipatan 6 (enam)?” dst.

4.    Saya tahu hurup berikutnya
Permainan dan aturan masih sama. Topiknya tentang ‘ejaan’. Guru berkata, ‘Kita akan mempelajari ejaan sebuah kata. Ayo kita mulai dari kata ‘berubak’. Siapa yang tahu nama hurup pertama kata ini?” Siswa pertama menyebut ‘b’. Siswa kedua menyebut ‘e’. Siswa ketiga menyebut ‘r’ dst.

5.    Saya tahu sinonimnya
Permianan tetap sama. Tetapi topiknya ‘sinonim’ dari sebuah kata. Misalnya, guru mengucapkan kata ‘untuk’. Siswa menjawab ‘bagi’ dst.

6.    Menguatkan ketrampilan yang lain.
Permianan sama tetapi digunakan pada mata pelajran yang lain. Misalnya, ‘Aku tahu uap jika didinginkan akan menjadi ....!’ atau ‘Aku tahu lampu lalu lintah di perempatan Hotel Garuda berwana merah. Karena itu, semua kedaraan harus....?’. dst.

Kegiatan: Mencicipi rasa seni kreativitas
7.    Gunakan berbagai suara dan aksentuasi pada waktu membaca sebuah cerita. Seperti yang dilakukan oleh para dalang yang sedang pentas.

8.    Menggunakan pakaian yang sesuai dengan tokoh dalam sebuah cerita yang sedang dibaca.

9.    Kelas kelas ke tempat-tempat yang sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan. Misalnya, ketipa sedang membicarakan bunga, siswa diajak ke taman sekolah (walaupun sangat sederhana)

Inilah sejumlah contoh kegiatan yang sederhana yang dalam memberi kesempatan para siswa mengembangkan kreativitasnya. Kunci keberhasilan dari ‘creativity teaching’ adalah para guru mesti juga kreatif. Sudah seleyaknya, para guru juga mulai mengurangi kegiatan ‘copy–paste’ atau  kegiatan ‘berburu contoh’. Kini saatnya guru berinovasi, berimprovisasi, berkreasi, keluar dari zona aman dengan cara meniru belaka.

Sudah tentu, para guru yang kreatif juga punya jiwa ‘resk taker’. Tidak takur menerima resiko jika inovasinya tidak berhasil. Semoga!


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Leo Sutrisno

Selamat Datang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak

Penerimaan Proposal Hibah Penelitian Dosen Pemula untuk Tahun Pendanaan 2016

Selamat Menghadapi Ujian Tengah Semester

Mencegah Penyalahgunaan Narkotika

Mengajar dengan pedekatan resiprokal