Cerdas Menerima Kekalahan

Opini Ilmiah


Senin, 14 April 2014 - 13:24:40 WIB | dibaca: 1203 pembaca



PEMILU baru saja selesai. Sekarang ini sedang proses penghitungan dan rekapitulasi suara untuk menetapkan siapa diantara calon legislatif (caleg) yang menang atau terpilih, dan dalam waktu tidak lama akan ditetapkan dan dilantik menjadi anggota DPR, DPD dan DPRD. Meskipun masih dalam proses penghitungan dan rekapitulasi suara, diantara caleg tersebut sudah ada yang mengetahui bahwa mereka menang atau terpilih dan ada pula yang memastikan mereka gagal/kalah atau tidak terpilih. Kepada yang menang atau terpilih, penulis sampaikan selamat dan jangan lupa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmatNya untuk menjalankan amanah rakyat, sementara kepada yang gagal/kalah atau belum terpilih, tidak harus masuk rumah sakit jiwa sekalipun telah disiapkan atau minta dikembalikan apa saja yang sudah diberikan kepada konstituen. Penulis sampaikan sebaiknya bersikap cerdas menerima kekalahan itu, yakni bersikap sabar, ambil hikmahnya dan jadikan sebagai pembelajaran bermakna.

Ingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu (karena kalah), padahal itu baik bagimu, Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu (karena menang), padahal itu tidak baik bagimu. Allah SWT mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah:216).
Di ayat lain, Allah SWT berfirman, “Allah Swt memberi kekuasaan kepada orang yang dikehendakiNya dan mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendakiNya, dan Allah Swt sangat mengetahui segala sesuatu”.
Orang bijak berkata, “Hadiah terbaik tidak selalu terbungkus indah dan rapi. Kadang Tuhan membungkusnya dengan masalah, kegagalan dan kekalahan, tetapi di dalamnya pasti ada berokah, terutama bagi mereka yang ikhlas (cerdas) menerimanya”.

Sukses terpilih menjadi seorang pemimpin tidak dapat dilepaskan dari kegagalan demi kegagalan atau kekalahan demi kekalahan. Sejarah mencatat, tidak sedikit pemimpin besar dan pemimpin sejati yang sangat dihormati adalah pemimpin yang sering mengalami kekalahan dalam proses pemilihan, tetapi mereka cerdas menerima kekalahan itu sehingga mereka dihormati umat manusia, seperti presiden Abraham Lincoln mengalami setidaknya 16 (enam belas) kali kekalahan sebelum berhasil menjadi presiden Amerika ke-16 dan Sun Yat Sen mengalami sedikitnya 10 (sepuluh) kali kekalahan sebelum ditetapkan menjadi pemimpin Cina modern yang sangat dihormati dan disegani dunia.

Pembelajaran bermakna dari pemilu kali ini, terutama bagi caleg yang belum beruntung atau kemenangannya masih tertunda; (1) menang atau kalah dapat dikembalikan pada dua hal, yakni bersatu dan berjuang. Kekalahan selalu terjadi karena lemahnya persatuan atau persatuan semu yang terbungkus kemunafikan, di sana banyak dusta diantara mereka. Selain persatuan, strategi perjuangan sangat menentukan sebuah kemenangan dan ia dari waktu ke waktu  membutuhkan penyempurnaan atau tidak boleh stagnan. Jadi, Jika ingin menang, maka harus bersatu dan berjuang; (2) di suatu kesempatan, penulis mendengat stateman politisi senior, beliau mengatakan, jika tidak ada uang jangan berpolitik praktis karena politik itu membutuhkan biaya besar atau mahal. Statemen politisi senior tersebut seperti ada benarnya. Sudah menjadi pengetahuan publik, ibarat”Kentut”, ada bau tak sedap, tetapi susah membuktikan siapa yang mengeluarkan angin busuk itu, ada politik transaksional, politik uang, serangan fajar dan sebagainya. Terkait biaya politik, AM. Fatwa menyatakan hal tersebut tidak semua benar, kecuali bagi mereka yang baru saja masuk ke dalam kancah politik praktis. Menurut beliau yang penting bagi seorang politisi agar terpilih adalah membangun jaringan (networking) sejak awal/lama secara solit melalui aktivitas nyata yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi konstituen.  

Caleg yang sukses adalah caleg yang cerdas menerima kekalahan, dan mau belajar mengoreksi diri atas kekalahan/kegagalannya, dan membenamkan diri dalam berbagai kesulitan. Pelajaran penting dari pengalaman menghadapi kesulitan, kekalahan dan kegagalan itu adalah kecerdasan dalam merespon masalah yang dihadapinya dalam bentuk perencanaan dan tindakan nyata dan terukur.

Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya “Adversity Quotient” mengemukakan beberapa variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskan kualitas cerdas tidaknya caleg dalam menerima kekalahan, yakni; kendali diri (self control), asal usul dan pengakuan (origin and ownership), jangkauan (reach) dan daya tahan (endurance).
Control atau kendali adalah dimensi pertama bagi seorang caleg sejati. Seorang caleg sejati menerima kemenangan dan kekalahan dalam kondisi emosional yang terkendali atau stabil. Ketika menang tidak berpesta pora, demikian pula ketika kalah tidak kebakaran jenggot. melainkan menerima dengan lapang dada.
Origin dan Ownership mengakui sumber kekalahan/kegagalan itu dari dirinya. mereka lebih melihat ke dalam dirinya sendiri tidak menyalahkan orang lain. Berpikir negatif terhadap kompetitornya, justru membuat mereka stress dan kehilangan kekebalan terhadap penyakit, akhirnya sakit.

Reach atau jangkauan adalah memaknai kekalahan dan kegagalan tidak menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupannya.
Kekalahan sekarang ini hanya terjadi di sini, dan tidak merembes di tempat lain atau kegagalam dalam pemilihan di tempat ini bukanlah kekalahan untuk pemilihan-pemilihan di tempat lain. Bagi sang kandidat yang mengalami kekalahan tidak membawa kekalahan ke dalam lingkungan keluarganya.  
Endurance atau daya tahan bermakna bahwa kekalahan bersifat sementara, bukanlah sebuah takdir dan tidak bertahan untuk selamanya, kesempatan memenangkan pemilihan di masa-masa yang akan datang masih terbuka lebar tergantung bagaimana mensikapi kekalahan tersebut dan mengusahakan kemenangan selanjutnya.

Beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seorang calon pemimpin yang memiliki kecerdasan tinggi menerima kekalahan, yakni mau mendengar (listening) apa saja informasi yang berkaitan dengan kekalahannya, setelah itu melakukan eksplorasi terhadap informasi yang diperolehnya. Kemudian informasi tersebut dianalisis secara cermat guna mengetahui penyebab kekalahannya dan setelah memperoleh kesimpulan dan rekomendasi dari hasil analisis terhadap kekalahannya itu, langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan tindakan nyata dan bermanfaat bagi konstituen dan masyarakat pada umumnya (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Mal Praktek Pembelajaran

Melahirkan Generasi Pluralistik

Pendidikan Konsensus Politik

Pemimpin Pemecah Masalah

Kembali pada Keluarga