Cerdas Memberi Peringatan

Oleh: Aswandi

BEBERAPA tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan, “Jika kita bersatu, tidak terpecah belah, tidak saling menyalahkan, dan tidak berjarak satu sama lain. Kita bukan hanya kuat sebagai bangsa yang besar, tetapi menjadi bangsa yang maju dan sejahtera”. Sekarang ini perilaku suka menyalahkan oleh mereka yang tidak berbuat dan sangat merusak negeri ini telah mewabah dalam masyarakat kita. Mengapa mereka menyalahkan, sementara mereka sendiri tidak berbuat, bukankah lebih baik diam?, demikian pesan Rasulullah Saw dalam sebuah sabdaNya.

Dalam teori hukum kekuasaan, bahwa; “kepribadian suka menyalahkan, terutama suka menyalahkan atasan atau pemimpin adalah kesalahan terburuk dari segala kesalahan”, demikian Robert Greene (2007) dalam bukunya “The 48 Laws of Power”.
 
Dibagian lain ia mengingatkan agar “Senantiasa membuat atasan Anda merasa superior. Walaupun Anda ingin menyenangkan hati mereka atau membuat mereka merasa terkesan, dan jangan terlalu berlebihan dalam menunjukkan bakat-bakat Anda. Jika tidak, Anda hanya akan berhasil memancing reaksi sebaliknya, memancing perasaan takut, perasaan tidak aman dan tidak nyaman pemimpin Anda. Buatlah atasan Anda tampak lebih brilian dari pada sesungguhnya, maka Anda akan memperoleh kekuasaan terbesar. Anda tak bisa menghabiskan hidup Anda dengan mencemaskan perasaan orang lain, terlebih lagi perasaan atasan Anda.
 
Dalam hukum kekuasaan itu, jika Anda tampak lebih baik dari atasan Anda, maka atasan atau pemimpin Anda berpura-pura tertarik dan simpati kepada Anda. Lihatlah selanjutnya, ia akan mengganti Anda dengan seseorang yang lebih bodoh, tolol, lebih tidak menarik, dan lebih tidak mengancam. Hukum kekuasaan menegaskan bahwa, “Sesungguhnya tidak semua pemimpin selalu menyenangi kepintaran dan keunggulan bawahan atau pengikutnya, tetapi mereka lebih menyenangi loyalitasnya.

Jika kelihatan Anda sebagai bawahan atau pengikut pintar dan mempunyai berbagai kelebihan, keahlian, dan keunggulan dari yang lain, bukan promosi dan pemberdayaan yang akan Anda dapatkan, melainkan banyak orang, baik secara pribadi maupun kelompok menjadikan Anda sebagai musuh bersama yang bertujuan menghabisi Anda”. Mereka lupa bahwa sebuah strategi mempertahankan kekuasaan adalah melalui pemberdayaan bawahan atau pengikut.

Sekarang ini semestinya kita semua harus belajar agar cerdas menyalahkan orang lain sebagaimana telah dicontohkan oleh Imam Hambali, seorang ulama besar yang mempunyai murid 5.000 orang. Kepada muridnya ia berpesan, hanya 10% muridnya yang benar-benar mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya, sebagian besaar (90%) dari mereka datang di majlid ilmu, dimotivasi untuk melihat lansung teladan yang dicontohkan  oleh gurunya, mulai cara gurunya berbicara dan berpakaian). Ahli kurikulum menyebutnya “Hidden Curriculum”. Salah seorang murid Imam Hambali berprofesi sebagai guru menceritakan pengalamannya didatangani oleh Imam Hambali di tengah malam, dan hal ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Pintu rumahnya diketuk sambil mengucapkan salam. Salam dijawab seraya bertanya; “Anda siapa?”. Dijawab, “Saya Ahmad”. Kembali ditanya, “Ahmad yang mana?”. Tamu menjawab, “Saya Ahmad bin Hambal. Pintu dibuka ia terkejud yang datang adalah gurunya Imam Hambali murid dari Imam Syafi’i. Setelah diketahui yang datang di tengah malam adalah gurunya, muridnya bertanya, “Ada apa mencari saya?, Imam Hambali tidak menjawab hanya mengisyaratkan dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebuah isyarat meminta saya agar jangan berisik. Imam Hambali masuk secara perlahan-lahan agar istri dan anak-anak dari muridnya tidak terbangun dari tidurnya. Imam Hambali kembali bertanya, “Apakah kamu sudah yakin istri dan anak-anakmu sudah tidur?”, Dijawab, Insya Allah mereka sudah tidur. Setelah yakin, hanya mereka berdua yang belum tidur di saat itu, Imam Hambali mulai bercerita, “Tadi pagi saya melihat kamu sedang mengajar, kamu duduk di bawah pohon yang rindang, sementara muridmu duduk di tempat yang tidak terlindungi pohon, seorang guru tidak boleh seperti itu, semestinya muridmu yang duduk di bawah pohon sementara kamu selaku gurunya berdiri atau duduk di tempat yang panas. Muridnya bertanya, “Kenapa pak guru tidak mengingatkan atau menegur saya tadi saat mengajar. Dijawab oleh gurunya. Kamu adalah salah satu diantara muridku, tidak boleh seorang guru menyalahkan muridnya dihadapan orang lain, dihadapan muridnya, bahkan dihaadaapan istri dan anaknya. Aku datang ke rumahmu di tengah malam yang sunyi ini karena aku ingin mengingatkan kamu menunggu istri dan anak-anakmu sudah tidur karena merekapun tidak boleh tahun bahwa kamu telah melakukan kesalahan besar dalam mendidik murid-muridmu   

Amy Chua (2011) dalam bukunya “Battle Hina Hymn of The Tiger Mother “. Sebuah buku mengenai cara mendidik anak agar sukses ala China yang paling kontroversia ini menjelaskan satu dari tujuh keyakinan ibu China yang telah berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi murid berprestasi dan berkarakter atau berakhlak mulia adalah, “Kalau anak anda sampai pernah berbeda pendapat atau berkonflik dengan guru atau pelatihnya, maka orang tua harus membela guru atau pelatih anaknya”. Apabila orang tua belum siap untuk berpihak kepada guru berarti orang tua tersebut belum memberikan hak mendidik kepada guru dari anak-anak mereka, dan jika demikian maka sangat dianjurkan agar orang tua lebih baik menarik anaknya untuk pindah ke sekolah lain.

Nasehat Imam Hambali kepada muridnya yang berprofesi sebagai guru dan Ibu China kepada orang-tua China yang telah berhasil melahirkan generasi berkualitas China menjadi pembelajaran bermakna bagi kita, karena menempatkan harkat dan martabat profesi guru sebagai pendidik yang berwibawa, Bukan menghinakannya di hadapan muridnya dan orang banyak sebagaimana sering terjadi akhir-akhir ini, sedikit saja guru menegur siswanya, siswa tersebut melapor kepala orang tuanya, orang tua bukan membela guru dari anaknya, melainkan turut menyalahkan guru tersebut, dan tidak hanya selesai di situ, melainkan dilaporkan ke polisi, dimuat dan diberitakan di media massa agar semua orang mengetahui kebodohannya.

Semoga sekelumit contoh di atas menyadarkan kita untuk lebih cerdas dalam menyalahkan seseorang yang diyakini bersalah. Orang shaleh dan orang kudus tidak senang kepada siapa saja yang bodoh atau suka menyalahkan orang lain di hadapan publiknya sebangaimana sering kita saksikan di layar televisi, di radio, dan di media massa cetak lainnya. Jangan salahkan jika ada ustaz melarang pemirsa menonton televisi, mendengar radio dan membaca media cetak yang suka menyiarkan perilaku kurang terpuji, yakni kurang cerdas menyalahkan. Orang bijak berkata; jika kritikmu tajam janganlah sampai melikai, Jika kau merasa lebih tahu janganlah menggurui, dan jika gerakmu lebih cepat janganlah mendahului  (Penulis adalah dosen FKIP Untan)