Buku Perubah Peradaban

Opini Ilmiah


Rabu, 23 April 2014 - 07:49:18 WIB | dibaca: 1380 pembaca



HARI ini, dunia disibukkan memperingati hari buku internasional, buku diyakini sebagai jendela dunia dan menjadi sumber penting bagi perubahan sebuah peradaban. Robert B. Downs (2001) dalam bukunya “Books that Change the World” menegaskan bahwa sepanjang sejarah dapat kita temui bukti bertumpuk-tumpuk yang menunjukkan bahwa buku bukanlah benda yang remeh, jinak, dan tak berdaya, malah sebaliknya buku seringkali adalah biang yang bersemangat dan hidup, berkuasa mengubah arah perkembangan peristiwa yang kekuatannya tak terhingga, kadang-kadang demi kebaikan dan ada pula demi keburukan atau bentuk penjajahan baru (neocolonialisme). Beberapa buku atau kitab pengubah sejarah; kitab-kitab suci, Il Principe karya Niccolo Machiavelli, Common Sense karya Thomas Paine, Wealth of Nations karya Adam Smith, Essay on the Principle of  Population karya Thomas Malthus, Das Kapital karya Karl Marx, Mein Kampf karya Adolf Hitler, Principia Mathematica karya Sir Isaac Newton, Die Traumdeutung karya Sigmund Freud, Origin of Species karya Charles Darwin, dan Relatitity karya Albert Einstein.

Zaki Najib Mahmud, pakar filsafat Mesir mengutip hasil penelitian seorang profesor di Universitas Harvard yang telah melakukan penelitian di 40 negara berkaitan  kemajuan dan kemunduran yang dialami negara-negara tersebut sepanjang sejarah. Faktor utama yang mempengaruhi kemajuan dan kemunduran negara tersebut adalah bacaan atau buku yang disuguhkan dan dibaca generasi mudanya dua puluh tahun sebelumnya, dikutip dari Quraish Shihab (1994) dalam bukunya “Lentera Hati”. Penelitian terakhir, tidak harus menunggu 20 tahun, hanya dalam waktu 5 tahun, buku memberi pengaruh besar terhadap perubahan perilaku seseorang.

Ali Akbar Velayati (2010), seorang profesor bidang kedokteran dan menteri luar negeri Republik Islam Iran selama 16 tahun dalam sebuah bukunya “The Incyclopedia of Islam and Iran” menyatakan bahwa proses transformasi pengetahuan dari sebuah peradaban melalui tiga cara yang terkait dengan dunia perbukuan, yakni; (1) gerakan penterjemahan, (2) berdirinya perpustakaan dan masuknya buku-buku baru, dan (3) datangnya para sarjana besar-besaran ke pusat-pusat ilmu dan pendidikan. Pendapat tersebut menguatkan keyakinan kita bahwa dunia perbukuan memiliki peran penting dalam mengubah peradaban,  

Ditemukannya mesin cetak, mesin ketik dan kertas, pikiran dan gagasan dapat dikomunikasikan ke banyak orang melalui buku, kemudian sejalan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, pikiran dan gagasan itu disampaikan, tidak hanya melalui buku cetak, melainkan juga melalui buku elektronik atau e-book.
Kehadiran e-book membawa banyak kebiasaan dan cara berpikir baru dalam budaya membaca. Berbekal satu alat baca digital atau e-reader sebesar 7 x 5 inci, seorang dapat menenteng ratusan, bahkan ribuan buku dalam sebuah perjalanan. Pencinta buku pun tidak lagi harus menyediakan ruangan dan rak khusus buku bermeter-meter panjangnya untuk menyimpan koleksinya. Bukan berarti era buku cetak selesai. Tidak juga, sebagian besar pengguna e-reader ternyata masih ke perpustakaan, juga ke toko buku untuk membeli buku baru cetakan. Ditemukan hanya 15% pemilik e-reader yang menghentikan kebiasaan mereka membeli buku, dan dalam 25 tahun terakhir ini, belanja buku di dunia ini lebih dari barang konsumen manapun, dikutip dari Tempo, Edisi 22-28 April 2013

Sebuah riset menyimpulkan, pembaca buku cetak dan e-book di Amerika Serikat; (1) membaca buku cetak di tempat tidur 43%, sementara e-book 45%; (2)  membaca buku cetak dalam perjalanan 19%, sementara e-book 73%; (3) membaca buku cetak dengan alasan lebih cepat diambil saat dibutuhkan 13% sementara e-book 83%; (4) buku cetak dipinjam orang 69% sementara e-book 25% dan (5) membaca buku cetak bersama anak 81% sementara e-book 9%; (6) membaca e-book melalui; PC atau laptop 42%, e-reader 41%, smartphone 29% dan tablet 23%.

Hasil riset menunjukkan bahwa 39% warga Amerika Serikat membaca berita lewat online. Fenomena tersebut mengharuskan sebuah majalah mingguan dari Amerika Serikat “Newsweek” versi cetak yang telah berusia 80 tahun tutup dan menggantinya dengan Newsweek versi digital”, dikutip dari Tempo edisi 28 Oktober 2012. Mensikapi maraknya media era digital sekarang ini, Bill Kovach dan Ton Rosenstiel (2012) dalam bukunya berjudul “Blur” mengingatkan agar para pembaca menjadi editor untuk dirinya sendiri, yakni memastikan kelengkapan informasi, kredibilitas sumber dan penyertaan bukti, bukan hanya ilusi.

Sekalipun, e-book, video, televise dan internet berkembang pesat akhir-akhir ini, tetap saja tidak bisa mengganti peran buku cetak sebagai sumber belajar yang efektif. Malcolm Gladwell (2006) dalam bukunya “Tipping Point” (international bestseller) mengemukakan bahwa dari sejumlah eksprimen, anak yang diminta membaca satu bab dari sebuah buku, kemudian diuji untuk mengukur pemahaman mereka atas informasi di dalamnya menghasilkan skor atau nilai lebih tinggi dibanding anak-anak yang mempelajari informasi serupa melalui sebuah tanyangan video dan televise”.

Jim Trelease (2008) dalam bukunya “Read Aloud Handbook” (international bestseller) mengatakan bahwa pemanfaatan buku sebagai sumber belajar terkait erat dengan budaya membaca, dan budaya membaca berhubungan dengan menguasaan kosakata dari sejak dini, penguasaan kosakata diperoleh melalui kebiasaan berdongeng.
Minat tinggi terhadap buku sangat dipengaruhi kebiasaan di rumah, seperti; (1) penggunaan waktu luang di rumah untuk membaca; (2) jumlah buku di rumah; (3) memiliki kartu perpustakaan dan anak sering di bawa ke perpustakaan; (4) anak sering dibacakan sebuah buku dan diceritai banyak dongeng.

Selain budaya membaca, buku berteman akrab dengan menulis, John Farndon (2011) dalam bukunya “The World Greatest Idea” menegaskan bahwa buku terkait erat dengan budaya menulis yang merupakan peristiwa sangat berdaya mengubah dunia, tanpa adanya tulisan atau buku generasi berikut kehilangan gudang besar pemikiran, dan namun sangat disayangkan sekarang ini kita menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Pentingnya peran buku dalam merubah peradaban, membuat seorang pengusaha kaya bernama John Wood rela meninggalkan kariernya sebagai eksekutif di Microsoft demi membangun 7.000 perpustakaan di seluruh pelosok dunia. Perubahan baginya hanya bisa terjadi karena ada yang datang untuk melayani, bukan datang minta dilayani. Memperhatikan uraian di atas, penulis mengajak para pembaca menggalakkan budaya mendongeng  bagi anak usia dini, budaya menulis dan membaca, serta menyediakan fasilitas yang berkaitan dengan dunia perbukuan (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)
 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Penyakit Narsistik

Matinnya Pemimpin Karismatik

Harapan pada Pendidikan Tinggi

Kebaya Identitas Perempuan Indonesia

Biarkan Mereka Berbeda