Bukan Kelas Dua

Opini Ilmiah


Selasa, 10 November 2015 - 10:13:23 WIB | dibaca: 528 pembaca


DALAM banyak kesempatan, bapak Edy Saundi Hamid selaku Ketua APTISI selalu mengingatkan bahwa lembaga pendidikan tinggi di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan jangan merasa inferior dan rendah diri karena perguruan tinggi di daerah bukan kelas dua, dikutip dari Republika, 5 Nopember 2015. Sebuah ungkapan perguruan tinggi “Bukan Kelas Dua” bermakna perguruan tinggi di daerah adalah berkualitas.   
 
Menurut penulis, ungkapan tersebut benar adanya. Faktanya, prestasi akademik dan prestasi non-akademik mahasiswa/i Untan di semua fakultas berjaya menjuarai berbagai event atau kompetisi, baik di dalam maupun di luar negeri, misalnya dua orang mahasiswi program studi Bahasa Mandarin FKIP Untan mewakili Indonesia di Kompetisi Ketrampilan Bahasa Mandarin (Chinese Bridge) di Beijing China, mereka mengharumkan nama bangsanya Indonesia, dan saat ini mereka mendapat beasiswa studi lanjut S2 di negeri Tirai Bambu (China).

Ingin rasanya menceritakan segudang prestasi generasi muda Kalimantan Barat yang sangat membanggakan ini, namun karena keterbatasan ruang opini, pada terbitan hari ini izinkan penulis menginformasikan prestasi yang telah dicapai oleh fakultas termuda di lingkungan Untan, yakni Fakultas Kedokteran Untan (FK Untan), semoga pada kesempatan lain prestasi mahasiswa dari perguruan tinggi dan program studi lainnya di Kalimantan Barat dapat diinformasikan kembali.

Fakultas Kedokteran Untan berdiri sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2005. Di usia yang masih sangat muda ini telah menorehkan banyak prestasi akademik lulusan (dokter) nya sejajar dengan beberapa dokter lulusan Fakultas Kedokteran Ternama lainnya di Indonesia, seperti FK UI, FK UGM, FK Brawijaya dan FK Unair. Dari tahun 2010 hingga tahun 2015 ini telah menghasilkan sejumlah dokter berkualitas. Tahun 2010 mewisuda 11 orang dokter dengan nilai tertinggi 82,5. Tahun 2011 mewisuda 24 orang dokter dengan nilai tertinggi 82,5. Tahun 2012 mewisuda 46 orang dokter dengan nilai tertinggi 84. Tahun 2013 mewisuda 30 orang dokter dengan nilai tertinggi 82,5. Tahun 2014 mewisuda 20 orang dokter dengan nilai tertinggi 82 dan di tahun 2015 ini meluluskan dokter dengan nilai 87,5 atau ranking ke-3 se Indonesia. Di samping itu mahasiswa/i FK Untan tercatat sebagai finalis olimpiade, mahasiswa berprestasi nasional dan finalis olimpiade mikrobiologi international di Thailand. Program Studi Farmasi dan Keperawatan pada FK Untan menunjukkan prestasi akademik tidak jauh berbeda. Prof. Dr. dr. Wahyuning Ramelan SP. And dan dr. Sugito Wonodirekso, MS (dua orang dosen FK UI yang pernah bertugas mengelola dan menjadi dekan di FK Untan) bercerita kepada penulis mengenai “semangat, motivasi belajar yang sangat tinggi pada diri setiap mahasiswa/i dan kualitas akademik mahasiswa/i FK Untan yang sangat membanggakan mereka, tidak berbeda dengan mahasiswa/i FK UI.

Tidak ketinggalan prestasi yang telah dicapai oleh mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya di Kalimantan Barat, seperti mahasiswa Tim Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Pontianak lolos mengikuti ajang “Shell Eco Marathon Tingkat Asia di Philipina Tahun 2016 kategori Mesin Diesel” bersama beberapa mahasiswa dari Fakultas Teknik terbaik lainnya di Indonesia. Sekali lagi, prestasi terbaik mereka membanggakan kita semua. Alhamdulillah.

Segudang prestasi yang telah dicapai oleh mahasiswa/i di berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Barat ini cukup menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah ini, “Bukan Kelas Dua”.
Beberapa catatan penting sehubungan prestasi mahasiswa/i dan/atau alumni perguruan tinggi di Kalimantan Barat ingin penulis sampaikan berikut ini.

Asumsi teoretik, prestasi akademik bermutu dipengaruhi oleh pembelajaran atau perkuliahan (tatap muka di kelas, praktek di laboratorium dan rumah sakit) secara  efektif. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor pendidik (dosen) dan karakteristik sibelajar, antara lain motivasi belajar mahasiswa/i yang tinggi sehingga kekurangan dan keterbatasan lainnya sedikit demi sedikit dapat ditutupi atau disempurnakan,

Prestasi akademik yang mereka capai tidak jatuh dari langit, melainkan hasil jerih payah, kerja keras, dan suka duka mereka, baik mahasiswa, dosen, pengelola dan sivitas akademika. Tidak jarang mereka diperlakukan secara tidak menyenangkan, namun mereka sabar menghadapinya dan mengatribusi perlakuan tidak menyenangkan tersebut secara positif sehingga tidak mempengaruhi dan mengurangi semangat belajarnya. Prestasi apapun yang dicapai di jalan yang sukar itu, akan terus tumbuh mekar dan berkembang secara mandiri dalam jabatan dan profesinya di kemudian hari, berbeda ketika prestasi dicapai karena sebuah proses yang dipaksakan.

Penulis amati, beberapa kampus menyemai virus mental berprestasi, berfungsi tidak sekedar menutupi kekurangan yang ada, melainkan berfungsi membentuk manusia pembelajar. Mereka mencari informasi dan pengetahuan di dalam dan di luar kampus secara sukarela. Banyak orang tua/wali mahasiswa mengatakan kepada penulis bahwa perilaku belajar anak mereka mengalami perubahan atau kemajuan pesat sekalipun sumber daya belajar masih sangat terbatas. Saat di sekolah menengah (SMA, MA dan SMK) dulu, semangat dan motivasi belajar anaknya biasa-biasa saja, namun setelah menjadi mahasiswa semangat dan motivasi belajar anaknya sangat tinggi, artinya kepemimpinan rektor/direktur, dekan, kajur, kaprodi, dan dosen terbukti berhasil membangun atmosfir akademik yang kondusif bagi pembelajaran.

Selain itu, tidak kalah pentingnya keinginan mereka untuk tetap berprestasi didorong oleh good image atau kesan yang baik, bermutu, prestisius, dan kampus tempat mereka menuntut ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dipersepsi oleh mereka memberikan harapan atau ekspektasi masa depan yang lebih baik.

Prestasi ini mengharuskan kita semua untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka, baik yang masih hidup maupun kepada mereka yang telah wafat atas jasanya mendirikan kampus yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat ini. Seorang filosof Yunani mengingatkan, “jika mereka tidak mengenal dan menghargai jasa pendahulu satu abad atau seratus tahun sebelum ia dilahirkan, sesungguhnya mereka layak disebut anak kecil”.

Sengaja keadaan ini penulis informasikan kepada para pembaca di daerah ini untuk menghilangkan stigma di tengah masyarakat bahwa mahasiswa/i dan/atau alumni perguruan tinggi di Kalbar kelas dua, padahal yang sesungguhnya tidak demikian. Kemudian, orang tua, keluarga mereka, dana seluruh warga masyarakat Kalimantan Barat harus merasa bangga, dan pemangku kepentingan, terutama pemerintah, pemerintah daerah dan pihak swasta tidak ragu memanfaatkan keahliannya untuk mengabdi memajukan daerah ini (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

IPK; Mitos atau Realitas

Menambah Jam Belajar

Pendidikan Bela Negara

Karakterku adalah Kebiasaanku

Bahasa Identitas Bangsa