Bicara Pemimpin

Opini Ilmiah


Selasa, 12 April 2016 - 08:09:29 WIB | dibaca: 628 pembaca


Oleh: Aswandi - Beberapa hari lalu, media massa, baik elektronik maupun cetak memberitakan Fahri Hamzah dipecat keanggotaan dan jabatannya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebuah partai politik dimana ia secara aktif ikut membesarkannya karena di persoalan etika, seperti; dinilai kurang santun atau frontal dalam berbicara, demikian diberitakan. Sahibul Anam selaku ketua PKS membenarkan berita tersebut dan menyatakan bahwa “Fahri Hamzah dinilai tidak sopan dalam berbicara dan tidak mencerminkan sebagai seorang kader partai dakwah”, dikutip dari Kompas, 6 April 2016. Ruhut Sitompul mengibaratkan Fahri Hamzah tidak menjaga mulutnya, ia lupa sebuah peribahasa lama, “mulutmu adalah harimaumu”. 

Sumber lain menyatakan bahwa pemecatan Fahri Hamzah karena dinilai tidak loyal kepada organisasi dan atasannya. Dari keterangan di atas
disimpulkan, alasan pemecatan Fahri Hamzah tersebut karena kurang santun berbicara dan kurang loyal pada organisasi/atasan.

Persoalannya harus jelas apa saja ukuran dari kesantuan berbicara atau berkomunikasi, sebab santun kata seseorang belum tentu santun menurut orang lain, demikian sebaliknya, Ada sebuah ungkapan, “Dalam dunia dimana semua orang berteriak, suara yang pelan mungkin akan terdengar lebih jelas”. 

Selain dinilai kurang santun berbicara, Fahri Hamsah juga dinilai kurang loyal terhadap organisasi/atasannya. Loyalitas seperti apa yang dimaksud dan diperlukan bagi organisasi sekarang ini? karena tidak semua loyalitas diperlukan dan dibolehkan seperti halnya “kharismatik” yang dimasa lalu sangat diperlukan dalam organisasi terutama bagi seorang pemimpin, namun sekarang banyak pakar managemen seperti Feter F. Drucker, menolak keras asumsi tersebut, mereka berpandangan bahwa kepemimpinan kharismatik tidak efektif lagi digunakan di era sekarang ini. 

Jika saat ini masih ada pihak yang mengedepankan makna loyalitas sebagai sebuah kepatuhan semu atau jumud dapat dipahami karena organisasi, tidak terkecuali partai politik masih terbelenggu atau tidak dapat melepaskan diri dari sebuah keyakinan, nilai atau value, kultur organisasi yang masih berorientasi pada kekuasaan dan masa lalu bukan orientasi pada kepengikutan dan masa depan. 

Greene (2007) dalam bukunya “The 48 Laws of Power” memberikan penjelasan bahwa “seorang pengikut (bukan pemimpin) jangan pernah terlihat lebih dari atasannya”, artinya senantiasa buatlah atasan Anda merasa superior, orang paling penting atau paling hebat. Walaupun Anda ingin menyenangkan hati mereka atau membuat mereka terkesan, jangan terlalu berlebihan dalam menunjukkan bakat dan potensi Anda, jika tidak Anda hanya akan berhasil memancing reaksi sebaliknya, memancing perasaan takut dan perasaan tidak aman atas posisi mereka. Buatlah atasan Anda tampak lebih brilian dari pada sesungguhnya , maka Anda akan memperoleh kekuasaan terbesar”.

Fenomena Fahri Hamzah tersebut di atas penulis coba memahaminya dari pendapat para ahli berikut ini.

Santun berbicara merupakan hal penting bagi seorang pemimpin karena sangat mempengaruhi eksistensi kepemimpinan dan kekuasaannya.
Murray (2015) dalam bukunya “The Language of Leaders” mengatakan bahwa para pemimpin inspiratif yang membuat para pengikutnya tetap bergairah untuk terkoneksi pada visinya adalah mereka yang memiliki keahlian mendengrkan dan berbicara. 

Clarke dan Crossland (2006) dalam bukunya “The Leader’s Voice” mengatakan bahwa kegeniusan kepemimpinan adalah berbicara dengan suara yang melampaui sikap sinis, ragu dan tak pasti”.

Anderson dalam sebuah bukunya “Language and Power” menjelaskan bahwa kesantunan berbahasa yang digunakan oleh seorang pemimpin menentukan keberlanjutan kepemimpinan dan kekuasaannya. Dicontohkan, bapak Soeharto, selaku Presiden RI ke-2 berkuasa selama 23 tahun sebagai buah dari kesantunan beliau dalam berbicara, misalnya dalam semua pidato dan sambutannya, hampir tidak ditemukan beliau menyebut dirinya “Aku atau Saya”, melainkan selalu menggunakan kata “Kita”. Hal ini menunjukkan kesantunan beliau dalam berbicara. 

Demikian juga raja Thailand, rakyat sangat menyenangi dan mencintainya karena beliau dikenal sangat santun dalam berbicara dengan siapa saja lawan bicaranya. Agama mengajarkan agar umat manusia dalam aktifitasnya hendaklah memperhatikan atau mengingat pesan “Benar dan Baik”, artinya sesuatu yang benar harus disampaikan dengan cara baik, dan sesuatu kebaikan Jika tidak disampaikan sengan cara baik, boleh jadi memberi dampak yang kurang baik pula.

Aristoteles, seorang filosof Yunani mengatakan hal yang sama, yakni “Sampaikan kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh rasa tanggung jawab”.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, barang kali diperlukan pemahaman baru tentang dua hal yang menjadi alasan pemecatan Fahri Hamzah sebagai anggota partai PKS, yakni santun berbicara dan loyalitas pada organisasi agar partai politik dan organisasi pada umumnya menjadi wadah pemberdayaan umat manusia. 

Pola pikir dan budaya organisasi berdasarkan hukum kekuasaan berbau asal bapak senang seperti itu barangkali tidak disenangi, bahkan dilawan oleh Fahri Hamzah yang akhirnya berdampak pada pemecatan dirinya.
Sikap istiqamah beliau barangkali jauh lebih baik dan cara berpikir beliau jauh lebih maju atau visioner dan diperlukan dalam dunia perpolitikan sekarang dan masa yang akan datang (Penulis dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Catatan Ujian Nasional

Aktor Kekerasan

Rasionalisasi PNS

Tuna Rungu di Era Modern

Pemeringkatan Perguruan Tinggi