Biarkan Mereka Berbeda

Opini Ilmiah


Senin, 21 April 2014 - 09:35:03 WIB | dibaca: 466 pembaca



ALLAN dan Barbara Pease (2004) dalam bukunya “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps”, sebuah buku the international best seller ini, mereka menegaskan bahwa lelaki dan perempuan itu adalah berbeda. Bukan berarti yang satu lebih baik atau lebih buruk dari lainnya, tetapi memang berbeda. Saat ini masyarakat “dipaksa” meyakini bahwa lelaki dan perempuan memiliki kecakapan, bakat dan potensi yang sama.

Seorang perempuan pembela paham feminisme mengatakan bahwa perempuan sama dengan lelaki, bahkan perempuan memiliki fungsi melebihi lelaki, karena  ia  mengandung, melahirkan, menyusui, dan mensturasi, sementara lelaki tidak.

Agar lebih berhati-hati terhadap kesalahan pemaknaan kesetaraan gender tersebut, karena banyak negara yang telah memiliki indeks yang tinggi dalam kesetaraan gender terbukti tidak selalu berkorelasi positif terhadap kesejahteraan, keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupannya.

Dan ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa mereka berbeda.

Louann Brizendine (2010) dalam bukunya “Female Brain” merangkum hasil penelitian tentang otak perempuan selama 20 tahun, menyimpulkan bahwa “Otak perempuan memiliki kemampuan unik yang menakjubkan, seperti ketangkasan verbal yang luar biasa, kemampuan untuk menjalin persahabatan yang mendalam, kemampuan dalam membaca wajah dan nada suara, kemampuan untuk mengenal emosi dan keadaan pikiran, serta kemampuan untuk meredakan konflik”..

Dibagian lain, ia mengatakan bahwa keterampilan social, verbal, dan asosiasi anak perempuan berkembang beberapa tahun lebih awal dari pada keterampilan anak lelaki.

Uji riset lain menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat intelegensi rata-raata 3 (tiga) persen lebih tinggi dari pada lelaki.

Rana Megawangi (1999) mengatakan hal yang sama sebagaimana tertulis pada judul bukunya “Membiarkan Berbeda” bahwa telah terjadi kesalahan pemaknaan tentang kesetaraan gender, yakni sama rata (fifty-fifty) tanpa merbedakan peran dan fungsi antara lelaki dan perempuan sebagaimana fitrahNya”.  

Jauh sebelum gerakan para feminism lahir, sesungguhnya Islam telah mengajarkan dan memberikan tempat yang layak kepada kaum perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya. Fatima Mernissi (1994) dalam sebuah bukunya “The Forgotten Queens of Islam” mencatat para ratu dalam Islam yang telah berbuat banyak membangun peradaban di muka bumi ini sekalipun tidak sedikit diantara mereka dilupakan.

Dan Abrams (2011) dalam bukunya “Man Down” mengemukakan banyak bukti tak terbantahkan bahwa wanita lebih baik dari lelaki dalam berbagai hal, seperti di dunia politik lebih sedikit melakukan korupsi, memiliki memori lebih baik, lebih cakap dalam berinvestasi, lebih cerdik dalam menghindari kejahatan di internet, lebih tekun dalam belajar, lebih unggul berinteraksi di media sosial, mengemudi, menahan rasa sakit, lebih dipercaya menjadi polisi, dokter, investor, manajer, dan pemimpin”.

Dampak dari keyakinan yang salah melihat perempuan selama ini melahirkan kesalahanpahaman berikutnya dalam memaknai kesetaraan gender, yakni sama rata tanpa ada perbedaan peran atau fungsi antara lelaki dan perempuan. Misalnya kesalahan atau memaksakan penetapan kuota 30% perempuan di legislatif.

Menurut penulis, penetapan kuota perempuan di bidang politik tersebut adalah satu bentuk pelecehan terhadap kaum hawa di negeri ini. Mengapa, fakta dimana perempuan telah memiliki prestasi akademik tinggi melebihi prestasi akademik para lelaki dihampir semua jenjang pendidikan, terutama pada jenjang sekolah menengah dan pendidikan tinggi yang semestinya kuota tersebut lebih dari 30 persen, tetapi kita pun tidak boleh menutup mata, masih banyak kaum perempuan ini yang belum berdaya, yang tentu tidak diharuskan atau dipaksa agar mereka memasuki dunia politik untuk sekedar memenuhi kuota 30 persen atau menjadi pelengkap penderita, apalagi dikaitkan dengan partisipasi politik sebagaimana amanah Peraturan KPU Nomor: 7 Tahun 2013 bahwa “Daftar bakal calon menyerahkan sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan di setiap daerah pemilihan”.

Tempo, 21 April 2013 memberitakan bahwa “partai-partai kesulitan memenuhi kuota perempuan sebesar 30 persen calon legislator karena terganjal izin suami, dan izin suami menjadi urusan penting hari-hari ini”. Restu suami sebagai orang terdekat adalah sangat penting karena sukses seorang selalu dipengaruhi oleh adanya dukungan orang yang dekat dengannya. BJ. Habibie menegaskan bahwa “Di Balik seorang tokoh (orang sukses), selalu tersembunyi peran 2 (dua) orang perempuan, yakni ibu dan istri”, tentu termasuk juga suami kita.

Para aktivis feminisme di Afrika menuntut hak yang sama atau kesetaraan gender bagi perempuan di bidang politik, tetapi sebagian besar anggota parlemen negara tersebut tidak menyetujuinya. Merekapun menyerukan baikot, yakni melarang isteri atau perempuan berhubungan seks dengan anggota legislative selama seminggu atau sampai batas waktu aspirasi kaum perempuan terpenuhi. Terbukti baikot tersebut sangat ampuk atau tokcer, membuahkan hasil, semua keinginan atau aspirasi perempuan diputuskan oleh parlemen untuk dipenuhi belum seminggu sejak baikot tersebut dilakukan. Dasar lelaki, sejago apapun dia, ternyata selalu kalah di atas kasur, mengangkat dua buah telur saja harus meminta bantuan kepada se ekor burung, jangankan harus mengangkat dua buah gunung. .

Sikap keras anggota parlemen untuk menolak permohonan para pegiat feminisme karena mereka terinspirasi dari pandangan seorang pejuang perempuan, yakni Maryam Jamilah yang mengatakan bahwa cara terbaik dalam menaklukan sebuah bangsa, maka tariklah perempuannya agar ke luar dari rumah, artinya sibukkan mereka bekerja di luar rumahnya, sementara kewajibannya mengurus rumah tangganya, mengurus suami dan anak-anaknya diserahkan kepada orang lain, diserahkan kepada para pembantunya. Amit-amit.
    
Para feminist sangat yakin bahwa kesetaraan gender dapat diwujudkan melalui perubahan budaya, legislatif, pendidikan dan pengasuhan anak, bukan karena adanya perbedaan yang secara alamiah, biologis, genetik berbeda.

Di bagian lain, Ratna Megawangi mengemukakan beberapa usul untuk mewujudkan kesetaraan gender, antara lain; (1) melalui usaha meluruskan teologi feminism yang keliru, dan kekeliruan teologis tersebut sangat berpengaruh terhadap program pemberdayaan perempuan selama ini. seperti; (a) keikhlasan perempuan menerima penciptaan dirinya dari sebagian kecil (rusuk) dari lelaki (Adam); (b) keikhlasan perempuan untuk menjadi pengikut dari seorang lelaki sebagai pimpinannya sekalipun ia lebih kredibel dari kaum lelaki itu; (2) usaha menghapuskan nature feminine pada tingkat individu dan menggantinya melalui transformasi sosial, antara lain melalui pendidikan dan pola pengasuhan. Khaled Hosseini menyatakan bahwa “Jika Anda mendidik seorang lelaki, Anda mendidik seorang individu, tetapi jika Anda mendidik seorang gadis, Anda mendidik sebuah komunitas”, dikutip dari Greg Mortenson (2010) dalam bukunya “Stones into Schools”.
Penulis berpendapat, Dari pada menuntuk kesetaraan gender yang keliru dan tidak jelas arahnya, tentu jauh lebih penting, jadilah seorang perempuan sebagaimana fitrahNya yang tentu tidak sama atau berbeda dengan lelaki. Mulai dari hal yang sederhana, misalnya berpakaian yang sopan, terutama di luar rumah, karena semua lelaki tidak senang isterinya digoda dan tidak ikhlas menjadi anggota dari sebuah organisasi bernama Ikatan Suami Takut Isteri (ISTI) dan organisasi Dibawah Kuasa Isteri (DKI).

Ketidakberdayaan perempuan bukan karena dosa lelaki, melainkan dosa atau kesalahan perempuan itu sendiri. Oleh karena itu, jika ingin perempuan berdaya, maka pemberdayaan perempuan harus dimulai dari dirinya sendiri, mulai dari yang kecil atau sederhana dan mulai dari sekarang juga.

Semestinya setiap perempuan menaruh rasa malu kepada seorang nenek yang sudah lama ditinggal suaminya, namun tetap saja berbusana sopan menutup auratnya, Ketika ditanya oleh anaknya, “Kenapa mama yang sudah uzur dan kendur ini, masih saja berpakaian yang sangat sopan di rumah?. Dijawab olehnya, “Aku sayang ayahmu, sekalipun ia telah tiada”. Proaktif menjaga kehormataan diri perempuan dilakukan oleh sekelompok mahasiswi teknik Universitas SRM India menciptakan pakaian dalam yang dapat melindungi perempuan dari serangan kekerasan seksual, demikian Tempo, 14 April 2013.

Namun anehnya, ketika pemerintah ingin melindungi kaum perempuan dari berbagai tindak kekerasan seksual dan kejahatan lainnya melalui pakaian sopan, justru ditentang oleh mereka yang mengaku diri membela kaum perempuan atas nama Hak Asasi Manusia. Edan (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan, Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya

Memaknai Kembali Genius

Menjemur Kolor di Tempat Umum

Cerdas Menerima Kekalahan

Mal Praktek Pembelajaran