Bersatu Berjuang Menang

Opini Ilmiah


Selasa, 08 April 2014 - 12:02:05 WIB | dibaca: 1167 pembaca



TAHAPAN pemilu legislatif 2014 hampir berakhir, puncaknya besok, tepatnya Rabu, 9 April 2014. Tentu saja semua calon legislatif (caleg) berharap terpilih atau menang pada pemilu 2014 ini. Di saat seperti ini, kondisi psikologis harap-cemas para caleg dapat dipahami dan dimaklumi. Apapun hasil yang dicapai nantinya; “Menang/Terpilih” atau “Kalah/Tidak Terpilih”, sebaiknya kembalikan pada tiga kunci yang menjadi jargon perjuangan Hugo Chavez, seorang pemimpin yang dijuluki Soekarno dari Venezuela dan dikenal seorang pemimpin pemberani, anti kapitalis, dan memperjuangkan kepentingan rakyat yakni jargon: “Bersatu, Berjuang, Menang”.


Pesan singkat yang hanya terdiri dari tiga kata ini seringkali digunakan oleh banyak pemimpin dunia sebagai nilai (value) dan jargon perjuangannya yang  terbukti ampuh, inspiratif, dan akhirnya menempatkan banyak calon pemimpin menjadi pemenang.

Semua kandidat ingin menjadi pemenang pada pemilu 2014 ini, namun karena keterbatasan kursi di legislatif, akhirnya ada yang tersenggol atau tersingkir dan gagal menjadi pemenang. Kita berdoa semoga saja mereka yang gagal itu tidak stress. Jika terpaksa mereka stress, rumah sakit jiwa sudah disiapkan untuk mereka.
Hugo Chavez telah berhasil mensinergiskan tiga kata dalam setiap perjuangannya, yakni “Bersatu Berjuang Menang”
Masih tersimpan dalam memori ingatan kita sebuah pepatah lama yang digunakan oleh para penjajah negeri ini, Kitapun menjawab selogan mereka dengan sebuah kalimat pendek yang masih berlaku hingga saat ini, “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”.

Jerry Ellis menyatakan hal yang sama, “Kita semua adalah benang yang rapuh, tetapi bisa membuat permadani yang indah”.
Mahatma Gandhi berpesan bahwa salah satu tantangan terbesar di zaman kita sekarang ini adalah menemukan persatuan diantara keragaman. Persatuan menyiratkan kesatuan. Tetapi kesatuan tidak selalu menyiratkan kesamaan. Dengan kata lain, Kita semua bisa saja merupakan individu unik yang berbeda satu sama lain, namun melalui kesatuan tujuan, kita dapat bekerja sama secara sinergis untuk menuntaskan tugas besar, yakni tugas dimana keseluruhan lebih besar dan lebih penting dari pada jumlah bagian-bagiannya. Kita harus merasa nyaman hidup di rumah besar kita.

Orang yang memiliki kehebatan, sehari-harinya tahu bagaimana menjadi anggota kelompok. Semua anggota kelompok di posisi manapun mereka berada memberi konstribusi untuk kemenangan atau kemajuan kelompoknya. Mereka tidak keberatan mengesampingkan minat pribadinya demi kebaikan seluruh kelompok. Mereka bukan saja senang jika orang lain dalam kelompoknya berhasil menjadi pemenang, tetapi juga berjuang agar keberhasilan itu terwujud. Mereka tahu bahwa mereka menjadi lebih bilamana,“Semua panah” bersatu mewujudkan kemenangan.

Kesatuan tujuan ditentukan oleh pemaknaan terhadap keyakinan universal yang terimplikasi sebagai nilai perjuangan. Kerajaan Romawi yang sangat kuat pada zamannya dihanurkan dan dikuasai oleh kelompok kecil masyarakat akibat keyakinan mereka yang tercabik-cabik. Contoh lain, Hamzah paman Rasulullah Saw terbunuh dan kalah di perang Uhud juga karena tidak bersatunya pasukan, melanggar sebuah kesepakatan atau komitmen yang telah dibuat.

Kurangnya persatuan yang akhirnya berbuah kekalahan seringkali bersumber dari dalam diri dan institusi, Pakar sosiologi menyimpulkan bahwa rapuhnya persatuan sebagai dampak dari; (1) berkurang dan hilangnya rasa memiliki; (2) hilangnya rasa kebersamaan atau rasa senasib sepenanggungan, dan (3) kurangnya rasa tanggung jawab.
Setelah bersatu, sebuah kemenangan belum dapat dipastikan, masih memerlukan usaha keras dan usaha cerdas yang dikemas dalam bingkai perjuangan.


Berjuang berarti berkorban, mau berjuang berarti mau berkorban sesuai kebutuhan, baik material maupun non material.
Booker T. Washington mengtakan, “Kita tidak bisa menolong orang lain di selokan tanpa masuk juga ke dalam selokan bersamanya”.
Pepatah Hindu berbunyi, “Jika kau membantu menyeberangkan perahu saudaramu, niscaya perahumu pun akan mencapai pantai”.
Dalam keseharian hidup ini, banyak yang mengklim dirinya pejuang, Namun dalam kenyataannya, mereka yang menyebut dirinya sebagai pejuang itu ternyata tidak beda dengan seorang pecundang, syukur saja mereka itu tidak menjadi monster perjuangan yang selalu membuat kekeruhan dan kekacauan dalam organisasi. Para pecundang sangat senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Penulis hanya ingin mengingatkan kita semua, terutama yang menyatakan dirinya tim sukses para caleg pada pemilu 2014 ini. Jika Anda semua merasa sebagai seorang pejuang, maka harus rela berkorban untuk kemenangan caleg yang Anda usung, bukan sebaliknya mengharapkan keuntungan pribadi dari para caleg yang diusung itu, ia tega memeras calegnya. Pada awalnya sangat bersemangat  memperjuangkan kemenangan kandidat caleg yang diusungnya, tetapi di tengah jalan, ia berkhianat setelah mengetahui caleg yangt diusungnya itu sudah kehabisan amunisi atau modal, ia memperjuangkan kemenangan caleg lain yang memberi keuntungan kepadanya, pada hal caleg yang diusung itu tidaklebih baik dari caleg sebelumnya. Terhadap pecundang seperti itu, Rasulullah Saw mengingatkan “Tunggu Laknat Allah Kepadanya”.

Pejuang sejati tidak pernah menyesali hidup dan perjuangannya sekalipun ia kalah atau gagal dalam sebuah perjuangan sehingga tidak perlu dipersiapkan rumah sakit khusus untuk mereka. Mereka senantiasa ingat dan percaya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah SWT mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah:216).   

Semangat perjuangan mengajarkan kita agar, “Berakit Ke Hulu, Berenang Ke Tepian, Bersakit Dahulu, Bersenang Kemudian”, sebagaimana orang bijak mengatakan “Menangis Hari Ini, Untuk Tersenyum Hari Esok”.
Di bagian lain, para pejuang menasehati kita, “Gigih dalam perjuangan mengungguli kegagalam maupun kelelahan. Kegigihan itu menemani kita, baik pada masa sulit maupun pada masa yang menjemukan.
Jika akhirnya mencapai sebuah kemenangan, maka kemenangan itu harus dimaknai sebagai kemenangan tanpa mengalahkan, demikian nasehat Sun Tsu.


Insyaallah, kemenangan yang diraih adalah buah dari persatuan dan perjuangan yang telah diusahakan sejak lama, demikian sebaliknya setiap kekalahan atau kegagalan dalam sebuah perjuangan juga akibat dari lemahnya kualitas persatuan dan strategi perjuangan yang tidak mengalami perbaikan atau kemajuan (Penulis: Dr. Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Sekolah Tanpa Kertas

Pencapaian Hasil Belajar

Takut Menjadi Pemimpin

Muhammad Pemimpin Umat

2014 Tahun Kepemimpinan