Berguru Kepada Orang Gila

Opini Ilmiah


Senin, 13 Oktober 2014 - 09:07:56 WIB | dibaca: 1316 pembaca



Oleh: Aswandi
 
SEORANG supir truk, setidaknya tiga kali sehari mengambil upah dari mengangkut pasir, tanah dan batu. Menjelang magrib, ban truknya bermasalah. Ia pun berhenti memakirkan truknya di sekitar Simpang Tiga depan Rumah Sakit Gila Pontianak. Akhmad (nama samara), teman pak Haji (Supir) turun dari truknya langsung memeriksa ban belakang, diketahui sikrupnya kendur. Ketika ingin mengencangkan sikrup tersebut justru terpental ke dalam parit, Saat mencari sikrup datang seseorang yang tidak berbaju, hanya bercelana pendek, dan rambut baru saja digundul, dan di lehernya tergantung sebuah card bertulis “Masa Rehabilitasi”.  Orang aneh itu sangat asik menyaksikan Akhmad mencari sikrup dan bertanya; “Abang mencari apa?”. Dalam perasaan sedikit takut, ia menjawab; “Saya mencari dua buah sikrup yang hilang!. Orang aneh itu menyarankan, “Begini saja bang, Abang ambil sikrup ban depan, satu kanan dan satu kiri, kemudian dua sikrup tersebut dipasang pada ban belakang yang sikrupnya hilang itu!. Sarannya diikuti, terbukti benar. Lantas orang asing itu berkata, “Aku Memang Gile, tapi Aku Tidak Bodoh. Sedangkan Kamu Memang Tidak Gile, tapi Bodoh”.

Pak haji (Sang Supir) sesungguhnya mengetahui bahwa orang asing itu adalah orang gila dalam proses penyembuhan. Makanya atas kejadian itu, beliau sedih, terharu dan menangis karena telah ditolong oleh orang gila yang selama ini direndahkan, dan tidak diperhitungkan. Tentu berbeda jika pak haji memanggil pekerja bengkel datang memperbaiki mobilnya, entah berapa bayarnya.

Fenomena kehidupan seperti ini sering terjadi dimana banyak orang tidak memperhitungkan dan tidak menghormati kelompok orang yang lemah itu, bahkan secara sengaja memarginalkannya.

Orang bijak berkata, “Sering kali anak yang tidak diperhitungkan dan tidak dibanggakan oleh orang tuanya karena ia tidak berpendidikan dan miskin, ternyata di saat uzur dan diakhir kehidupan orang tuanya, anak yang tidak diperhitungkan tersebut mengurus dan memelihara orang tuanya, dan wafat dipelukannya, sementara anak yang dibanggakan orang tuanya entah dimana”.

Semestinya manusia merasa malu dan banyak belajar kepada cacing. Binatang yang menjijikkan itu hidup di tempat yang kotor, selalu berbuat menyuburkan tanah di sekitarnya agar tanaman tumbuh subur dapat menghasilkan biji, daun dan buah untuk dinikmati tuannya. Cacing tidak pernah mengenal siapa tuan tanah tempat ia hidup itu, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana berbuat yang terbaik untuk orang lain. Umumnya kita ini hidup di rumah layak huni, dan tidak sedikit yang hidup di rumah mewah, namun sayangnya  hidup di rumah yang baik ini, tidak memberi banyak manfaat, dengan tetangga saja banyak diantara kita yang tidak akur atau kurang harmonis padahal kita tahu agama mengajarkan bahwa tidak beriman seseorang kepada Allah SWT dan hari kiamat karena ia tidak menghormati tetangganya.    

Di dunia ini, ternyata pasien penyakit gila mendominasi bangsal rumah sakit. Semoga fenomena semakin banyaknya jumlah orang gila ini menjadi pembelajaran bermakna bagi kita agar tidak ikut ketularan menjadi gila.
Dr. Schindler memperlihatkan bahwa “tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh orang karena mengidap penyakit yang disebabkan oleh emosi (Emotionally Induced Illness), seperti penyakit merasa diri hebat atau penting”, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya berjudul; “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat merasa diri hebat, penting atau besar adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang mengalami penderitaan merasa diri hebat dan penting itu, bahkan mengusahakannya.

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Beberapa bukti menunjukkan bahwa manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan “Merasa Diri Hebat dan Penting”, ketika mereka merasa diabaikan dalam dunia nyata, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; “How to Win Friends and Influence People”.

Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasehati; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang, ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”.

Rasulullah saw dan para sahabat mengajarkan kepada kita agar tawadhu’ atau suka merendahkan diri, bukan merasa diri hebat/penting atau sombong, seperti Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ra satu diantara sahabat Rasulullaah saw yang sukses sebagai pimpinan perang selalu berwajah ceria, terpuji akhlaknya, tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya, dan dikenal seorang pemalu.

Pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin menuntut persatuan, dan kekompakan. Beliau berkata, “Kalian jangan berselisih, Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”.
Sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat, misalnya di suatu hari beliau  menjadi iman shalat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa  bahwa aku lebih baik dari pada iman-iman dan orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah meninggalkan rumah dimana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri hebat, penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepada seorang panglima perang ahli agama dan berkepribadian tawadhu’ kepada semua orang agar menjadi tauladan.

Kisah orang gila inspiratif tersebut, mengingatkan penulis pada suatu peristiwa, seorang pemuda Inggris yang baru saja terpilih karena kehebatan dan populeritasnya menjadi anggota parlemen (DPR). Ketika ia memasuki aula atau ruang sidang untuk pertama kalinya, ia mendekati salah seorang pria berusia lebih tua yang tampaknya bijaksana dan bertanya, “Menurut Anda apakah saya harus ikut serta dalam perdebatan hari ini?. Orang tua tersebut memandangnya dengan tajam dan berkata, “Sebenarnya, anak muda saya meyarankan agar anda diam saja. Lebih baik orang merasa heran karena melihat anda tidak berbicara dari pada merasa heran karena Anda berbicara”, dikutip dari Kenneth Blanchard dan Norman Vincent Peale (1993) dalam bukunya “The Power of  Ethical Management”.

Penulis menjadi sangat khawatir, dari pengalaman mengikuti sidang DPR RI dan MPR RI beberapa waktu lalu terlihat jelas banyak sekali orang yang ingin dijuluki “Hebat dan Penting”, semoga saja tidak bertambah jumlah orang gila di negeri ini. (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memilih Kepala Daerah

Bergerak Bersama Membangun Bangsa

Pendidikan Berbasis Perkembangan Manusia

Kehidupan Bermakna

Mempolisikan Polisi