Bergerak Bersama Membangun Bangsa

Opini Ilmiah


Senin, 29 September 2014 - 10:38:06 WIB | dibaca: 1049 pembaca



Oleh: Aswandi
 
Dalam rangka melanjutkan perjuangannya, Para relawan pemenangan Jokowi-JK berhimpun dalam sebuah  organisasi; “Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH)”. Pada, Sabtu, 27 September 2014 di Kota Singkawang, RKIH menyelenggarakan diskusi publik guna mendapat masukan bagi pemerintahan baru bertema “Bergerak Bersama Membangun Bangsa”. Diskusi publik tersebut  menghadirkan tiga orang panelis, yakni; Dr. Kris Budihardjo selaku Ketua RKIH, Ir. Rachmat Tatang Baharuddin, MSi selaku staf ahli Bidang Politik Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, dan Wali Kota Singkawang. Menurut penulis, bertugas menjadi moderator dalam diskusi public yang menurut penulis pribadi sangat penting dan serius.

Pemikiran Soekarno mengembangkan cita-cita besar dan agung dalam membangun dan memajukan bangsa sebagai negara besar, kuat dan disegani di dunia. Cita-cita tersebut dibangun di atas tiga pilar yang dikenal deengan “Tri Sakti, yakni: kedaulatan secara politik, kemandirian secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dunia telah, sedang dan akan terus mengalami perubahan. Bahkan, dari waktu ke waktu, perubahan tersebut berlangsung semakin cepat, terbuka, merembes, dan kompleks yang merupakan fenomena kehidupan sehari-hari. Suka atau tidak perubahan yang demikian itu pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Jadi di dunia ini tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri.
Sesungguhnya Allah SWT tidak merubah keadaan suatu kaum, selama mereka tidak merubah keadaan atau sebab-sebab kemunduran mereka sendiri (QS.Ar-Ra’d:11).

Kemampuan suatu lembaga atau institusi menerima, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang cepat dan kompleks itu akan menjadi kunci terpenting bagi keberhasilannya untuk bertahan hidup (West, 2000; Bennis & Mische, 1996)

Pendapat di atas diperkuat oleh pendapat dari Arnold Toynbee setelah ia menyelesaikan penelitian sejarahnya menyimpulkan sebagai berikut, “kebangkitan umat manusia bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan tanggapan yang pantas terhadap tantangan yang dihadapinya (Boast & Martin, 1997).

Bapak Jokowi selaku presiden terpilih dalam banyak kesempatan mengingatkan bahwa pasca pilpres tidak boleh ada lagi sekat diantara kita. Tugas kita hari ini adalah bergerak atau bekerja keras membangun bangsa.
Iqbal (1990) dalam sebait puisinya mengingatkan; ”Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun pasti tergilas”. Beliau, selain memprogramkan Indonesia Pintar dan Sehat, juga memprogramkan ”Indonesia Kerja”.

Keinginannya, seluruh anak bangsa harus memperoleh pekerjaan yang layak sesuai dengan kemauan dan keahliannya untuk memperoleh penghasilan yang layak, Orang bijak berkata, “Apapun masalahnya, Kerja jawabannya”. Jika ingin sebuah perubahandi negeri ini, rakyat Indonesia jangan kehilangan semangat untuk bekerja.

Kotter dan Cohen mengatakan jantung atau inti dari sebuah perubahan adalah semangat dan semangat tersebut menjadi darah segar mereka yang mendapat amanah mengurus rumah transisi dan rumah kreasi Indonesia Hebat sebagaimana disinyalir oleh Jokowi, “Mereka di Rumah Transisi Terlalu Bersemangat”.

Bergerak bersama membangun bangsa karena kita dilahirkan di sebuah negeri, ibarat sebuah rumah besar yang di ruang tamunya tertulis semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

Fitrah ini adalah nikmat Allah SWT yang sangat tinggi nilainya karena menentukan eksisten dan kemajuan, baik secara individu maupun kelompok sebagai sebuah bangsa.

Sejarah peradaban manusia dari zaman barbar/primitive hingga masa modern sekarang ini membuktikan bahwa eksistensi atau  keberadaan dan kemajuan dalam hidup ini karena merasa “Nyaman dalam Keberagaman”.
Kita harus merasa hidup nyaman di ruang tamu rumah besar Indonesia yang didalamnya terdapat bilik atau kamar kecil etnisitas.

David Lewis mengatakan, “Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang-orang tolol”.

Tak ada diantara kita yang lebih pintar dari pada kita semua secara keseluruhan. Orang-orang menjadi kesepian karena mereka membangun tembok bukan membangun jembatan, demikian Joseph Newton. Pendidikan terbaik bagi semua yang terbaik adalah pendidikan terbaik bagi semua, kata Robert Maynard, Presiden Universitas Chicago.

Persoalan serius di negeri ini adalah masih banyaknya saudara kita merasa tidak nyaman hidup di rumah besar Indonesia, bahkan berada di ruang tamupun mereka kurang betah. Mereka lebih senang tinggal di bilik-bilik kecil etnisitas mereka. Belum lagi rasa curiga diantara kita masih kental.

Satu parameter penting mengukur keberhasilan Rumah kreasi Indonesia Hebat adalah ketika ia telah mampu dan berhasil melawan rasa takut.

Bergerak bersama membangun bangsa harus didasarkan pada enam prinsip dasar, yakni sebagai berikut; kesadaran atas; (1) masalah yang dihadapi adalah masalah bersama, misalnya keadaan bangsa ini yang masih terpuruk hampir di semua bidang adalah masalah kita bersama; (2) secara bersama-sama atau sinergis kita berusaha mengatasinya; (3) dilakukan secara setara, artinya tidak ada diantara kita yang satu meresa lebih penting dari yang lainnya, demikian sebaliknya; (4) win-win solution atau saling menguntungkan, jika terpaksa rugi atau gagal, maka kerugian dan kegagalan tersebut harus disikapi dan dimaknai karena kesalahan dan kebodohan bersama; dan (5) usaha atau gerakan bersama yang dilakukan harus membawa pada perubahan yang lebih besar dan/atau lebih baik (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Pendidikan Berbasis Perkembangan Manusia

Kehidupan Bermakna

Mempolisikan Polisi

Kampus Penyelamat

Transisi Kepemimpinan