Belajar di Era Ketidakpastian

Opini Ilmiah


Selasa, 10 Mei 2016 - 12:37:38 WIB | dibaca: 668 pembaca


Oleh: Aswandi - BAPAK Anies Baswedan selaku Mendikbud pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2016 lalu antara lain menyatakan, “Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu. Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya dan meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian yang terjadi. Satu dukungan yang perlu diberikan pada anak-anak Indonesia adalah memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan zamannya”. 

Handry Satriago orang Indonesia pertama menjadi CEO General Electric ketika menjadi nara sumber pada Rembuk Nasional Pendidikan 2016 mengatakan hal yang sama mengenai “tantangan masa depan, yakni; ketidakpastian, globalisasi dan persaingan ide”.

Sejak lama Iqbal mengingatkan pentingnya memahami perubahan yang semakin cepat, kompleks dan tidak pasti itu, dalam sebait puisinya, ”Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun pasti tergilas”.

Rose dan Nicholl (2006) dalam “Acccelerated Learning for The 21st Century” mengatakan dunia berubah dengan laju semakin kencang, kehidupan masyarakat dan ekonomi menjadi lebih kompleks, sifat pekerjaan berubah dengan sangat pesat, jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan, dan masa lalu semakin tidak dapat dijadikan pedoman bagi masa depan. Keberhasilan abad ke-21 atau abat ketidakpastian ini, tergantung pada sejauhmana, kita dan anak-anak kita mengembangkan ketrampilan yang tetap untuk menguasai kekuatan kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian yang saling berhubungan. Tergantung pada ketrampilan dan kemampuan belajar kita, yakni kecepatan belajar, belajar terus belajar atau terus memperbaharui diri.

Sejalan asumsi di atas, Charles Darwin (1859) dalam bukunya “The Origin of Species” menyatakan bahwa “bertahan hidup bukan karena memiliki kekuatan, melainkan karena kemampuan beradaptasi sebagai dampak dari proses belajar”. 

Namun sayangnya, pendidikan dan pembelajaran selama ini sering kali menghasilkan ketidakberdayaan sibelajar sebagaimana tesis Martin Seligman berbunyi “ketidakberdayaan sebagai sebuah proses yang dipelajari”. Buckminter Fuller menambahkan, “Semua orang terlahir genius, tetapi proses kehidupan dan pendidikannya menghilangkan kegeniusan mereka”. Ribuan tahun Sebelum Masehi, Lao Tzu penemu Taoisme China telah mengajarkan, “Jika kau memberi orang ikan, kau memberinya makan sehari, Kalau kau mengajari orang memancing, kau memberinya makan seumur hidup”.

Dalam banyak kesempatan dua menteri pendidikan (Mendikbud dan Menristetekdikti) menyampaikan sebuah metapora, pendidikan untuk masa depan abad ke-21, namun sayangnya gurunya masih abad ke-20, dan sarana prasarananya abad ke-19, penulis menambahkan cara belajarnya abad ke-18 yang ditandai masih kental pengaruh filsafat pragmatisme dan psikologi behavoristik, dimana melihat persoalan kebenaran ilmu objektif (telah sempurna), pasti, dan linear. Kontrol pembelajaran berada di luar diri sibelajar, yakni guru dan orang tuanya.

Pendidik dan Tenaga kependidikan sering mengalami frustrasi dan didorong untuk selalu berubah, tetapi industri pendidikan yang memiliki tingkat perubahan atau inovasi terlambat atau kalah cepat dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya, untuk sebuah inovasi penghapus misalnya, harus mengunggu waktu selama 40 tahun.

Robert Kiyosaki (2016) dalam bukunya “Second Change” mengatakan bahwa orang bersekolah, memperoleh gelar kesarjanaan dari universitas mendapatkan pekerjaan dan mendatangkan gaji lebih besar, hidup menjadi bahagia untuk selama-lamanya adalah cerita atau ajaran masa lalu”. Pada buku Kiyosaki  sebelumnya (2015), berjudul “Why “A” Students Work for “C” Students and “B” Students Work for the Governement” beliau mengatakan “Sekolah tidak menyiapkan anak untuk menghadapi dunia nyata”, dalam istilah lain “Sekolah dan Universitas Kehidupan”. Dampaknya, siswa atau mahasiswa berprestasi akademik tinggi dan terpuji, namun sayangnya bekerja di tempat dengan gaji murah. 

Hal ini, sejalan pendapat John C. Maxwell (2013) dalam bukunya “Sometimes You Win Sometimes You Lose = LEARN”, Satu diantara landasan pembelajaran bahwa landasan atau pondasi pembelajaran itu adalah realitas (this foundation of learning is reality). Misalnya, semua orang sekolah dan kuliah setinggi2nya karena ingin memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak sesuai pendidikan yang diperolehnya.Ternyata setelah tamat impian tersebut tidak menjadi kenyataan, yang ada justru sebaliknya, 

Dikatakan krisis dewasa ini bukan disebabkan oleh orang miskin yang tak berpendidikan, Di balik kekacauan ini terdapat sejumlah orang yang paling terdidik. Krisis bermula ketika anak kita masuk sekolah menghabiskan tahun demi tahun, kadang dekade demi dekade, tidak mempelajari apa yang menjadi permasalahan dalam hidupnya.

Hari ini banyak negara, termasuk Indonesia mengalami krisis, jika dikaji secara lebih mendalam terbukti sumber krisis multidimensi tersebut sebagai dampak dari krisis pendidikan yang tidak mengajarkan tentang kehidupan nyata, seperti mengajarkan kecerdasan finansial kepada siswa. Diyakini sumber krisis keuangan suatu negara sebagai dampak dari krisis pendidikan yang tidak mengajarkan tentang kecerdasan finansial kepada siswa, siswa belajar keuangan di rumah mereka masing-masing.

Menyadari hal tersebut, Kemenristekdikti melalui Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaaan (Belmawa) menggagas pembelajaran pendidikan umum (general education) yang saat ini telah nyata merupakan permasalahan bangsa dan dunia kepada mahasiswa, seperti teroisme, radikalisme, narkoba, dan korupsi.

Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa belajar di era ketidakpastian ini memerlukan manusia pembelajar (learning person) dan melakukan percepatan belajar (accelerated learning), terutama tentang dunia nyata (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Nyalakan Pelita Terangkan Cita-Cita

Melawan Rasa Takut (2)

Pejabat Dilarang Merokok

Bicara Pemimpin

Catatan Ujian Nasional