Bangkit Itu Mudah

Opini Ilmiah


Selasa, 20 Mei 2014 - 09:24:34 WIB | dibaca: 690 pembaca



DARI tahun ke tahun, perubahan berlangsung semakin cepat, terbuka, merembes, dan kompleks. Suka atau tidak perubahan yang demikian itu pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Jadi di dunia ini tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang dikehendaki adalah perubahan yang membawa kepada kebangkitan, dimana hari ini lebih baik dari hari kemarin, bukan sebaliknya, hari ini lebih jelek atau sama dengan hari kemarin.

Banyak diantara kita ingin berubah atau bangkit dari keadaan sebelumnya, tidak hanya ingin bangkit melainkan berusaha keras untuk memperoleh kemajuan yang lebih baik dari sebelumnya, namun kenyataannya dari mereka yang ingin dan berusaha bangkit tersebut tidak banyak yang membuahkan hasil, baginya untuk bangkit sangatlah sulit, sementara ada diantara mereka menjalani proses kebangkitan dengan sangat mudah.  

Mengikuti pemberitaan di berbagai media masa di hari-hari terakhir ini memuat hal yang sama, yakni evaluasi terhadap kebangkitan atau reformasi di negeri ini yang pada umumnya dinilai gagal atau berjalan lambat, seperti gagalnya reformasi politik, reformasi pemerintahan, terlebih lagi reformasi moral bangsa.

Artinya tidak sedikit individu dan lembaga yang telah mencoba bangkit. Namun mereka tidak memperoleh kemajuan atau peningkatan. Mereka tidak bangkit karena kurang memahami bagaimana seharusnya bangkit itu, dan diperparah lagi tidak ada komitmen untuk sebuah kebangkitan, dalam pikirannya  dipenuhi mindset negatif mengenai sebuah kebangkitan. Mereka tidak tahu dan lalai bahwa pikiran dan sikap kita menentukan ketinggian jelajah hidup kita. Misalnya, dengan titik start yang sama, ada yang lulusan diploma, sarjana, magister dan doktor, kadang-kadang setelah sama-sama menyusuri liku kehidupan ini, yang satu lebih berhasil dari pada yang lainnya. Persoalan apa yang membedakannya?. Sekali lagi dari ‘SIKAP’ positif yang membedakannya, disamping ada takdir dari TuhanNYA.

Iqbal mengungkapkan akan pentingnya memahami dan mengelola kebangkitan dalam sebait puisinya; ”Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Dan mereka yang menunggu, sejenak sekalipun pasti tergilas”.

Kemampuan suatu lembaga atau institusi menerima, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang cepat dan kompleks tersebut akan menjadi kunci terpenting bagi keberhasilan dan kebangkitan itu. Asumsi tersebut di atas sejalan pendapat Arnold Toynbee yang menyatakan; ”Kebangkitan umat manusia bergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan tanggapan yang pantas terhadap tantangan yang dihadapinya”.

Tentu kebangkitan akan menjadi mudah, jika mulai dari pikiran, pemahaman dan sikap terhadap kebangkitan itu sendiri adalah baik dan positif.

Sehubungan hal tersebut di atas, Rektor Universitas Negeri Jakarta dalam sambutannya dihadapan wisudawan mengingatkan banyak hal, diantaranya; “Hidup kita adalah hasil pikiran kita’, dan ‘Kehidupan yang besar selalu dimulai dengan impian-impian besar’. Semua orang mampu mendaki setiap ketinggian, asalkan ia dapat bertanggungjawab atas dirinya, dan menyadari kemana ia akan menuju”.  Mulai dari sekarang. ‘Please, Define your dream! Mulailah dengan menggambarkan kehidupan seperti apa yang diinginkan. Karena akan seperti itu pula kita jadinya. Tidak ada batasan-batasan yang dapat dicapai dalam kehidupan, kecuali batasan-batasan yang  diterima dalam pikiran kita sendiri. Gunakan hak menyeleksi kemampuan kita dengan sejujur-jujurnya dan dengan sebaik-baiknya karena dari situ kebangkitan bermula.

Untuk mencapai sesuatu yang besar, kadang kita harus memulainya dari hal-hal kecil. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan tekun. Kadang kehidupan yang besar dirangkai dari hal-hal kecil tadi, yang terus menerus kita lakukan dan kembangkan. Lagi-lagi tidak ada sesuatu yang mudah untuk mencapai hal terbaik.

Hidup ini ibarat kunci kombinasi, tugas kita adalah menemukan angka-angka yang tepat, dalam urutan yang tepat, sehingga dapat membuka pintu sukses apapun yang diinginkan. Tidak ada formula khusus, untuk sebuah kebangkitan yang ada adalah pengetahuan, usaha keras tak kenal lelah, dan terus bekerja atau berkarya.
Sesungguhnya kita memiliki cadangan potensi besar yang belum dimanfaatkan atau masih tertidur nyenyak di dalam diri kita. Tugas kita adalah mengeluarkan potensi-potensi tersebut.

Bagaimana agar kita semua menjadi para pemenang dalam kehidupan? . Para pemenang tidak melakukan hal-hal berbeda, Mereka hanya melakukan hal-hal biasa, dengan cara yang berbeda.

Ketika ada upaya melakukan perubahan untuk sebuah kebangkitan, maka setidaknya ada empat hal pokok yang harus dibangun, yakni (1) mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai upaya kebangkitan yang akan dilakukan; (2) mempunyai pengetahuan yang luas mengenai lingkungan di mana kebangkitan itu dilaksanakan; (3) mempunyai strategi kebangkitan, dan (4) memiliki sikap positif terhadap sebuah kebangkitan.  
Ketika membicarakan begaimana seharusnya bangkit, para pakar sependapat bahwa setidaknya ada dua unsur penting untuk sangat mempengaruhi sebuah kebangkitan; (1) proses kebangkitan, dan (2) faktor-faktor yang mempengaruhi kebangkitan.

Banyak teori menjelaskan dua unsur penting kebangkatan tersebut, namun karena keterbatasan ruang opini ini, penulis hanya mengemukakan secara singkat berikut ini.

Hall membagi tahapan kebangkitan mengikuti fase berikut ini; (1) awareness, (2) information, (3) personal, (4) management, (5) consequence, (6) collaboration, and (7) refocusing. Pendapat lain sehubungan proses perubahan menyatakan bahwa sekurang-kurangnya  ada tiga sudut tinjauan yang harus digunakan dalam mengupayakan kebangkitan, yakni (1) perubahan menuju kebangkitan pada sistem atau jenjang formal yang biasanya berwujud gagasan pembaharuan yang masih berbentuk komitmen atau kesadaran akan kelembagaan, (2) perubahan pada latar structural, baik struktur organisasi yang bersifat sosial maupun struktur organisasi yang bersifat fisik, dan (3) perubahan perilaku pelaksana. Willem Bridge mengemukakan sebuah model proses perubahan untuk sebuah kebangkitan, meliputi tiga fase, yakni; (1) fase pertama (akhir), (2) fase kedua (transisi), dan (3) fase ketiga (awal baru).  

Selanjutnya, sebuah kebangkitan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam (internal) seperti ketidakpuasan terhadap status quo, semangat/keinginan bangkit dari keterpurukan dan meningkatkan keefektifan.

Faktor dari luar (external) seperti teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. John Kotter dan Larry Greiner mengatakan bahwa kebangkitan sangat dipengaruhi (90%) faktor kepemimpinan karena kurangnya kepemimpinan membuat tidak adanya kekuatan dan terjadinya berbagai kekecauan (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kepemimpinan Berbasis Kekuatan

Penerimaan Peserta Program SM-3T Angkatan IV Tahun 2014

Merubah Pola Pikir

Pengumuman (PENTING) Akademik No. 9517/UN.22.6/DT/2014

Integrasi UN dan SNMPTN