Bahasa Identitas Bangsa

Opini Ilmiah


Selasa, 06 Oktober 2015 - 10:56:51 WIB | dibaca: 969 pembaca


Oleh: Aswandi
 
PRESIDEN RI Joko Widodo meminta agar syarat memiliki kemampuan berbahasa Indonesia untuk pekerja asing dihapus. Sekretaris Kabinet Promono Anung mengatakan, permintaan Presiden Jokowi tersebut untuk menggenjut iklim investasi di Indonesia, dikutip dari Kompas, 19 September 2015.

Kebijakan presiden RI ke-7 ini dinilai kontradiktif dengan kondisi nyata saat ini, beberapa fakta: (1) Samuel Hatington penulis buku berjudul “Benturan Peradaban”, dalam buku tersebut beliau menjelaskan pentingnya bahasa bagi kemajuan ekonomi sebuah bangsa. Dicontohkan bahasa dunia yang mengalami kemajuan pesat atau bahasa yang digunakan dan dipelihara banyak orang sepuluh tahun terakhir ini adalah bahasa Mandarin, diikuti bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bahasa Mandarin berkembang pesat dan eksist karena terkait dengan kegiatan ekonomi dimana banyak negara telah mengalihkan kiblat ekonominya dari barat ke timur (China dan sekutunya); (2) beberapa tahun lalu, penulis mengikuti Konferensi Internasional Bahasa Mandarin di Beijing China, diikuti lebih dari 1500 peserta, umumnya rektor dari empat benua (sedunia), menghasilkan rekomendasi, sebagai berikut; “Jika ingin menguasai dunia, kuasailah ekonominya. Jika ingin menguasai ekonomi, kuasailah komunikasinya. Jika ingin menguasai komunikasi, kuasailah bahasanya. Jika ingin menguasai bahasanya, kuasailah bahasa Mandarin, dan jika ingin menguasai bahasa Mandarin, kuasailah budaya China”; (3) kebijakan presiden RI ke-7 ini terjadi di saat banyak tenaga asing yang akan dan sedang bekerja di negeri ini serta banyaknya perguruan tinggi asing, seperti Burapha University, Bang Seen, Chiang Mai University, Mae Fah Luang University, Chiang Rai, Price of Songkla University, Quangcy University dan beberapa perguruan tinggi di Australia sedang mempelajari dan menikmati keinginannya belajar bahasa Indonesia. Negara Filipina telah menyiapkan puluhan ribu tenaga kerjanya trampil berbahasa Indonesia yang siap untuk bekerja di negara ini. Beberapa perusahaan milik China di Indonesia, tidak terkecuali perusahaan tersebut ada di Kalimantan Barat telah melatih tenaga kerjanya agar mampu atau trampil berbahasa Mandarin bekerja sama dengan Pusat Bahasa Mandarin Universitas Tanjungpura.   

Dari tiga fakta di atas, dirasa cukup memberi penjelasan bahwa bahasa adalah penting bagi kemajuan ekonomi. Oleh karena di saat bangsa lain sedang giat-giatnya mempelajari bahasa Indonesia, tidak seharusnya bahasa Indonesia menjadi korban hanya untuk alasan investasi atau alasan ekonomi lainnya.

Jauh lebih penting bahasa sebagai alat komunikasi adalah bahasa sebagai identitas bangsa.

Negara maju di dunia ini selalu terkait dengan identitasnya, yakni kesamaan entitas, baik berupa sifat dan kategori sosial. Di masa lalu identitas disimbolkan secara terbatas, yakni agama dan suku. Sekarang ini dalam masyarakat yang semakin modern, masyarakat dipersatukan melalui berbagai identitas, antara lain bahasa, artinya bahasa adalah identitas bangsa yang dijunjung tinggi karena ia merupakan harga diri sebuah bangsa, seperti Jepang, Francis, Cina, dan Korea.

Beberapa tahun lalu, penulis bersama 25 orang tokoh masyarakat Indonesia diundang ke Jepang selama 40 hari guna mempelajari “Perpolisian Masyarakat”. Satu agenda kegiatan adalah pertemuan kami dengan Wali kota dan tokoh masyarakat Jepang di Kota Kashiwa. Walikota Kashiwa sebelumnya selama 10 tahun bekerja di kedutaan Jepang di Jakarta, semua anaknya lahir di Jakarta, dan beliau beserta keluarga (istri dan anak-anaknya) sangat pasih berbahasa Indonesia dan menguasai beberapa bahasa daerah, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Sebelum pertemuan resmi dimulai, rombongan kami diterima di ruang kerjanya, dan beliau menggunakan bahasa Indonesia dan sekali-kali menggunakan bahasa daerah, semua cerita atau pembicaraan beliau dapat diterima dengan jelas. Beliau mengatakan bahwa sehari-hari keluarga mereka di Kashiwa menggunakan bahasa Indonesia, dan tidak menggunakan bahasa Kanji (Jepang). Sejak pertemuan dimulai, sepatahpun beliau tidak menggunakan bahasa Indonesia, melainkan menggunakan bahasa Jepang dan dibantu oleh seorang penterjemah dibayar mahal yang belum terlalu pasih berbahasa Indonesia sehingga penerimaan kami terhadap informasi yang beliau sampaikan kurang jelas. Dalam pikiran penulis pada waktu itu, mengapa bapak Walikota Kashiwa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja. Setelah pertemuan, penulis tanyakan hal tersebut kepada beliau, “Mengapa pada pertemuan tadi bapak tidak menggunakan bahasa Indonesia yang menurut saya komunikasi diantara kita akan lebih efektif?”. Jawab beliau, sejak kecil semua warga masyarakat Jepang harus ditanamkan ke dalam pikirannya, bahwa fungsi bahasa tidak sebatas alat komunikasi, jauh lebih penting bahasa adalah identitas bangsa, dan bahasa terbukti melahirkan, mempersatukan dan memajukan bangsa kami”. Mendengar penjelasan beliau, berkali-kali penulis mengangguk-anggukkan kepala sambil menerawang membayangkan kapan penghargaan dan penghormatan terhadap bahasa Indonesia yang telah terbukti mampu mempersatukan bangsanya.

Peristiwa tersebut, mengingatkan penulis terhadap David Jengkin seorang wartawan Australia yang telah berhasil mewawancarai bapak presiden Soeharto dengan menggunakan bahasa Inggris. Presiden RI yang berkuasa selama 32 tahun ini ternyata mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar, sepengetahuan kita selama 32 tahun beliau memimpin bangsa ini tidak pernah sekalipun terlihat dan terdengar beliau menggunakan bahasa asing (Inggris) dalam pidato dan pembicaraannya, melainkan beliau menggunakan bahasa Indonesia dan sesekali dibumbui aksen Jawa yang sangat santun dan komunikatif. Ini sisi lain dari kebesaran bapak Soeharto sebagai pemimpin yang sangat tinggi menghargai bahasa Indonesia, bahasa negerinya, bahasa sebagai identitas dan harga diri bangsa (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Tidak Mau Sekolah

Pendidikan Terjebak Formalisme

Negeri “Seolah-Olah”

Proses Menjadi Seorang Pemimpin

Menjadi Seorang Bupati