Bahagia Bersama Keberagaman

Opini Ilmiah


Selasa, 08 Juli 2014 - 09:22:38 WIB | dibaca: 1042 pembaca



Foto: Umroh bersama Istri dan Rombongan

Oleh: Aswandi

AKHIR dari usaha manusia adalah kebahagiaan, yakni bahagia di dunia dan bahagia di akhirat kelak.
Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai kebahagiaan itu, tergantung pada bagaimana sesorang memaknai kebahagiaan itu dalam pikirannya, karena ada diantara kita memaknai kebahagian lebih bersifat materialistis, dan ada pula memaknai kebahagiaan sesuatu bersifat spiritual.

Marsetio Donosaputra, seorang guru besar Universitas Airlangga, mantan perwakilan Indonesia di UNESCO PBB. Setelah kembali ke Indonesia, beliau adalah dosen dan sekaligus sebagai salah seorang anggota pembimbing disertasi penulis. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah penulis temui dimana beliau seringkali mengajak penulis menemaninya makan bersama pakir miskin, anak yakin, abang beca dan kaun dhuafa lainnya di rumahnya di Jalan Dharmawangsa Surabaya. Setelah sekian kali acara makan bersama penulis ikuti, akhirnya penulis memberanikan diri bertanya kepadanya mengenai kegiatan yang jarang penulis temui itu. Beliau menjelaskan, setelah beliau mendapatkan segala apa yang menjadi kesenangan dunia, seperti; harta yang cukup  keluarga yang harmonis dan anak yang sukses, jabatan penting baik di dalam maupun di luar negeri diperoleh, masih terasa ada yang kurang sehingga apa yang disebut  kebahagian itu belum terwujud. Beliau melanjutkan, diakhir-akhir kehidupan ini, beliau justru ingin mencari saudara dari kalangan yang beragam, terutama mereka para dhuafa atau kaum yang lemah”.  

Sikap beliau sejalan dengan pendapat Charles Fourier, seorang sosialist Prancis yang mengatakan bahwa, “Kami mau membangun satu dunia yang di dalamnya setiap orang hidup bahagia”, dikutip dari Daoed Yoeoef (2006) dalam bukunya “Dia dan Aku”.

Eksistensi manusia dari dulu hingga sekarang, dan bahkan dimasa yang akan datang ditentukan dari hidup nyaman atau bahagia dalam keberagaman.

James Canton (2010) dalam bukunya “The Extreme Future” menyatakan hal yang sama, bahwa globalisasi yang menandai masa depan akan meningkatkan pemahaman lintas budaya, menghapuskan sekat antar masyarakat akibat perbedaan negara karena perserikatan akan semakin berkembang melintasi tapal batas negara”.  

Indonesia adalah sebuah negara dengan semboyan “Bhinneka Tungga Ika” menjadi bukti bahwa negara ini adalah negara yang memiliki keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut adalah modal atau pilar utama kebangsaan Indonesia dalam membangun sebuah bangsa yang maju, beradab dan bermartabat.

Namun kenyataannya, keberagaman atau pluralistik di negera ini masih bersifat semu, kata Frans Magnis Suseno. Gus Dur berpendapat sama, bahwa keberagaman atau demokrasi di negeri ini adalah demokrasi seolah-olah. Buktinya, masih ditemukan masyarakat tidak nyaman atau tidak bahagia hidup dalam keberagaman. Amrazi Zakso dalam penelitian disertasinya menyimpulkan bahwa relasi antar etnis di kalangan siswa sekolah menengah masih bermasalah atau belum harmonis.

Penulis merasakan hal yang sama, misalnya di saat penulis tidak menunjukkan ketaatan sebagai penganut suatu agama (Islam), baik dalam pikiran, perkataan, maupun tindakan. Ada diantara teman penulis justru memberi penilaian kepada penulis sebagai muslim yang baik dan taat. Namun, ketika penulis menunjukkan identitas diri “Ana Muslim”, lebih-lebih lagi jika menyatakan Muslim is The Best, maka penilaian terhadap penulis menjadi sebaliknya, yakni penulis dinilai sebagai seorang primordial atau ekslusif.

Di negeri ini, kebersamaan yang hanya mudah diucapkan, tetapi sulit atau tidak dilaksanakan, termasuk para pemimpin, masih menonjolkan primordialisme kelompok keetnisannya masing-masing. MIsalnya, sewaktu berkampanye menjadi pemimpin, kebersamaan dan sejenisnya menjadi tema kampanye yang sering kali dipidatokan atau ditulis pada baliho, setelah menang menjadi pemimpin dan menyelenggarakan pemerintahan, kebanyakan pemimpin bersikap oligarki, yakni mementingkan diri dan kelompoknya.

Fenomena seperti itu sudah lama terjadi di mana-mana, konflik antar agama dan keyakinan, konflik antar suku dan asal usul masih sering terjadi di negeri ini. Berbagai perjanjian damai telah disepakati dan ditanda tangani, banyak binatang telah menjadi korban sesajian dalam upacara perdamaian itu, tidak sedikit organisasi yang menyuarakan kerukunan, perdamaaian dan rekonsiliasi dibentuk, namun semua usaha tersebut tidak memberi hasil sebagaimana yang diharapkan. Konflik dan perlakuan tidak nyaman atau tindakan kurang membahagiakan orang lain karena perbedaan atau keberagaman etnisitas masih sering terjadi. Hal ini terjadi, barangkali upaya yang dilakukan tidak didasarkan pada niat yang suci, tulus dan ikhlas untuk membangun kebersamaan dalam keberagaman.

Mahatma Gandhi, mengamati bahwa banyak calon pemimpin di dunia ini dalam kampanyenya atau retorikanya menyampaikan pesan membangun rasa aman dan bahagia dalam keberagaman, namun kenyataaan setelah terpilih dan diangkat menjadi pemimpin, tidak sedikit dari mereka yang tadinya berkoar-koar menyampaikan keinginannya untuk mewujudkan bahagia untuk semua ternyata hanyalah janji-janji kosong dari seoraang pemimpin munafik.      

Menciptakan rasa bahagia dan nyaman dalam keberagaman di negeri ini terasa sangat mahal harganya. Sementara Haji Ali, seorang Kepala Desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan mengatakan sangat mudah menciptakan hidup bahagia dalam keberagaman. Beliau menceritakan pengalamannya membangun kebersamaan di tengah keberagaman di Pakistan dan Afganistan, sangatlah murah, cukup bermodalkan tiga gelas teh, “kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis. Pada cangkir pertama, engkau masih orang asing, cangkir kedua, engkau teman, dan cangkir ketiga; engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun, bahkan untuk mati”,, dikutip dari Greg Mortenson dan David Oliver Relin (2009) dalam bukunya “Three Cups of Tea”

Penulis yang pada awalnya menjalani kehidupan sangat ektrim dan ekslusif, kemudian berubah menjadi sangat menikmati kehidupan dalam keberagaman tidak muncul tanpa usaha keras dengan segala pengorban, melainkan usaha terus menerus memperdalam ajaran agama Islam yang menjadi keyakinan penulis dan mempelajari multikultur, kemudian membangun komunitas lintas iman (Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha) dalam mencari nilai universal atau nilai kebersamaan yang terdapat pada agama masing-masing. Dari pengalaman spiritual tersebut, penulis berasumsi bahwa kebahagiaan sesama dalam keberagaman dapat diwujudkan melalui usaha memahami agama dan budaya masing-masing secara terus menerus dan kemudian mencari nilai kebersamaan yang ada di setiap agama dan budaya tersebut, Jadi tidak atau kurang berbahagia dalam keberagaman berawal dari ketidakpahaman kita tentang agama yang kita yakini dan makna keberagaman tersebut  (Penulis, Dosen FKIP UNTAN dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Sedikit Mengajar Banyak Belajar

Semua Karena Dipelajari

Pendaftaran wisuda untuk periode IV tahun ajaran 2013/2014

Yang Lemah Mengalahkan Yang Kuat

Miskin Dahulu Sukses Kemudian