Bacaan Pertama dan Utama

Opini Ilmiah


Senin, 02 Februari 2015 - 10:53:30 WIB | dibaca: 1341 pembaca



Gambar: Salah Satu Headline di Koran Pontianak Post

Oleh: Aswandi
 
DI halaman depan bagian atas harian Pontianak Post, tertulis satu kalimat pendek, terdiri tiga kata kunci, yakni “Pertama dan Terutama di Kalimantan Barat”. Kalimat singkat tersebut memberi informasi penting kepada pembaca bahwa harian ini sudah ada sejak lama, tepatnya terbit pertama kalinya 2 Februari 1973 dan menjadi bacaan pertama dan utama bagi masyarakat Kalimantan Barat. Sebagaimana diakui bapak Buhanif 75 tahun dan isterinya Saginah 68 tahun pensiunan PNS, bahwa mereka sejak koran ini bernama”Akcaya”, kemudian berganti nama “Pontianak Post”, koran ini adalah bacaan pertama sebagai pembuka wawasan setiap harinya, tentu saja ribuan pembaca Pontianak Post lainnya melakukan hal yang sama, artinya harian ini selain telah dibaca sejak lama atau 42 tahun lalu hingga hari ini, koran ini juga menjadi referensi atau bacaan utama bagi sebagian masyarakat Kalimantan Barat sebelum membaca berita dan informasi di media massa lain. Pembaca setia mengatakan “Belum membaca koran sebelum membaca Pontianak Post”.   

Pertanyaannya adalah, mengapa masyarakat Kalimantan Barat menjadikan koran Pontianak Post sebagai bacaan pertama dan utama mereka?
Menurut penulis, Pontianak Post, menjadi koran pertama dan terutama bagi masyarakat Kalimantan Barat tidak timbul dengan sendirinya, melainkan dampak dari pemahaman dan kesadaran kolektif para stakeholder koran ini; (1) penting dan strategis peran media dalam membangun masyarakat yang beradab dan bermartabat; (2) semangat menjaga dan menyampaikan pesan kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh kebebasan dan tanggung jawab, dan (3) proses pembelajaran secara terus menerus yang dilakukan dalam dunia jurnalistik dan pers.

Anthony Gidden dan Alvin Tofler, mengatakan bahwa “masyarakat tidak berada di ruang vakum atau kosong, mereka satu sama lain saling begantung (interdependence) . Semakin demokratis suatu masyarakat, kesadaran untuk berinteraksi menjadi sangat penting. Media massa, seperti koran merupakan instrumen yang sangat diperlukan”.

Pemerintah dalam mengesahkan UU RI No. 40/Tahun 1999 tentang pers mempertimbangkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai hati nurani dan hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di bagian lain dari undang-undang tersebut dinyatakan bahwa masyarakat memiliki peran untuk melakukan kegiatan mengembangkan kemerdekaan pers  dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan berupa; (1) memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan pers; dan (2) menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.
 
Selanjutnya, menurut penulis eksistensi dan keberlanjutan Pontianak Post, sebagai koran pertama dan terutama bagi masyarakat Kalimantan Barat dampak dari semangat menjaga dan menyampaikan pesan kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh kebebasan dan tanggung jawab.
Sebagaimana diyakini bahwa Pontianak Post adalah wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, gambar, dan dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak dan elektronik. Apa yang yang dicari, diperoleh, disimpan, diolah dan disampaikan itu adalah sebuah kebenaran yang pada saatnya memang perlu disampaikan untuk menjadi kebaikan bersama, artinya tidak semua kebenaran itu disampaikan, melainkan harus dipertimbangkan perlu tidaknya untuk disampaikan pada saat itu, pertimbangan terakhir sebelum disampaikan, pesan kebenaran itu jika telah disampaikan harus menjadi kebaikan bagi semua. Tentu saja setelah pesan kebenaran disampaikan berarti pesan tersebut telah menjadi milik publik yang tidak selalu direspons secara positif. Apapun respons masyarakat terhadap pemberitaan dan informasi yang disampaikan, pihak Pontianak Post bertanggung jawab. Karena tanggung jawab tersebut, maka kerja jurnalistik harus memiliki kebebasan tanpa intervensi dari pihak manapun. Mereka sangat menyadari peringatan yang disampaikan Jakob Oetama bahwa “kehadiran media massa pada mulanya untuk kepentingan politik rezim yang berkuasa sehingga intervensi politik tidak bisa dihindari”, demikian tertulis pada pengantar buku karya Ishadi SK (2014) berjudul “Media dan Kekuasaan”.

Sebagai sebuah media massa, Pontianak Post bertahan dan bahkan berkembang sekarang ini karena adanya kesadaran menjunjung tinggi idealism dan prinsip jurnalistik, yakni menyajikan informasi untuk kepentingan publik dan pemberdayaan masyarakat, membangun dan menegakkan demokrasi, mencari kebenaran, melakukan koreksi dan kontrol sosial dan bersikap independen atas dasar prinsip; akurat, berimbang, adil, tidak beritikat buruk, tidak menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan opini pribadi, tidak menonjolkan unsur sadistik, tidak mempertentangkan suku, agama, ras, antar golongan, serta tidak membuat berita bohong, fitnah dan cabul.

Alasan lain yang membuat media massa kebanggaan masyarakat Kalimantar Barat ini tetap bertahan hidup dan bertambah maju karena budaya atau kultur belajar terus menerus yang sudah tumbuh pada diri pribadi insan pers dan perusahaan yang mengelola harian Pontianak Post ini.

Mereka sangat memahami dan menyadari bahwa keharusan untuk terus belajar itu adalah penting agar memiliki kemampuan dan ketrampilan adaptif, selanjutnya kemampuan adaptif adalah sumber kekuatan yang sesungguhnya. Misalnya,  mereka belajar dari apa yang telah dilakukan oleh NewsWeeks, sebuah majalah internasional telah melakukan perubahan radikal dari media cetak menjadi media digital-elektronik. Pada awalnya Pontianak Post terbit hanya dalam bentuk cetak di atas kertas koran sejenis duplikator, sekarang berkembang pesat, dimana pembaca dapat mengakses selain dalam bentuk cetak juga melalui PC masing-masing sehingga pembacanya meluas ke seantero dunia. Dengan demikian keinginan pembaca koran ini untuk memahami informasi secara cepat (elektronik) dan mendalam (cetak) dapat dipenuhi. Penulis adalah saksi hidup yang merasakan langsung dari manfaat Pontianak Post digital dimana penulis sering kali menerima komentar dan respons dari pembaca terhadap opini yang ditulis setiap Senin oleh saudara kita yang ada nun jauh di sana; di Washington DC Amerika Serikat, Kuching Serawak dan tempat lainnya.

Mengakhiri opini ini, penulis mengajak semua stakeholder koran ini agar menjadikan tiga kata kunci “Pertama dan Terutama di Kalimantan Barat” sebagai value atau nilai yang dijunjung tinggi, sumber inspirasi dan pemberi semangat kerja bagi insan pers demi eksistensi dan keberlanjutan media massa kepercayaan dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat ini (Penulis, Dekan FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Suksesi Kepemimpinan

Guru Inspiratif

Menguji Komitmen Kita

Memaknai Awal Perubahan

Pendidikan Indonesia Gawat Darurat