Ayo Kerja

Opini Ilmiah


Senin, 10 Agustus 2015 - 13:03:44 WIB | dibaca: 615 pembaca


Oleh: Aswandi
 
KATA “Kerja” telah digunakan oleh banyak pihak sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sumber pemberi semangat. Kemudian di saat 70 tahun Indonesia merdeka, kata “Kerja” tersebut dimunculkan kembali sebagai sebuah gerakan nasional, yakni “Ayo Kerja”. Barangkali diantara kita ada yang bertanya, ada apa dengan ethos kerja bangsa ini?.

Pesan penting yang ingin disampaikan oleh pemerintah adalah bangsa ini dirundung banyak masalah; mulai dari masalah kecil atau sederhana hingga masalah besar atau kompleks. Diyakini, Apapun masalahnya, kerja adalah jawabannya. Dan kerja yang sangat penting itu belum menjadi ethos atau etika masyarakat Indonesia sehingga bangsa ini tidak mampu atau sulit mengejar ketinggalannya dari bangsa-bangsa lain.   

Sebuah pembahasan mendalam pada Reader’s Digest (sebuah majalah terpopuler dan memiliki oplah terbesar di muka bumi) mengatakan bahwa Indonesia tidak akan dapat menjadi negara maju dalam waktu dekat karena “Indonesia has lousy work ethic and serious corruption”, terjemahannya “Indonesia mempunyai etika kerja yang cacat dan korupsi yang gawat”.

Etos (Ethos) adalah karakter, sikap, kebiasaan yang dipengaruhi oleh keyakinan atau kepercayaan. Menurut pandangan Islam Allah Swt memberikan balasan sesuai apa yang dikerjakan. Dan Islam sangat menghargai kerja keras. Dikisahkan tukang batu yang sangat kasar telapak tangannya, berotot lengannya, dan bercucuran deras keringatnya mencari nafkah untuk istri, anak dan keluarganya, dan tidak musyrik, tetap taat menjalankan kewajiban agamanya, kepadanya dijanjikan masuk surga.  Contoh lain, etos negara konfusianis (Korea Selatan, Taiwan. Hong Kong, dan Singapura) sering kali dirujuk sebagai “little dragons” atau ular naga kecil sebagai binatang mitologi dalam sistem kepercanaan mereka.

Pada suatu kesempatan, Bunda Theresa seorang suster mengabdikan dirinya di Calcuta mengatakan bahwa 1000 (seribu) kali kau berkhutbah belum tentu lebih bermakna dari pada satu kali kau bekerja menyapu di halaman rumah tetanggamu.
Max Weber meneliti secara mendalam, akhirnya menyimpulkan bahwa etika Protestan berpengaruh terhadap ethos kerja pemeluknya.

Bangsa Jepang dimana sebagian besar penduduknya beragama Budha, Shinto dan dipengaruhi oleh religi Tokugawa mengajarkan “Bosido” atau bekerja bersungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Kerja sangat penting dalam pembelajaran, Vernon A. Magnesen dan Edgar Dale guru besar pendidikan di Ohio State University mengatakan bahwa 90% hasil belajar bermakna diperoleh dari apa yang kita kerjakan. Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius mengatakan hal yang senada, “Yang saya dengar, saya lupa. Yang saya lihat, saya ingat. Yang saya kerjakan, saya paham”, dikutip dari Melvin L. Silberman (2006) dalam bukunya “Active Learning”.
Richard St. John (2011) dalam bukunya berjudul “8 to be Great”, mengemukakan satu dari delapan sumber sukses dalam hidup ini adalah kerja.

Orang sukses bekerja sangat keras. Tidak ada juara yang setengah hati, kata Maxwell. Vince Lambardi menyatakan hal senada “Semakin keras anda bekerja, semakin sulit anda menyerah”. Bekerja keras adalah uang pangkal bagi kesuksesan dan semua orang sukses bekerja sangat keras apapun bidang yang mereka geluti. Mereka bukan workaholik (kecanduan kerja), tetapi mereka workafrolik (penggemar kerja). Orang sukses menikmati pekerjaannya atau pekerjaan baginya adalah sebuah rekreasi seperti JK Rawling penulis buku “Harry Porter”. Carilah pekerjaan yang benar-benar paling anda sukai. Insyaallah anda akan sukses. Mereka bersenang-senang saat bekerja, dan mereka sering bekerja sampai larut. Bill Gates bekerja hingga jam 22.00 dan selama 7 tahun mengambil cuti hanya 15 hari saja. Oprah tiba di kantor jam 05.30 di saat langit masih gelap dan pulang 20.00 malam hari. Mereka bekerja 7 hari seminggu dan 14-16 jam sehari dan ada pula yang bekerja 90 jam seminggu. Guru di negeri ini kesulitan memenuhi jam kerja 24 jam seminggu, di negera maju guru bekerja 50 jam perminggu.
Kerja mengungguli bakat. Bakat tidak ada artinya tanpa adanya pembinaan melalui kerja, dan bakat bisa dipelajari. Henry Ford mengatakan “Kualifikasi utama untuk meraih kesuksesan dalam pandanganku adalah semangat kerja yang kuat”. Percayalah, melalui kerja keras anda terbayangkan semuanya yang diinginkan.

Kekhawatiran penulis lahirnya generasi pemalas di kota ini, maka wacana pemerintah Kota Pontianak melaksanakan 5 hari sekolah menurut penulis perlu dikaji dengan sungguh-sungguh, diimplementasikan melalui uji coba secara bertahap dan terbatas. Apabila berhasil baru diperluas ke sekolah-sekolah lainnya.

Bekerja saja tidak cukup, yang penting adalah bekerja keras, bekerja cerdas dan bertanggung jawab.
Dalam banyak kasus, kegagalan dan kemunduran sering terjadi bukan karena orang tidak bekerja, melainkan ethos dan kualitas kerja rendah, seperti: senang menunda pekerjaan, bekerja tidak focus dan tidak berdasarkan skala prioritas. Meminjam istilah Stephen R. Covey bekerjalah dengan “Mendahulukan yang Utama”. Sering terjadi, banyak pikiran, tenaga, waktu dihabiskan untuk pekerjaan yang kurang dan tidak penting, sementara pekerjaan yang penting terabaikan, dan sering mencari alasan pembenar jika dipermasalahkan kenapa mereka tidak bekerja, bermacam-macam saja alasannya; sudah tualah, tidak sekolahlah dan seterusnya.

Terkait dengan bekerja cerdas, Arnold Toynbee mengingatkan bekerjalah untuk merespons apa yang menjadi permasalahan dan tantangan yang sedang dan akan dihadapi”.

Bapak Winarno Surahmad, seorang tokoh pendidikan di negeri ini, pada satu kesempatan mengatakan, di negeri ini terlihat banyak orang sibuk atau bekerja mengurus pendidikan, namun kesibukan itu tidak membuahkan hasil, tidak menyelesaikan masalah yang ada, justru menimbulkan banyak masalah baru di bidang pendidikan. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen pendidikan (hampir semua fungsi manajemen pendidikan yang terdiri dari: perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan) belum berjalan secara efektif.

Dalam prespektif Islam dimana kerja adalah sebuah solusi. Dan Allah Swt berkali-kali berfirman dalam Al-Qur’an. menegaskan bahwa umat manusia memperoleh sesuai dari apa yang dikerjakan atau diusahakannya. Oleh karena itu ethos kerja dalam Islam setidaknya meliputi: (1) niat (komitmen) sebagai dasar nilai kerja, arti tinggi-rendah nilai kerja tergantung tinggi-rendah nilai niat atau komitmen yang dimilikinya; dan (2) ihsan dalam bekerja, dalam arti mengoptimalkan hasil kerja dengan jalan melakukan pekerjaan sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. Meminjam istilah Nurcholish Madjid (1992) dalam “Islam Doktrin dan Peradaban” menyatakan semestinya dipahami, “Aku Kerja, maka Aku Ada”. Semoga di usia 70 tahun Republik Indonesia ini menjadi awal baru bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat Indonesia akan pentingnya kerja keras, kerja cerdas dan bertanggung  jawab sebagai solusi mempercepat bangsa ini mengejar ketinggalannya dari bangsa-bangsa lain di dunia (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Thuma’ninah dalam Pembelajaran

Rumahku Pantiku

Publikasii Ilmiah Guru

Korban Salah Didik

Calon Guru Bersertifikat Pendidik