Ayam dan Merpati

Oleh: Aswandi - SELURUH isi alam semesta ini, terdiri: makhluk hidup seperti manusia, tumbuhan, dan binatang serta benda mati, seperti batu dan air adalah kitabullah. Dan kepadanya kita belajar banyak hal untuk kehidupan yang lebih bermakna. Allah SWT berfirman, “Ya Tuhan kami, tiada Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Imran: 191).

Secara jujur penulis nyatakan bahwa kelemahan pendidikan sekarang ini hampir di semua negara adalah pendidikan yang kurang bermakna dalam arti pendidikan yang terlepas dari kehidupan nyata. Oleh karena itu dalam banyak kesempatan, penulis sampaikan perlunya “Sekolah dan Universitas Kehidupan” yang mengajarkan kepada peserta didiknya tentang makna kehidupan di sekitarnya. Penulis memperoleh informasi, bahwa Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) pada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sedang mempersiapkan konsep “General Education” yang berisi tentang kehidupan nyata di masyarakat yang merupakan ancaman global, seperti; penyalahgunaan narkoba, teorisme dan radikalisme untuk wajib diajarkan kepada semua mahasiswa Indonesia.

Karena keterbatasan ruang opini ini, beberapa diantara jenis makhluk hidup dan benda mati menjadi sumber belajar penulis jelaskan secara singkat berikut ini. Sangat lazim dan semua kita tahu bahwa kepada manusia, kita berguru banyak hal. Kepada tumbuhan seperti bambu kita belajar beradaptasi atau menyesuaikan diri, perhatikan sekencang apapun angin bertiup, badai tornado sekalipun tidak mampu menumbangkan atau mencabut sebatang pohon bambu, pohon bambu menjadi sangat kuat dan sangat lentur karena memiliki akar yang kuat menunjang ke dalam perut bumi. Pada saat pohon bambu ditaman, ia tidak pernah mengeluarkan tunas dan daunnya sebelum akarnya tumbuh sempurna. Pembelajaran bermakna dari pohon bambu tersebut antara lain bahwa apa yang ada di dalam diri kita, seperti aqidah dan integritas atau karakter sangat menentukan dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi keberhasilan hidup manusia, kemudian diikuti faktor yang ada di luar dirinya. Dalam perjalanan sejarah umat manusia terbukti bahwa semua kekuatan itu berasal dari dalam  dan memiliki dampak penggiring sangat luas, Contohnya dalam sebuah peperangan kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar, seperti kemenangan Islam pada perang badr dan perang salib karena di dua perang tersebut pasukan terorganisasi dengan rapi di atas landasan atau pondasi aqidah yang kuat.

Kepada air manusia belajar antara lain tentang kepemimpinan dan kesehatan. Air mengalir ke semua arah pada tempat yang lebih rendah, dan batu yang dilewatinya membelah diri secara sempurna dan indah. Demikian pula perlakuan positif terhadap air membuat air membentuk kristal indah saat ia membeku, demikian kesimpulan riset Masaru Emoto sebagaimana tertulis dalam tiga bukunya; “The True Power of Water”, “The Secret Life of Water”, dan “The Hidden Messages in Water”.

Pembelajaran bermakna dari air tersebut bahwa setiap pemimpin efektif adalah pengikut yang efektif pula, selain sifat air yang ditamsilkan berpihak kepada kaum yang lemah atau dhu’afa, air mengajarkan kepada semua pemimpin agar berlaku adil tanpa diskriminatif dan bersikap menyejukkan atau santun kepada semua pengikutnya. Oleh karena itu kepada umat Islam dianjurkan untuk selalu dalam keadaan berwudhu’.

Sesuai judul opini di atas, berikut ini diuraikan secara singat dua jenis binatang unggas (Ayam dan Merpati) dimana kepadanya kita belajar banyak hal dalam kehidupan ini.

Ayam adalah jenis unggas yang tidak pernah setia dengan pasangannya dan tidak pernah puas dengan yang ada. Tidak ada kata puas dalam kamus ayam, dimana, kapanpun ada kesempatan langsung disikatnya.
Perhatian, setiap kali induk dan anak ayam diberi makan oleh Tuannya, maka akan terlihat induknya lebih dominan menyantap makanan, setelah makanan habis dimakan, iduknya tega memakan makanan yang sesungguhnya makanan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak ayam.

Ayam jantan hanya tahu menggauli tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Saat ayam betina mengerami telur dan merawat anaknya yang baru menetas, ayam jantan berselingkuh dengan pasangan barunya secara gonta-ganti. Setelah anaknya besar atau dewasa, induknya (ayam jantan) tega menyetubuhi anaknya, demikian sebaliknya anaknya yang telah dewasa itu juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyetubuhi ibunya ayam. Perilaku biadab ayam juga dilakukan oleh manusia sekarang ini. Ganti pasangan perselingkuhan sudah hal biasa di masyarakat kita. Lebih biadab lagi, seorang anak tega memperkosa ibu kandungnya sendiri seperti perilaku ayam tersebut di atas. Jadi, Ayam hanya enak untuk dimakan dan terdengar indah suara “Kokok” nya menjelang siang. Namun ada pendapat para ahli menyatakan bahwa, “makanan dan minuman yang dikonsumsi berpengaruh positif terhadap perilaku seseorang”, dicontohkan perilaku seseorang pengkonsumksi banyak sayuran berbeda dengan perilaku seseorang pengkonsumsi ikan laut.

Merpati adalah sejenis unggar yang sangat berjasa menyelamatkan Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar Siddiq ra dari kebiadaban kafir Quraisy saat beliau bersembunyi di Goa Tsur.

Merpati dikenal binatang yang sangat setia kepada pasangannya, dan menjadi lambang cinta dan kesetiaan, berbeda 180% dari ayam. Pepatah Francis menyatakan, “Merparti sangat setia, terutama kepada mereka yang sama bulunya”.

Ketika merpati betina hendak bertelur, merpati betina dan jantan bekerjasama mengumpulkan dan merajut jerami untuk persiapan bertelur. Pada waktu merpati betina mengerami telurnya, merpati jantan bertugas menjaganya dari berbagai ancaman. Selama mengerami telurnya, merpati betina sangat lelah dan lapar, merpati jantan menggantikan posisisi merpati betina mengerami telur tersebut, demikian seterusnya. Dari kejadian kecil ini manusia diajarkan tentang pentingnya bersikap peduli sesama, bukankah masih ditemukan banyak suami  tidak bisa berbuat apa-apa ketika diminta bantuan oleh istrinya. Master Ching Hai menyatakan, “Kita harus peduli pada orang lain dan itulah tujuan hidup yang sebenarnya. Semakin kita peduli terhadap orang lain, semakin kita mampu mengendalikan diri kita sendiri”.

Sebelum digunakan alat komunikasi modern seperti sekarang ini, burung merpati telah menjalankan fungsi komunikasi penting, baik dalam peperangan maupun surat menyurat. Ia mampu terbang dengan kecepatan 70km/jam dengan jarak tempuh 3.000 km, dan sifat lainnya, yakni mengetahui keadaan dan situasi di sekitarnya dan unggas yang dikenal tidak menaruh sifat dendam (Penulis, Dosen FKIP Untan)