Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya

Opini Ilmiah


Jumat, 18 April 2014 - 10:51:12 WIB | dibaca: 1004 pembaca



Ruang Kerja (Dekan FKIP Untan)

Ensiklopedi Brithanica memuat sebuah entry berjudul “Malay”, isinya menyatakan bahwa satu suku bangsa di dunia ini, salah satu suku penghuni negeri ini adalah pemalas, pandainya hanya bersolek, suka kenduri atau selamatan, dan masih banyak ungkapan penghinaan lainnya. Menepis asumsi merendahkan suku, dan bangsa ini, Syed Hussien Alatas seorang ilmuan berkebangsaan Malaysia menulis sebuah buku berjudul “Mitos Pribumi Malas”, artinya tuduhan pemalas tersebut hanyalah sebuah mitos atau kebenaran palsu yang diyakini oleh orang bodoh. Bapak Dahlan Iskan mengetahui informasi tidak menyenangkan tersebut. Beliau pelajari, kaji secara mendalam, akhirnya menyimpulan bahwa apapun permasalahan bangsa ini, hanya dapat diselesaikan dengan doa dan kerja. Keyakinan tersebut beliau ulang kembali saat mengakhiri presentasinya pada Konvensi Calon Presiden RI Partai Demokrat beberapa waklu lalu, dengan slogan “Kerja, Kerja, Kerja!”. Demikian pula pasangan bapak Sutarmiji dan Edy Kamtono saat kampanye pilwako Pontianak mengusung tema yang sama yakni, Kerja, Disiplin dan Amanah.

Richard St. John (2011) dalam bukunya berjudul “8 to be Great”, mengemukakan satu dari delapan sumber sukses dalam hidup ini adalah kerja.
Mereka yang tadinya miskin dan melarat, karena kerja keras dan kerja cerdas, akhirnya menjadi orang sukses. Sebaliknya, mereka yang tadinya sukses dan kaya, kemudian miskin dan melarat, juga karena kerja, arti intensitas dan kualitas kerjanya menurun. Dalam profesi apapun seseorang di dunia ini memperoleh kesuksesan dan keberhasilan atau menjadi sang juara melalui doa, kerja keras dan kerja cerdas. Kegagalan dan kemiskinan adalah milik para pemalas. Tidak ada juara yang setengah hati, kata Maxwell. Vince Lambardi menambahkan, “semakin keras anda bekerja, semakin sulit anda menyerah, dan tak seorangpun yang memberikan kemampuan terbaiknya pernah menyesalinya”, demikian kata George Halas. Albert Enstein mengatakan, “Ide and than action”.

Bekerja keras adalah uang pangkal bagi kesuksesan dan semua orang sukses adalah pekerja keras apapun bidang yang digelutinya.
Dampak dari kerja keras dan kerja cerdas tersebut tidak sebatas untuk keselamatan hidup di dunia saja, melainkan berlanjut untuk keselamatan hidup di akhirat kelak. Dalam kisah sufi, banyak ditemukan, seseorang buruk, pekerja batu misalnya, masuk surga karena kerja keras itu, ditandai ketika bersalaman dengannya, telapak tangannya terasa kasar karena ia bekerja keras untuk memberi nafkah bagi keluarganya.

Selain itu, seorang anak yang dari sejak kecil tidak dimanja, melainkan diajari kerja keras, maka anak tersebut setelah dewasa menjadi seorang anak yang sayang kepada kedua orang tuanya, karena ia memahami dan merasakan bahwa orang tua membesarkan mereka dengan susah payah, demikian sebaliknya, anak yang dimanja dan tidak diajari kerja keras dari sejak dini, maka setelah dewasa sering kali mereka durhaka terhadap kedua orang tuanya.
Para pekerja keras, bukan mereka yang kecanduan kerja (workaholic), melainkan mereka penggemar kerja (workafrolik).

Orang sukses menikmati pekerjaannya atau pekerjaan baginya adalah sebuah rekreasi seperti JK Rawling penulis buku “Harry Porter”. Carilah pekerjaan yang benar-benar paling anda sukai. Insyaallah anda akan sukses. Bersenang-senang saat bekerja, bukan hal yang mudah bagi siapapun. Mereka sering bekerja sampai larut malam. Bill Gates bekerja hingga jam 22.00 dan selama 7 tahun mengambil cuti hanya 15 hari saja. Oprah tiba di kantor jam 05.30 di saat langit masih gelap dan pulang 20.00 malam hari. Mereka bekerja 7 hari seminggu dan 14-16 jam sehari dan ada pula yang bekerja 90 jam seminggu. Guru di negeri ini diwajibkan memenuhi jam kerja 24 jam seminggu, jika tidak dipenuhi kewajiban tersebut, mereka kehilangan hak memperoleh tunjangan profesi, tunjangan fungsional dan maslahat tambahan. Lupakan Thank God It’s Friday (TGIF), Berpikirlah Thank God I am Working (TGIW). Tergesa-gesa dan bersiap-siap pulang di saat sore Jum.at (hari terakhir kerja di kantor setiap minggunya). TGIW tidak terganggu dan akhir pekan hampir terlupakan karena bagi mereka kesuksesan bukanlah milik mereka yang selalu melihat jam, kemudian berkata “Sebentar lagi kita pulang”. Kerja mengungguli bakat. Bakat tidak ada artinya tanpa adanya pembinaan melalui praktek atau kerja. Henry Ford raja otomotif mengatakan “Kualifikasi utama untuk meraih kesuksesan dalam pandanganku adalah semangat kerja yang kuat”.  

Kesuksesan bukanlah sesuatu yang permanen, melainkan perjalanan yang berkelanjutan. Kegagalan tidak apa-apa, jika kita mau belajar darinya. Kita belajar yang akhirnya sampai pada kesuksesan bukanlah melalui satu jalan atau satu pintu, melainkan melalui banyak jalan atau banyak pintu, yang terkadang jalan dan pintu tersebut tidak dibukakan untuk kita, Tapi karena kita sabar dan terus bekerja dan  mengusahakannya, akhirnya disana jalan dan pintu kesuksesan terbuka untuk kita. Modal sukses ini bukanlah sekedar sebuah cara untuk meraih kesuksesan, melainkan juga sebagai cara untuk mempertahankan kesuksesaan itu.

Banyak orang sering lupa bahwa pembelajaran terbaik atau efektif dan efisien adalah pembelajaran melalui kerja. 2.400 tahun lalu Confusius menyatakan bahwa “Yang kamu kerjakan, Kamu pahami”, sementara yang kamu lihat dan kamu baca, Kamu Lupa”. Roger C. Schank mengatakan, “Untuk mempelajari sesuatu, praktekkan”. Vernon A. Magnesen mengatakan 90% kita belajar dari apa yang kita katakan dan lakukan”.

Faktanya, mereka sudah bekerja keras, tetapi tidak membuahkan hasil. Hal ini diakui oleh bapak Winarno Surahmad, seorang tokoh pendidikan di negeri ini, pada satu kesempatan beliau mengatakan bahwa, di negeri terlihat banyak orang sibuk mengurus pendidikan, namun kesibukan itu tidak membuahkan hasil, menimbulkan banyak masalah baru, bukan menyelesaikan masalah yang ada, akibat dari penyelenggaraan pendidikan yang tidak direncanakan dengan baik, faktanya perencanaan pendidikan disusun tidak didasarkan pada permasalahan, dan fakta/data yang objektif, akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam pengertian lain, tidak merencanakan apa yang harus dilakukan atau melakukan apa yang tidak direncanakan.  

Padahal, sudah sejak lama Arnold Toynbee mengingatkan kita bahwa, “Kebangkitan atau kemajuan umat manusia sangat tergantung pada kemampuannya merespons apa yang menjadi permasalahan dan tantangan yang sedang dan akan dihadapinya”.

Jika semangat atau etos kerja keras sudah tumbuh, maka fasilitas kerja, seperti ruang kerja bukan sesuatu yang terlalu penting, penulis simpulkan demikian karena sering kali ditemukan para pemalas mencari dalih sebagai pembenaran atas kemalasannya. Kenyataan tidak demikian, seperti yang telah dicontohkan oleh bapak Habibie dan Dahlan Iskan (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memaknai Kembali Genius

Menjemur Kolor di Tempat Umum

Cerdas Menerima Kekalahan

Mal Praktek Pembelajaran

Melahirkan Generasi Pluralistik