Air dan Kepemimpinan

Oleh: Aswandi
 
TANPA disadari bahwa air dan kepemimpinan memiliki hubungan simbiotik  atau saling mempengaruhi, yakni air, dengan fungsi dan sifatnya memberi pembelajaran bermakna bagi seorang pemimpin, sebaliknya perlakuan manusia terhadap air akan mempengaruhi kualitas wujud air yang dimanfaatkannya.

Sebagaimana diketahui bahwa air secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen, fungsinya sangat penting bagi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari total berat badannya, bahkan ada diantara organ tubuh manusia mengandung air lebih banyak lagi, seperti; otak 74,5%, ginjal 82,7%, otot 75,6%, dan darah 83%. Maknanya, air adalah sumber penting bagi kehidupan manusia, sama halnya kepemimpinan merupakan faktor utama bagi keberhasilan perubahan seseorang dan organisasi. John Kotter (1997) dalam bukunya “Leading Change” mengatakan bahwa perubahan yang sukses melibatkan antara 70% sampai 90% kepemimpinan. Kurangnya kepemimpinan membuat tidak adanya kekuatan di dalam organisasi untuk mengatasi berbagai kekacauan”.

John C. Maxwell (2006) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership”  mempertegas asumsi di atas, ia mengingatkan ”dapat anda temukan orang yang cerdas, bertalenta, serta sukses studi yang hanya sedemikian prestasinya karena keterbatasan dalam kepemimpinannya”.

Terlepas dari fungsi air bagi kehidupan semua makhluk di muka bumi ini, melalui sifatnya, air menjadi sumber pembelajaran yang bermakna bagi seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut.

Air menempati ruang, maknanya adalah jika seseorang terpilih menjadi seorang pemimpin, maka ia adalah milik semua, sekat-sekat dan tembok primordialisme yang sebelumnya barangkali sudah ada dan sengaja diciptakan, ia harus menciptakan jembatan untuk menghubungkan semua ruang termasuk mahkluk yang ada di dalamnya.   

Air memiliki berat dan melarutkan beberapa zat, maknanya, seorang pemimpin harus menyadari bahwa pikiran, sikap dan tindakannya memberi pengaruh besar terhadap pikiran, sikap dan perilaku pengikutnya.

Air meresap melalui celah kecil dan mengalir ke tempat yang lebih rendah, sifat air tersebut mengingatkan kepada semua pemimpin bahwa sebuah keberhasilan melalui langkah-langkah kecil. Tidak ada seorangpun mencapai prestasi atau sukses besar yang tidak memulainya dari langkah-langkah kecil. Selain itu, seorang pemimpin efektif adalah mereka yang memperhatikan rakyat kecil, wong cilik dan para kaum dhua’afa ibarat semua gerbong kereta api akan tiba di tujuan karena dihubungkan oleh rantai kecil yang menjadi tali pengikat yang sangat kuat antar gerbong.   

Sifat air lainnya, permukaan air yang tenang selalu datar, maknanya adalah rasa tenang di tengah masyarakat sebagai dampak dari sikap adil seorang pemimpin, demikian sebaliknya gejolak di tengah masyarakat akibat dari kepemimpinan yang tidak adil.

Air menekan ke segala arah, sifat air tersebut mengingatkan kepada seorang pemimpin untuk memberdayakan semua orang yang dipimpinnya dari semua arah angin tanpa membedakan etnisitas, seperti; ras, agama, suku, dan asal usulnya.

Air dapat berubah wujud; gas, uap, dan es, maknanya bagi seorang pemimpin bahwa keberhasilan dalam melaksanakan perannya karena sifat fleksibel yang dimilikinya, dan ia mampu beradaptasi sesuai kondisi masyarakatnya.

Dan air membelah batu yang dialirinya sangat halus, beda sekali pecahan batu karena pukulan benda keras. Dari sifat air tersebut mengingatkan kepada semua pemimpin agar berlaku baik terhadap semua pengikutnya.

Masaro Emoto (2006) dalam tiga seri bukunya “The True Power of Water, The Secret Life of Water, dan The Hidden Massages in Water” memberikan informasi bahwa perlakuan terhadap air memberi dampak terhadap jiwa dan raga yang menggunakannya. Misalnya, jika kita perlakuan air dengan kata santun dan lemah-lembut, maka ketika air itu membeku akan membentuk kristal indah dan sempurna, demikian sebaliknya, jika kita berkata tidak sopan dan kasar kepadanya, maka saat membeku, air tersebut membentuk batu es kasar pula. Riset tentang kekuatan tersembunyi pada air tersebut mengajarkan kepada kita agar berakhlak mulia kepada air.

Bagi umat Islam, air juga digunakan untuk berwudhu yang semestinya tidak hanya dimaksudkan untuk membasuh dan membasahi bagian tubuh kita, melainkan kita niatkan agar bagian jasad yang dibahasi air itu menjadi bersih, indah dan suci pula. Oleh karena itu, jangan heran ketika melihat mereka yang rajin berwudhu dan taat sholatnya, akan terlihat wajahnya memancar kristal indah. Namun sayangnya masih banyak diantara kita tidak berakhlak mulia kepada air, kita gunakan dan perlakukan air yang sejuk itu secara kurang beradab (Penulis, Dosen FKIP Untan)