Agama Tidak Diajarkan

Opini Ilmiah


Jumat, 20 November 2015 - 07:37:14 WIB | dibaca: 440 pembaca


Oleh: Aswandi
 
JUDUL opini di atas disarikan dari sebuah asumsi bahwa ”Agama Tidak Diajarkan Secara Efektif di Lembaga Pendidikan Umum, terutama kepada Peserta Didik dari Kalangan Agama Minoritas”. Undang-undang mengamanahkan bahwa pendidikan agama wajib diajarkan di lembaga pendidikan dengan maksud membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

Dalam kurun waktu 20 tahun ini, penulis mengamati pembahasan amandemen UUD RI, dua UU RI tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dari pengalaman mengamati proses pembahasan undang-undang tersebut di DPR RI dimana dalam pembahasannya menyita waktu cukup lama dan alot, tentu saja banyak uang dihabiskan untuk membayar persidangan terfokus pada pembahasan satu ayat dari sekian ratus ayat, yakni ayat tentang “hak setiap peserta didik memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinannya dan kurikulum pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi wajib memuat pendidikan agama”, Ini pertanda bahwa semangat dan keinginan rakyat Indonesia yang diwakili oleh anggota dewan terhormat agar pendidikan agama diajarkan di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan sangat besar.

Kenyataannya, sejak lama penulis amati pendidikan agama belum diajarkan secara efektif, baik pada jenjang persekolahan maupun perguruan tinggi umum, terutama bagi peserta didik dari prespektif penganut agama yang jumlahnya minoritas. Sering dikatakan, tidak ada paksaan dalam beragama dan undang-undang mengatur, setiap warga negara memiliki kebebasan memeluk dan menjalankan perintah atau keyakinan agamanya. Memang, tidak ada paksaan dalam beragama, tetapi bukan berarti tidak terpaksa. Oleh karenannya, jangan heran apabila peserta didik dari kalangan agama minoritas di sebuah sekolah memperoleh nilai pendidikan agama tertinggi, jauh melebihi nilai pendidikan agama peserta didik dari kalangan agama mayoritas dimana pendidikan agama mayoritas itu diajarkan.   

Selain persoalan agama tidak diajarkan secara efektif pada peserta didik dari kalangan agama minoritas. Fenomena lainnya adalah minat siswa mengikuti pelajaran agama sangat rendah (hasil studi Analitycal and Capacity Depelovement Partnership sebagaimana dikutip Harian Republika, 5 Nopember 2015). Bapak Kamaruddin Amin selaku Dirjen Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama menanggapi fenomena kurang diminatinya pendidikan agama oleh peserta didik dampak dari metode pembelajaran yang monoton, tidak interaktif dan menurut beliau sudah saatnya diubah. Prof. Abuddin Nata mengatakan hal ini terjadi karena perubahan paradigm kehidupan ke pragmatis. Penulis sependapat, persoalan atau masalah penyelenggaraan pendidikian agama terdapat di berbagai aspek. Dalam banyak kajian dan literatur penulis temukan bahwa ketidakefektifan pendidikan agama berakar dari kesalahan teologis dalam memaknai ilmu pengetahuan, kemudian melebar ke masalah metafisik atau ontologis, epistemologis dan aksiologis hingga masalah kurangnya jumlah guru dan dosen agama akibat kurangnya perhatian pemerintah dalam pengangkatan guru dan dosen agama, khususnya pendidik agama dari kelompok agama minoritas. Dalam rangka revitalisasi pendidikan agama, penulis pernah sampaikan kepada teman dosen agama, bahwa isi pembelajaran (subject matter) pendidikan agama di perguruan tinggi umum sebaiknya bersifat inklusif dan strategi pembelajaran dapat dilakukan, antara lain menggunakan pendekatan konstruktivistik.

Agar pembiaran terhadap pendidikan agama bagi peserta didik dari kalangan agama minoritas di lembaga pendidikan umum dan ketidakefektifan pembelajaran agama tidak berlarut-larut dan segera diakhiri, mesti ada upaya untuk menyelesaikan persoalan serius dan mendesak ini, baik oleh pemerintah dan pemerintah daerah maupun oleh satuan pendidikan.

Alhamdulillah, Universitas Tanjungpura (UNTAN) tidak membiarkan hal ini terus terjadi, berusaha semampunya untuk menutupi kelemahan dan keterbatasan selama ini atas prinsip pendidikan agama harus diselenggarakan seefektif mungkin, antara lain; (1) mengatasi kekurangan dosen agama untuk sementara waktu, melibatkan dosen umum yang memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Keputusan Dirjen Dikti Kemendiknas, No. 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi”, yakni; (a) dosen berijasah magister (S2) di bidang agama; (b) apabila belum tersedia dosen berkualifikasi magister (S2) dapat diangkat dosen berkualifikasi sarjana (S1) di bidang agama yang dinilai memiliki kompetensi oleh perguruan tinggi yang bersangkutan; dan (c) cendekiawan agama yang memiliki kompetensi sebagai dosen, atau seseorang yang direkomendasi oleh lembaga pendidikan keagamaan dan/atau lembaga keagamaan untuk mengajar pendidikan agama di program studi, jurusan dan fakultasnya masing-masing melalui koordinasi MKDU UNTAN. Alhamdulillah dosen umum yang memiliki pengetahuan keagamaan dan semangat beramar makruf dan bernahi mungkar sangat meminatinya; (2) mengintegrasikan pendidikan agama ke dalam pendidikan karakter (Pendikar), diikuti oleh mahasiswa baru selama satu semester dan memperoleh 1 (satu) sks mata kuliah pendidikan agama setelah mereka mengikuti; (a) kehadiran (10%), (b) tugas struktur (20%) bagi mahasiswa muslim, misalnya; ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling tolong menolong), takafur (senasib sepenanggungan dan itsar (mengutamakan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri); (c) ujian kompetensi (30%) dan (d) aktivitas ibadah harian (40%) (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Bukan Kelas Dua

IPK; Mitos atau Realitas

Menambah Jam Belajar

Pendidikan Bela Negara

Karakterku adalah Kebiasaanku