Adopsi Inovasi Sekolah

Opini Ilmiah


Senin, 22 Agustus 2016 - 09:20:06 WIB | dibaca: 340 pembaca


Oleh: Aswandi - MUNCULNYA gagasan Full Day School (FDS) berawal dari keinginan bapak Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) selaku pembantu Presiden RI yang harus menjalankan visi dan misi presiden sebagaimana terdapat dalam nawa cita yang di dalamnya memuat ada perintah untuk melakukan revolusi mental bangsa, seperti; jujur, mandiri, berdaulat, kreatif dan cinta tanah air. Menurut beliau untuk mewujudkan maksud tersebut tidak bisa disisipkan semuanya ke dalam mata pelajaran yang waktunya sangat terbatas, perlu memperpanjang anak berada di sekolah untuk pelaksanaan pendidikan karakter tersebut melalui kegiatan co-kurikuler dan ekstra-kurikuler, dikutip dari Pontianak Post, 10 Agustus 2016.  

FDS yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir-akhir ini digagas dari Finlandia yang dinilai Bapak Muhadjir Effendy memiliki sumber daya manusia terbaik karena para siswanya diberi pendidikan karakter secara efektif.

Menurut penulis gagasan inovasi yang menarik perhatian banyak orang ini sesungguhnya adalah persoalan adopsi inovasi sekolah, terutama pada persoalan difusi inovasi sekolah.

Sikap penolakan masyarakat terhadap sebuah inovasi adalah hal biasa, dapat dimaklumi dan dimengerti adalah dampak atau akibat dari ketidaktahuan mereka tentang sebuah inovasi. Sebagaimana diketahui, bapak Menteri belum selesai atau tuntas berbicara tentang konsep FDS tersebut, penolakan masyarakat terjadi di mana-mana, tentu sikap mereka berbeda jika memahaminya.   

Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang atau satuan pengguna lainnya. Kebaruan suatu inovasi tidak sekedar “baru mengetahui”. Seseorang mungkin telah cukup lama mengetahui atau mengenal suatu inovasi tetapi belum menentukan sikap terhadapnya, atau belum mengadopsi atau menolaknya. Aspek “kebaruan” suatu inovasi bisa diny, atakan dalam batas pengenalan, persuasi, atau keputusan menggunakannya.

Penolakan terhadap inovasi dijelaskan Everett Rogers (2005) dalam bukunya “Diffusion of Innovations”, ia menyatakan terdapat lima kategori adopter dalam mensikapi setiap inovasi, yakni: (1) inovator, yakni setiap individu atau kelompok yang selalu bergairah untuk mencoba ide-ide baru, minat yang sangat besar untuk keluar dari kotak (out of the box) atau zona kenyamanan, jumlahnya sedikit, hanya sebesar 2,5%; (2) pemula (early adopter), yakni sekelompok orang yang pertama menerima inovasi setelah memahaminya dengan baik, mereka pendukung utama sang inovator, jumlahnya sebesar 13,5%; (3) early mayority atau kelompok orang yang lebih berhati-hati menerima inovasi sebelum rata-rata anggota sistem sosial ikut serta mendukung inovasi tersebut, ikut mendukung inovasi karena melihat orang lain mendukungnya, jumlahnya sebesar 34%; (4) late mayority, kelompok skeptis ini menerima inovasi setelah mempertimbangkannya secara ekonomi dan jawaban atas tekanan sosial yang semakin kuat, meminjam istilah bapak Amien Rais, kelompok ini dikenal sebagai “Kancil Pilek” atau hanya cari selamat, jumlahnya sebesar 34%; dan (5) laggard, yakni kelompok orang yang tetap saja membangkang adanya inovasi, jumlah mereka sebesar 16%. Jeanie Daniel Duck (2001) dalam bukunya “The Change Monster” secara tegas menyatakan setiap ada perubahan atau inovasi selalu ada monster perubahan dan pembunuh inovasi, yakni segala kekuatan manusia dalam berbagai wujudnya, baik secara individu maupun berkelompok berupaya memperkeruh dan menggagalkan transformasi atau perubahan (inovasi) yang sedang digagas”.

Bagi mereka yang memiliki DNA Inovator yang baik semestinya tidak bersikap apriori dan negatif atau menolak sebuah gagasan inovasi sebelum memahaminya secara mendalam, melainkan bersikap positif terhadap setiap adanya inovasi atau perubahan yang terjadi itu. Sikap positif yang dimaksud antara lain; mengasosiasikan suatu inovasi dengan sesuatu konsep yang sudah ada sekalipun konsep tersebut berbeda, mempertanyakan lebih jauh mengenai sebuah inovasi, mengamati, melakukan jejaringan dan melakukan percobaan, demikian Dyer, Gregersen, Christensen (2013) dalam bukunya “The Innovator’s DNA”.

Sikap masyarakat terhadap setiap adopsi inovasi, termasuk adopsi inovasi sekolah yang sedang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekarang ini sangat ditentukan oleh keefektifan “Proses Difusi Inovasi”, dalam arti mengefektifkan proses pengkomunikasian suatu inovasi melalui saluran-saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu di kalangan anggota suatu sistem sosial, terutama pada proses keputusan adopsi inovasi sekolah, meliputi lima langkah berikut ini; (1) pengenalan, terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan adanya inovasi dan memahami bagaimana inovasi itu berfungsi; (2) persuasi, terjadi ketika seseorang menyikapi inovasi, baik suka atau tidak; (3) keputusan, terjadi ketika seseorang terlibat dalam kegiatan yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi; (4) pelaksanaan atau implementasi, berlangsung ketika seseorang menerapkan penggunaan inovasi dalam praktek atau dalam penyelenggaraan pendidikan di lingkungan persekolahan dan tidak mustahil penyempurnaan dari inovasi sekolah dilaksanakan pada langkah implementasi ini; dan (6) konfirmasi, terjadi ketika seseorang mencari penguatan (reinforcement) terhadap keputusan inovasi yang telah dibuat.

Keceptan masyarakat atau sistem sosial mengadopsi suatu inovasi sangat ditentukan oleh; (1) sifat inovasi, yakni: keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercocokan dan keteramalan; (2) tipe keputusan inovasi; optional, kolektif dan otoriter; (3) saluran komunikasi yang digunakan; media massa atau antar pribadi; (4) sifat sistem soosial; nilai dan norma; dan (5) gencarnya agen pembaharu dalam mempromosikan inoviasi.   

Jadi penolakan sebagian masyarakat terhadap gagasan bapak Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Full Day School (FDS) lebih disebabkan oleh tidak berfungsi secara efektif proses difusi adopsi inovasi  sekolah yang digagasnya sebagaimana kerangka teoretik tersebut di atas. Penulis mengenal beliau cukup lama dan menaruh keyakinan bahwa beliau yang selama ini kami kenal sebagai seorang inovator sangat memahami sikap masyarakat terhadap gagasan FDS ini. Dalam banyak kesempatan beliau mengatakan, “Jika FDS ini belum dapat dilaksanakan, saya akan menarik rencana itu dan mencari pendekatan lain. Masyarakat harus mengkritik gagasan ini, jangan keputusan sudah dibuat kemudian merasa tidak cocok” (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Penyakit Merasa Diri Penting

Harapan Hidup Bermakna

Ayam dan Merpati

Penyakit Hedonisme

Pertanyaan adalah Jawaban