2014 Tahun Kepemimpinan

Opini Ilmiah


Selasa, 08 April 2014 - 10:38:40 WIB | dibaca: 408 pembaca



Oleh: Aswandi

DI tahun 2014 ini akan diselenggarakan dua perhelatan akbar, yakni pemilihan umum (pemilu) yang bertujuan memilih wakil-wakil rakyat yang akan menjalankan tugas kenegaraan di lembaga legistatif atau dewan perwakilan rakyat, dan selanjutnya memilih presiden Republik Indonesia untuk masa bakti lima tahun ke depan. Dua peristiwa penting di bidang politik di tahun 2014 tersebut, orang pun menyebutnya, tahun 2014 sebagai tahun politik. Penulis sendiri, menyebutnya sebagai tahun kepemimpinan. Bagi dunia pendidikan, peristiwa politik tersebut sangat penting dan strategis, karena penyelenggarakan pendidikan pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari konsensus politik.
Indonesia ke depan adalah Indonesia yang lebih baik. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan terpercaya melalui proses pemilui yang jurdil.

Blanchard dan Miller (2005) dalam bukunya “The Secret” menegaskab bahwa “Segala sesuatu bangkit dan jatuh karena kepemimpinan”.
Kotter (1997) mengatakan bahwa perubahan yang sukses melibatkan antara 70% sampai 90% kepemimpinan. Kurangnya kepemimpinan membuat tidak adanya kekuatan di dalam organisasi untuk mengatasi berbagai kekecauan.  Larry Greiner penggagas Dynamic Model of Organizational Social Structure sebagaimana dikutip oleh Hatch (1997) mengatakan bahwa pada setiap fase perubahan selalu terjadi krisis dan krisis kepemimpinan merupakan awal dari keseluruhan krisis yang akan terjadi pada perubahan organisasi. Senada dengan pendapat tersebut Mitchell and Larson (1987) mengatakan bahwa faktor kepemimpinan merupakan inisiator bagi perubahan perilaku kelompok.
Sementara, John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” menegaskan bahwa “ukuran sejati dari kepemimpinan adalah pengaruh (influence), tidak lebih, tidak kurang”.

Dalam sebuah institusi, seperti sebuah negara, pemimpin adalah orang yang mempunyai kedudukan kewenangan yang bertanggung jawab atas hasil orang-orang yang berada di bawah perintahnya. Namun ada pendapat lain menyatakan sebaliknya, bahwa kepemimpinan sejati sama sekali tidak ada hubungannya dengan jabatan seseorang dalam organisasi karena kepemimpinan dalam prakteknya lebih tentang apa yang tidak dilihat orang lain dari pada apa yang benar-benar dapat mereka lihat. Oleh karena itu, sering kali dikatakan bahwa kepemimpinan mempunyai dua unsur penting, yakni keberadaan atau legitimasi dan perbuatan atau tindakan yang oleh sebagian pakar dianggap lebih penting, sepert; Lou Tsu menyatakan bahwa pemimpin yang baik adalah ketika orang tidak merasakan keberadaan atau posisi dalam jabatannya. Sehubungan hal tersebut, pertanyaan utama yang harus terus menenerus dalam diri setiap orang yang merasakan dirinya seorang pemimpin adalah apakah saya seorang pemimpin yang melayani pengikut atau seorang pemimpin yang melayani diri sendiri. Leroy Eimes menytakan “A leader is one who sees more than others see, who sees farther than others see, and who sees before others see”;

Selanjutnya, kepemimpinan efektif berada di bawah landasan kepercayaan, artinya kepercayaan adalah landasan dari kepemimpinan. Dikatakan bahwa, “Orang percaya dulu kepada sang pemimpin, baru kepada visinya”. Sang pemimpin menemukan impiannya baru pengikutnya. Pengikut menemukan  pemimpinnya baru impiannya. Orang takkan mengikuti tujuannya terlebih dulu. Mereka mengikuti pemimpin yang dapat dipercaya, yang melontarkan tujuan yang layak.
Orang ingin mengikuti orang-orang dengan siapa mereka akur.
Dalam memperoleh kepemimpinan, seseorang tak dapat mengambil jalan pintas, seberapa lamapun sudah memimpin. Untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memberikan teladan dalam berbagai kualitas, seperti: kemampuan, koneksi, dan karakter. Orang akan memberikan toleransi terhadap kekeliruan yang jujur, namun jika Anda melanggar kepercayaan mereka, akan sulit mendapatkan kepercayaan mereka kembali.Semakin banyak orang percaya kepada pemimpinnya, maka kepemimpinan tersebut semakin efektif.

Ken Blanchard dan Mark Miller (2010) dalam bukunya “The Secret” menyatakan pertanyaan utama yang terus menerus Anda ajukan kepada diri sendiri ialah “Apakah saya seorang pemimpin yang melayani atau seorang pemimpin yang melayani diri sendiri”. Satu-satunya hal yang keluar dari kubur bersama orang-orang yang berkabung dan tidak mau dikuburkan adalah karakter seseorang. Jika karakter telah hilang, maka Anda telah kehilangan semua, demikian Wee Kim Wee, mantan presiden Singapura. Ini benar. Karakter seseorang takkan pernah dapat dikuburkan. Bruce Lee menambahkan bahwa pengetahuan membuat Anda kuat, karakter membuat Anda terhormat.
Penelitian membuktikan, sumber utama kepercayaan adalah; (1) kejujuran; (2) visioner; (3) inspiratif; dan (4) cakap, dikutip dari James M. Kouzes dan Barry Z. Posner (1997) dalam bukunya “Credibility”;

Selain itu, yang harus diingat oleh setiap pemimpin bahwa orang dengan sendirinya mengikuti pemimpin-pemimpin yang lebih kuat dari pada dirinya
Jika orang menghormati seorang sebagai  individu, mereka mengaguminya. Jika mereka menghormatinya sebagai sahabat, mereka mengasihinya. Jika  mereka menghormati seseorang sebagai pemimpin, mereka mengikutinya.

Kepemimpinan adalah representatif pemilihnya, Apapun yang kita lihat dari sosok seorang wakil rakyat dan presiden, demikianlah gambaran masyarakat atau pengikutnya. Jika wakil rakyat dan presidennya baik, berarti baik pula rakyatnya, demikian sebaliknya, jika masih ditemukan wakil rakyat pencuri (koruptor) dan yang dicuri uang rakyatnya sendiri layaknya setan, maka banyak pendapat menyatakan bahwa perilaku negatif tersebut adalah sebuah gambaran dari karakter rakyat pemilihnya, barangkakali pemilih yang takluk akibat pengaruh politik transaksional murahan dan merusak iklim demokrasi yang marak akhir-akhir ini.
Kembali, John C. Maxwell (2001) menyatakan hukum proses dalam kepemimpinan, bahwa kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam sehari
Artinya, pemimpin yang sukses adalah seorang yang belajar.

Para pemimpin besar dan pemimpin sejati tidak menjadi orang besar dalam sekejab, atau dalam satu tahun atau satu bulan. Mereka menjadi pemimpin besar sehari demi sehari sepanjang hidupnya, kemampuan kepemimpinan meningkat dan mereka belajar menjadi pemimpin di sekolah dan universitas kehidupan, dimulai dari lingkungan sekitarnya, seperti keluarga, sekolah dan masyarakat.

Terkait uraian di atas, maka ketika rakyat harus memilih pemimpinnya, maka harus memperhatikan integritas dan kapabilitas. Pilih yang kuat lagi terpercaya. Jangan mudah percaya terhadap apa yang dijanjikan dan diberikannya di saat ia ingin menjadi pemimpin, misalnya di saat mereka melakukan sosialisasi atau berkampanye, lebih lebih akuran jika pemilih mampu memperhatikan rekam jejaknya, tentu hal ini tidak mudah, bertanyalah kepada banyak orang yang dapat dipercaya, terutama kepada orang yang ada di sekitarnya, pernah bermusafir bersamanya dan pernah berniaga dengannya, demikian nasihat Umar seorang khalifah (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundatin)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Sosok Utuh Guru Professional

Mendidik dengan Cinta

Edaran Dirjen Dikti no.177/2014 tentang Usulan Kenaikan Pangkat/Jabatan Dosen

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES 2014)

Rekapitulasi Administrasi Ujian Skripsi